Trump Bentuk Akademi Luar Angkasa AS, Siapkan SDM Hadapi China

Trump saat berbicara dalam seremoni di Johnson Space Center NASA sebelum menandatangani perintah eksekutif untuk membentuk Akademi Luar Angkasa AS. (foto: AFP/Mistar)
Washington DC, MISTAR.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pembentukan Akademi Luar Angkasa AS atau US Space Academy. Lembaga pendidikan baru tersebut diproyeksikan menjadi tempat pelatihan bagi calon personel sipil dan militer untuk memenuhi kebutuhan sektor antariksa yang semakin strategis.
Pengumuman itu disampaikan Trump, Jumat (28/8/2026), waktu setempat dalam sebuah seremoni di Johnson Space Center milik NASA di Houston. Pada kesempatan tersebut, Trump sekaligus menandatangani perintah eksekutif yang menjadi dasar pembentukan akademi tersebut.
Dilansir Sabtu (29/8/2026), Trump mengatakan konsep akademi tersebut akan mengacu pada model akademi militer Amerika Serikat, seperti United States Military Academy di West Point.
"Namanya adalah Akademi Luar Angkasa AS. Ini adalah hal yang sangat penting," kata Trump saat menandatangani perintah eksekutif tersebut.
Menurut Trump, akademi itu nantinya tidak hanya mendukung kebutuhan Angkatan Luar Angkasa AS dan NASA. Lembaga tersebut juga akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan dan antariksa sipil.
"Akademi ini akan melayani baik Angkatan Luar Angkasa AS dan NASA, serta industri penerbangan antariksa sipil, sekaligus akan menarik, melatih, dan meluluskan putra-putri terbaik bangsa kita," ujarnya.
Trump menilai keberadaan Angkatan Luar Angkasa AS memiliki arti penting dalam mempertahankan kepentingan nasional Amerika. Ia bahkan menyebut cabang keenam militer AS itu berperan dalam sejumlah operasi militer Amerika baru-baru ini di Venezuela dan Iran.
Meski telah mengumumkan pembentukannya, Trump belum menjelaskan lokasi yang akan menjadi tempat berdirinya akademi tersebut.
Dalam seremoni yang sama, Trump memberikan Congressional Space Medal of Honor kepada para astronaut misi Artemis 2 NASA. Para awak misi tersebut tercatat melakukan perjalanan mengelilingi Bulan pada April 2026.
Pembentukan akademi ini berlangsung ketika ruang angkasa semakin dipandang sebagai arena strategis, baik dalam aspek teknologi maupun pertahanan. Amerika Serikat dan China saat ini terlibat dalam persaingan untuk menjadi negara yang lebih dominan dalam eksplorasi antariksa.
Kedua negara juga berlomba mengirim astronaut kembali ke Bulan sebelum 2030. Target tersebut menjadi bagian dari upaya eksplorasi antariksa setelah lebih dari lima dekade berlalu sejak manusia pertama kali menginjakkan kaki di permukaan Bulan.
Trump sebelumnya juga mencanangkan apa yang disebutnya sebagai "era keemasan" eksplorasi luar angkasa. Ambisi tersebut mencakup peningkatan peluncuran roket serta misi menuju Bulan dan Mars.
PREVIOUS ARTICLE
Serangan Drone Rusia Picu Ledakan di Gudang Kyiv, 27 Orang Tewas

















