250 Hari di Laut Tanpa Berlabuh, 5.000 Awak USS Abraham Lincoln Serbu Pattaya

USS Abraham Lincoln di Pelabuhan Laem Chabang (foto: AP/Sakchai Lalit)
Pattaya, MISTAR.ID - Setelah mencatat rekor 250 hari berlayar tanpa singgah di pelabuhan, kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln akhirnya berlabuh di Tailan. Hampir 5.000 awaknya mendapat kesempatan beristirahat setelah menjalani penugasan panjang, termasuk di kawasan konflik Timur Tengah.
Kapal induk Amerika Serikat (AS) itu berlabuh di dekat Pattaya, Tailan, kota wisata pantai yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Kehadiran ribuan pelaut AS pun menjadi angin segar bagi pelaku usaha lokal yang belakangan terdampak lesunya pariwisata dan konsumsi akibat Perang Iran.
USS Abraham Lincoln berangkat dari San Diego pada November 2025 untuk menjalani penugasan yang semula direncanakan berlangsung enam bulan di kawasan Pasifik dan Laut China Selatan.
Namun, kapal tersebut kemudian dialihkan ke kawasan Teluk setelah AS dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Penugasan yang lebih panjang dari rencana itu sempat memunculkan laporan mengenai kondisi sulit di atas kapal, mulai dari kekurangan makanan, toilet rusak hingga tekanan mental yang dialami awak.
Sejumlah anggota Kongres AS bahkan menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi tersebut. Angkatan Laut AS mengakui penugasan berlangsung berat, tetapi memastikan para awak mendapat dukungan yang memadai.
Kini, Pattaya menjadi tempat mereka melepas penat.
Bagi kota tersebut, kedatangan militer AS juga menghidupkan kembali jejak sejarah era Perang Vietnam. Sekitar 50 hingga 60 tahun lalu, ratusan ribu tentara Amerika datang ke Pattaya untuk menjalani R&R atau rest and relaxation.
Kehadiran mereka ikut mengubah Pattaya dari desa nelayan menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Tailan.
Pelaku usaha setempat berharap ribuan awak USS Abraham Lincoln dapat membantu menggerakkan ekonomi kota.
"Kunjungan ini bisa menjadi harapan terbaik kami," kata Anon Saiteer, penjual batu permata di kawasan Walking Street, dikutip dari BBC.
Tokonya memasang papan besar untuk menyambut pelaut dan marinir AS serta menawarkan potongan harga khusus.
"Kami hanya berharap mereka membelanjakan uang di sini," ujarnya.
Meski demikian, pemerintah Tailan dan militer AS menerapkan sejumlah pembatasan selama kunjungan tersebut.
Personel AS dilarang mendatangi beberapa lokasi hiburan, termasuk Soi 6 yang dikenal dengan deretan bar go-go. Toko ganja juga masuk daftar terlarang.
Aktivitas seperti paralayang dan jet ski turut dilarang bagi para awak.
Pemerintah Tailan juga mengerahkan ratusan polisi untuk mengawasi kawasan hiburan dan mengingatkan pelaku usaha agar tidak menaikkan harga secara berlebihan terhadap wisatawan militer AS.
Angkatan Laut AS menyediakan bus antar-jemput dari pelabuhan menuju Pattaya setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 02.00 waktu setempat.
Wali Kota Pattaya Poramase Ngampiches mengatakan pemerintah ingin memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menunjukkan bahwa citra Pattaya kini tidak hanya terkait kehidupan malam.
"Kita harus terus terang, kota ini memiliki reputasi terkait perempuan-perempuan bar. Kami memahami stereotip itu," katanya.
Menurut dia, Pattaya kini juga menawarkan wisata olahraga, kebugaran, seminar hingga aktivitas ramah keluarga.
USS Abraham Lincoln dijadwalkan meninggalkan Tailan dan memulai perjalanan panjang melintasi Pasifik menuju AS pada 6 September 2026.
Kedua negara berharap setelah beristirahat di Pattaya, ribuan awak kapal tersebut dapat kembali melanjutkan perjalanan dalam kondisi lebih segar. (*)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER








Salah Satu Tempat Terkering di Dunia Diselimuti Salju, Badai Atacama Menjangkau hingga Dekat Pasifik

Kasasi Dua Terdakwa Kasus Sabu 89,6 Kg Asal Aceh Ditolak, Vonis 20 Tahun-Penjara Seumur Hidup Inkrah














