Sunday, August 30, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Korban Banjir Nepal-Tibet Jadi 804 Tewas dan 3.048 Hilang, Ancaman Banjir Susulan Muncul

Mistar.idMinggu, 30 Agustus 2026 pukul 20.22 WIB
korban_banjir_nepaltibet_jadi_804_tewas_dan_3048_hilang_ancaman_banjir_susulan_muncul

Kondisi Trishuli Bazar di Distrik Nuwakot, Nepal, setelah banjir bandang meninggalkan endapan lumpur tebal serta merendam rumah dan kendaraan, Rabu (26/8/2026). (foto: AFP/Prabin Ranabhat)

news_banner

Dhading, MISTAR.ID - Jumlah korban banjir bandang dahsyat di Nepal dan Tibet bertambah menjadi sedikitnya 804 orang tewas dan 3.048 lainnya masih hilang hingga Minggu (30/8/2026). Di tengah pencarian ribuan korban, otoritas Nepal memperingatkan kemungkinan banjir susulan setelah debit Sungai Bhotekoshi kembali meningkat.

Dilansir Associated Press (AP), badan penanggulangan bencana Nepal mencatat 788 orang meninggal dan 2.502 masih hilang. Sementara otoritas China melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya hilang di Tibet.

Dari jumlah orang hilang di Tibet, sedikitnya 261 merupakan warga negara asing, termasuk lebih dari 100 warga Nepal serta warga dari sejumlah negara lain.

Ancaman baru muncul Minggu pagi setelah permukaan air Sungai Bhotekoshi meningkat. Badan penanggulangan bencana dan Divisi Prakiraan Banjir Nepal mengeluarkan peringatan kepada warga di distrik Rasuwa, Nuwakot dan Dhading.

Peringatan dikeluarkan setelah otoritas China menyampaikan informasi mengenai peningkatan aliran air dari kawasan hulu. Pemberitahuan banjir juga dikirim ke telepon seluler warga agar mereka tetap waspada dan siap menuju lokasi yang lebih tinggi.

Di Dhading, salah satu daerah yang terdampak parah, sejumlah warga mulai kembali ke rumah untuk mencari barang yang masih bisa diselamatkan. Lumpur tebal dan puing memenuhi permukiman, sementara beberapa rumah kehilangan dinding akibat diterjang banjir.

“Semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa. Bahkan rumah kami,” kata warga Dhading, Sharmila Tamang, kepada AP.

Kerusakan juga melanda jaringan listrik dan infrastruktur. Sebuah pembangkit listrik yang melayani lebih dari 20.000 penduduk di empat distrik mengalami kerusakan berat. Sejumlah jembatan beton dan jembatan gantung juga hancur sehingga akses masyarakat di beberapa daerah terputus.

Prithivi Highway, jalur penting bagi distribusi makanan, bahan bakar dan kebutuhan lainnya menuju Kathmandu, sebagian besar sudah bisa dilalui. Namun, sejumlah bagian jalan masih memerlukan perbaikan.

Bencana bermula pada Rabu (26/8/2026) setelah runtuhan batuan di bawah sebuah gletser di kawasan Himalaya ikut menyeret sebagian gletser. Batu, es dan air kemudian mengalir dengan deras ke sungai-sungai di lembah, menyapu bangunan, jembatan serta permukiman di Tibet dan Nepal.

Besarnya runtuhan bahkan terekam sebagai aktivitas seismik setara magnitudo 5,2. Para ilmuwan menegaskan masih terlalu dini untuk menghubungkan langsung bencana tersebut dengan pemanasan global, meski meningkatnya suhu dinilai memperbesar risiko bencana terkait gletser di Himalaya.

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal menyerukan respons global terhadap perubahan iklim. Ia mengatakan Nepal hanya menyumbang sekitar 0,1 persen emisi global, tetapi masyarakat negara itu justru menjadi salah satu yang paling terdampak perubahan iklim.

Sementara pencarian masih berlangsung, otoritas Nepal menghadapi persoalan lain akibat banyaknya jenazah yang ditemukan dalam kondisi sulit dikenali.

Reuters melaporkan 96 jenazah tanpa identitas telah dimakamkan sementara di hutan Devghat, Distrik Chitwan, Sabtu (29/8/2026). Lebih dari 100 jenazah lainnya direncanakan dimakamkan Minggu karena kondisinya terus memburuk.

“Kami tidak punya pilihan lain dan harus mengambil langkah ini,” kata Kepala Distrik Chitwan Ganesh Aryal.

Sampel DNA diambil dari setiap jenazah yang belum teridentifikasi. Lokasi makam juga dicatat sehingga jenazah dapat ditemukan kembali dan diserahkan kepada keluarga apabila identitasnya berhasil diketahui kemudian.

Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di Nepal dan Tibet. Malaysia juga menyatakan akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan ke Nepal serta memberikan bantuan sebesar 1 juta dolar AS untuk penanganan bencana.

Warga di wilayah terdampak tetap diminta waspada karena kondisi sungai dan kawasan pegunungan masih belum stabil. (AP/Reuters)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN