USS Abraham Lincoln Tinggalkan Tailan Usai Lima Hari Singgah

USS Abraham Lincoln saat bersandar di Laem Chabang usai 286 Hari di Laut (foto: reuters/mistar)
Bangkok, MISTAR.ID - Kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln meninggalkan Tailan setelah menjalani kunjungan pelabuhan selama lima hari. Ribuan awak kapal mendapat kesempatan beristirahat dan berekreasi setelah menjalani penugasan panjang selama sekitar sembilan bulan di laut.
Dilansir AFP, Minggu (6/9/2026), sekitar 5.000 awak USS Abraham Lincoln tiba di perairan sebelah utara Pattaya, dekat Bangkok, Rabu lalu. Kapal tersebut kemudian bersandar di Pelabuhan Laem Chabang untuk menjalani masa istirahat.
Kehadiran ribuan pelaut AS tersebut turut memberikan angin segar bagi sektor pariwisata dan usaha lokal di Pattaya. Kota yang dikenal dengan kawasan pantai dan kehidupan malam itu tengah berada dalam periode kunjungan wisata yang relatif sepi.
Berdasarkan laporan AFP, USS Abraham Lincoln meninggalkan Laem Chabang sekitar pukul 11.00 waktu setempat atau 04.00 GMT. Pelabuhan tersebut berjarak sekitar 30 menit perjalanan darat dari Pattaya.
Selama kunjungan para awak kapal, aparat keamanan Tailan meningkatkan pengawasan di kawasan Pattaya. Polisi juga melakukan sejumlah penertiban terhadap pekerja seks menjelang kedatangan para pelaut AS. Namun, wali kota setempat membantah bahwa langkah tersebut berkaitan langsung dengan kunjungan kapal perang Amerika.
Kepala Polisi Pattaya Anek Srathongyoo mengatakan kunjungan tersebut secara umum berlangsung aman dan tidak menimbulkan persoalan berarti.
"Semuanya berjalan lancar," ujar Anek kepada AFP. "Tidak ada penangkapan ataupun pertengkaran, kecuali pada hari pertama saat terjadi perselisihan di antara sesama orang Amerika," katanya.
Sebelumnya, Anek mengatakan dua pelaut USS Abraham Lincoln sempat dipulangkan ke kapal setelah terlibat pertengkaran dalam kondisi mabuk pada Kamis dini hari di sekitar Walking Street, kawasan hiburan malam Pattaya.
Ia menyebut kejadian tersebut sebagai perkelahian kecil yang tidak sampai berkembang menjadi persoalan serius. Polisi setempat turun tangan setelah menerima laporan warga yang khawatir perselisihan tersebut semakin besar.
Kunjungan ke Tailand berlangsung di tengah sorotan terhadap kondisi kehidupan para awak USS Abraham Lincoln setelah menjalani pengerahan panjang.
Kapal tersebut tiba di kawasan Timur Tengah pada Januari lalu dan sejak itu mendukung operasi militer AS terhadap Iran, termasuk kegiatan blokade laut terhadap pelabuhan dan kapal milik Teheran.
Laporan Military Times dan Stars & Stripes yang terbit pekan lalu menyoroti sejumlah persoalan yang disebut terjadi di atas kapal. Di antaranya kerusakan sistem saluran air, masalah sanitasi, keterbatasan makanan segar serta minimnya kesempatan bagi awak kapal untuk turun ke daratan.
Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran dari keluarga personel yang bertugas di USS Abraham Lincoln, khususnya terkait kesehatan mental. Sejumlah laporan bahkan menyebut adanya personel yang mencoba melompat ke laut.
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian di Washington DC. Sebanyak 13 anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS dari Partai Demokrat mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk meminta penjelasan mengenai lamanya pengerahan USS Abraham Lincoln serta kondisi para personelnya.
Hegseth membantah gambaran mengenai kondisi buruk di kapal tersebut. Ia menyebut sejumlah laporan yang beredar telah menggambarkan situasi secara keliru.
Presiden AS Donald Trump juga menepis kekhawatiran mengenai lamanya pengerahan kapal induk tersebut. Saat ditanya mengenai durasi penugasan USS Abraham Lincoln, Trump menjawab, "Masih jauh dari kata cukup lama."





















