Rupiah Dihantam Sentimen Global, Dolar Bisa Makin Perkasa? Ini yang Perlu Diwaspadai

Rupiah Dihantam Sentimen Global, Dolar Bisa Makin Perkasa? Ini yang Perlu Diwaspadai. (foto ilustrasi:geminibanana/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (7/9/2026) — Pergerakan rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi perhatian pasar. Sentimen global, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), harga minyak, hingga ketegangan geopolitik menjadi faktor yang dapat menentukan arah kurs rupiah dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), JISDOR rupiah berada di level Rp17.636 per dolar AS pada 4 September 2026, menguat dari Rp17.770 pada 2 September. Namun, rupiah masih menghadapi risiko volatilitas seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Rupiah Hari Ini Dipengaruhi Apa?
Pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi dalam negeri. Kebijakan bank sentral AS menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor global.
Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan ekonomi masih cukup kuat. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan suku bunga ketat atau bahkan menaikkan suku bunga dalam pertemuan September.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 57%. Namun, arah kebijakan masih sangat bergantung pada data inflasi AS yang akan dirilis sebelum pertemuan tersebut.
Jika suku bunga AS lebih tinggi, dolar berpotensi kembali mendapat dukungan karena aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor.
Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Risiko
Selain The Fed, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar valuta asing.
Ketegangan AS dan Iran ikut mendorong harga minyak. Pada 7 September, harga minyak Brent berada di sekitar US$96 per barel. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan dapat memengaruhi sentimen investor terhadap negara-negara berkembang.
Bagi Indonesia, perubahan harga energi dan komoditas juga penting karena dapat memengaruhi neraca perdagangan, inflasi, serta kebutuhan valuta asing.
BI Punya Senjata untuk Menjaga Rupiah
Bank Indonesia memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% pada RDG 18–19 Agustus 2026. Kebijakan suku bunga tersebut menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengendalikan inflasi.
Selain suku bunga, BI dapat melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan instrumen moneter lainnya.
Ruang intervensi juga didukung oleh cadangan devisa Indonesia yang tercatat sekitar US$145,34 miliar pada Juli 2026.
Artinya, pelemahan rupiah tidak serta-merta berarti dolar akan terus menguat tanpa batas. Respons kebijakan BI dan perubahan sentimen global tetap menjadi faktor penting.
Dolar Menguat, Harga Elektronik Ikut Naik?
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang memiliki kandungan impor tinggi.
Produk elektronik, komputer, mesin, kendaraan, serta berbagai komponen industri merupakan contoh barang yang dapat terdampak perubahan kurs dolar.
Namun, dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada harga konsumen. Importir dan produsen dapat memiliki stok, kontrak pembelian, maupun strategi lindung nilai sehingga perubahan kurs bisa diteruskan ke harga dengan jeda waktu.
Jika rupiah melemah dalam periode panjang, tekanan biaya tersebut berpotensi semakin besar.
Siapa yang Diuntungkan Saat Rupiah Melemah?
Pelemahan rupiah tidak selalu buruk bagi semua pelaku usaha.
Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar berpotensi mendapatkan nilai rupiah lebih besar ketika pendapatan tersebut dikonversikan. Sektor dengan biaya produksi dominan dalam rupiah juga dapat memperoleh manfaat.
Sebaliknya, importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar dapat menghadapi tekanan lebih besar.
Kelompok yang perlu mewaspadai pelemahan rupiah antara lain:
- importir dan perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor;
- perusahaan dengan utang dalam dolar;
- konsumen barang impor;
- industri dengan biaya produksi berbasis valuta asing.
Dolar Belum Tentu Terus Menguat
Meski tekanan terhadap rupiah masih ada, prospek dolar juga tidak sepenuhnya satu arah.
Reuters mencatat dolar diperkirakan tetap relatif kuat dalam jangka pendek, tetapi sejumlah analis melihat potensi pelemahan dalam horizon yang lebih panjang. Ketidakpastian kebijakan The Fed dan perkembangan inflasi AS menjadi faktor utama.
Pada 7 September, dolar bahkan belum mampu menguat signifikan meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Pasar masih menunggu data inflasi AS yang dapat menentukan langkah bank sentral berikutnya.
Karena itu, arah rupiah vs dolar masih sangat bergantung pada data ekonomi dan kebijakan bank sentral dalam beberapa pekan mendatang.
Rupiah Masih Dibayangi Volatilitas
Dengan kondisi tersebut, kurs rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif.
Investor akan mencermati kebijakan The Fed, inflasi AS, imbal hasil obligasi AS, harga minyak, perkembangan geopolitik, arus modal asing, serta respons Bank Indonesia.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan biaya barang impor dan produk dengan komponen impor tinggi.
Bagi pelaku usaha, perubahan kurs menjadi alasan untuk memperkuat manajemen risiko valuta asing.
Sementara bagi investor, perkembangan kebijakan The Fed dan langkah Bank Indonesia menjadi dua faktor penting untuk menentukan arah pasar.
Kesimpulannya, dolar AS masih berpeluang menguat terhadap rupiah dalam jangka pendek, tetapi jalurnya tidak akan selalu mulus. Data inflasi AS dan keputusan The Fed akan menjadi katalis penting yang menentukan apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau justru mereda.
(bi/reuters/*hm27)

























