Monday, August 31, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Korban Banjir Nepal Tembus 903 Jiwa, 4.247 Orang Hilang Termasuk 592 Warga Asing

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 13.50 WIB
korban_banjir_nepal_tembus_903_jiwa_4247_orang_hilang_termasuk_592_warga_asing

Anggota Angkatan Darat Nepal mencari jenazah di Sungai Narayani. (foto: Reuters via BBC)

news_banner

Kathmandu, MISTAR.ID - Jumlah korban tewas akibat banjir dahsyat di Nepal terus bertambah. Hingga Senin (31/8/2026), sedikitnya 903 orang tewas, sementara 4.247 lainnya masih dinyatakan hilang.

Laporan Kathmandu Post, mengutip data terbaru Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRMA), jumlah tersebut berdasarkan pembaruan pemerintah pada Senin pukul 09.00 waktu setempat.

Dari 4.247 orang yang masih hilang, sebanyak 592 merupakan warga negara asing. Selain itu, 933 orang yang terkait dengan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga belum ditemukan.

Sementara itu, Reuters melaporkan tim penyelamat Nepal yang dibantu tenaga ahli dari China dan India kini berupaya menjangkau ratusan orang yang diyakini terjebak di sejumlah terowongan proyek PLTA.

Sekitar setengah lusin terowongan tertutup lumpur, bebatuan, dan material lainnya akibat banjir. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses ke dalam terowongan.

Juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet mengatakan tim penyelamat menghadapi tumpukan material dalam jumlah besar yang menyulitkan pembukaan akses.

“Fokus utama kami adalah membuka terowongan,” kata Basnet kepada Reuters.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut banjir tersebut sebagai bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat merusak. Menurutnya, cuaca buruk, medan yang sulit, dan ancaman bencana susulan menjadi tantangan bagi operasi penyelamatan serta pendataan kerusakan.

Menurut Kathmandu Post, sebanyak 20.819 personel keamanan dikerahkan ke daerah terdampak. Mereka terdiri dari 8.722 personel Angkatan Darat Nepal, 7.894 polisi, dan 4.203 personel Armed Police Force. Pekerja sipil dan relawan juga terlibat dalam operasi tersebut.

Hingga Senin, sebanyak 10.451 orang telah berhasil diselamatkan. Pemerintah juga mencatat 267 orang mengalami luka-luka dan 156 di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan.

Operasi udara terus dilakukan untuk mendukung penyelamatan dan penyaluran bantuan. NDRRMA mencatat sedikitnya 411 penerbangan helikopter telah dilakukan sejak bencana terjadi.

Korban ditemukan hingga ratusan kilometer dari lokasi awal bencana. NDRRMA mencatat Chitwan menjadi wilayah dengan penemuan korban terbanyak, yakni 272 orang, disusul Nawalparasi Timur 207 orang dan Nawalparasi Barat 151 orang.

Sebanyak 95 korban ditemukan di Nuwakot, 62 di Gorkha, 55 di Dhading, 37 di Tanahun, dan 24 di Rasuwa. Banyak korban terbawa arus deras bersama lumpur dan material lainnya menuju daerah hilir.

Berdasarkan laporan, Associated Press (AP), banjir bandang bermula setelah runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada Rabu (26/8/2026).

Para ilmuwan yang menganalisis citra satelit menyebut batuan dasar di bawah gletser runtuh dan menyeret sebagian gletser. Longsoran tersebut begitu besar hingga tercatat sebagai aktivitas seismik setara magnitudo 5,2.

Campuran batuan dan air dari es yang mencair kemudian memenuhi sungai di lembah dan menyapu bangunan, jembatan, serta permukiman di Nepal dan Tibet.

Bencana juga menelan korban di wilayah Tibet, China. AP melaporkan otoritas China hingga Minggu (30/8/2026) mencatat 16 orang tewas dan 546 lainnya masih hilang. Sebanyak 261 orang yang hilang di Tibet merupakan warga negara asing.

Berdasarkan data terbaru Nepal dan China tersebut, bencana di kedua wilayah telah menewaskan sedikitnya 919 orang, sementara 4.793 lainnya masih dinyatakan hilang.

Proses pencarian masih berlangsung dan jumlah korban dapat terus berubah seiring tim penyelamat menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya terputus. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN