Dari Balik Jeruji ke Dapur MBG: 5 Ton Tempe Bulanan Hasil Karya Napi Tanjung Gusta

Warga binaan Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan saat memproduksi tempe untuk program Makan Bergizi Gratis. (Foto: Dok. Rutan Medan)
Medan, MISTAR.ID (30/8/2026) – Aroma kedelai yang difermentasi tercium sejak pagi di salah satu sudut Rumah Tahanan Negara Kelas I Tanjung Gusta Medan. Di sanalah, tangan-tangan para narapidana bekerja meramu tempe.
Bukan sekadar untuk mengisi waktu, melainkan untuk memberi makan ribuan anak di program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setiap bulan, sekitar 5 ton tempe keluar dari dapur produksi Rutan Tanjung Gusta. Setiap hari, sedikitnya 307 bungkus tempe siap dikirim. Hasil karya di balik jeruji itu kini menjadi bagian dari gizi anak-anak sekolah.
Kepala Rutan Tanjung Gusta Medan, Andi Surya, menyebut produksi tempe adalah bagian dari program pembinaan kemandirian.
"Produksi tempe merupakan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan di sini. Setiap bulan kami memproduksi 5 ton tempe. Per hari, sekitar 307 tempe diproduksi untuk disalurkan ke program MBG," ujarnya dalam siaran pers, Minggu (30/8/2026).
Baginya, rutan bukan hanya tempat menjalani hukuman. Rutan adalah ruang untuk belajar, bekerja, dan berkarya.
"Program kemandirian menjadi penting. Di dalam rutan, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan yang bisa menjadi bekal saat kembali ke masyarakat," katanya.
Untuk menjaga kualitas, tempe produksi Rutan Tanjung Gusta telah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Standar kebersihan dan proses produksi pun dijaga ketat.Lebih dari Sekadar TempeSemangat kemandirian itu tidak berhenti di tempe.
Melalui kegiatan Bimbingan Kerja (Bimker), warga binaan juga dilatih membuat berbagai produk lain.
Ada kerajinan tangan, produksi sandal, pembuatan tas, hingga sandal hotel. Di sektor UMKM, mereka mengelola pembuatan keripik pisang, roti, coffeeshop, dan olahan ikan teri.
"Orientasi pembinaan kami bukan hanya keterampilan, tetapi juga pembentukan kemandirian dan produktivitas. Melalui Bimker, warga binaan belajar bahwa mereka masih bisa memberi manfaat," jelas Andi.
Di balik jeruji besi, ada harapan yang sedang dirajut. Satu bungkus tempe dari Tanjung Gusta bukan hanya lauk. Ia adalah bukti bahwa setiap orang, di mana pun berada, masih bisa berkontribusi untuk negeri.(Deddy/hm02)






















