Korban Banjir Nepal-China Tembus 1.000, Ratusan Pekerja Dicari di Terowongan PLTA

Personel militer menggunakan bahan peledak untuk membuka akses melalui lereng bukit guna menjangkau para pekerja yang terjebak di terowongan. (foto: Reuters via BBC)
Kathmandu, MISTAR.ID - Jumlah korban tewas akibat banjir dan longsor dahsyat di Nepal dan Tibet, China, telah menembus 1.000 orang. Di tengah terus bertambahnya korban, tim penyelamat berpacu mencari ratusan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang diduga masih terjebak di jaringan terowongan.
Dilansir Kathmandu Post, Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal (NDRRMA) mencatat hingga Selasa (1/9/2026), sebanyak 987 orang tewas dan 3.916 lainnya masih dinyatakan hilang di Nepal.
Sementara otoritas China melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang di Tibet. Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat bencana di Nepal dan China mencapai 1.003 orang, sedangkan 4.462 orang masih belum ditemukan.
Jumlah korban tersebut meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya. BBC pada Senin (31/8/2026) masih mengutip data NDRRMA yang mencatat 939 orang tewas di Nepal.
Di tengah operasi pencarian korban, perhatian kini tertuju pada ratusan pekerja PLTA yang diyakini masih berada di jaringan terowongan di sepanjang Sungai Trishuli.
BBC melaporkan keluarga lebih dari 600 pekerja khawatir anggota keluarga mereka masih terjebak di terowongan yang dipenuhi lumpur setelah banjir menerjang sejumlah proyek PLTA.
Di proyek Upper Trishuli-3A, tim penyelamat bahkan menggunakan bahan peledak untuk membuka akses melalui lereng bukit. Udara kemudian dipompa ke dalam terowongan untuk membantu kemungkinan korban yang masih bertahan hidup.
Militer Nepal juga terus membuka akses ke sejumlah terowongan. Tim penyelamat dilaporkan telah masuk sekitar 50 meter ke terowongan proyek Chilime, 150 meter di Langtang Hydropower, dan sekitar 200 meter di Upper Trishuli-1.
BBC mengutip Anushila Bhandari, istri Aurus Bhandari, seorang insinyur berusia 33 tahun yang hilang di lokasi proyek.
"Saya berharap kami bisa menemukannya. Saya berharap dia bisa pulang," kata Anushila kepada BBC Nepali.
Harapan serupa disampaikan Priya Kharel. Saudaranya, Milan, bekerja sebagai insinyur di proyek Upper Trishuli-1 ketika banjir menerjang.
Menurut Priya, pekerja yang berhasil keluar dari lokasi mengatakan masih ada orang di dalam terowongan.
"Jadi ada harapan, jika tentara bisa segera mencapai mereka, mereka bisa diselamatkan," ujarnya kepada BBC Nepali.
CNN juga melaporkan pencarian pekerja yang kemungkinan terjebak di terowongan PLTA menjadi salah satu fokus utama operasi penyelamatan.
Tim spesialis penyelamatan terowongan dari China turut dikirim ke Nepal. India dan sejumlah negara lain juga terlibat dalam upaya pencarian dan penanganan bencana.
CNN sebelumnya mewawancarai Bhakti Ram Bohara, salah seorang pekerja yang berhasil selamat. Ia mengatakan bekerja di terowongan yang sama dengan saudara iparnya ketika banjir datang.
"Saya dan saudara ipar saya bekerja di terowongan yang sama. Saya kehilangan dia," kata Bohara kepada CNN.
Sejumlah pekerja telah berhasil dievakuasi dari proyek PLTA. Namun, kondisi ratusan pekerja lainnya masih belum diketahui.
Bencana melanda kawasan Himalaya di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Berdasarkan penyelidikan awal, runtuhan besar es, batu dan material gletser memicu rangkaian longsoran dan banjir yang kemudian mengalir melalui lembah-lembah di bawahnya.
Arus deras menghancurkan permukiman, jalan, jembatan dan sejumlah proyek PLTA. Operasi pencarian masih terkendala medan pegunungan yang terjal, lumpur tebal serta rusaknya infrastruktur menuju sejumlah lokasi terdampak. (*)






















