Monday, September 7, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Jabar Terapkan PJJ di Wilayah Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 10.24 WIB
jabar_terapkan_pjj_di_wilayah_terdampak_abu_vulkanik_anak_krakatau

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi putuskan Jabar terapkan PJJ (Foto: Kompas)

news_banner

Bandung, MISTAR.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di wilayah yang terdampak intensitas sebaran abu vulkanik tinggi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah perlindungan terhadap peserta didik dan masyarakat di lingkungan satuan pendidikan. Kepala sekolah juga diminta menghentikan sementara kegiatan pembelajaran tatap muka maupun aktivitas di luar ruangan apabila kondisi abu vulkanik dan kualitas udara dinilai berisiko bagi kesehatan.

PJJ Diterapkan untuk Lindungi Siswa

Ketentuan tersebut tercantum dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diterbitkan pada 6 September 2026.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan penerapan PJJ dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan peserta didik serta seluruh warga di lingkungan sekolah.

Selain sektor pendidikan, Pemprov Jabar juga menyiapkan posko penanganan dan lokasi pengungsian sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak sebaran abu vulkanik.

Fasilitas Kesehatan Diperkuat

Kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan turut ditingkatkan. Puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, dan fasilitas kesehatan lainnya diminta memastikan ketersediaan kebutuhan untuk menangani masyarakat yang terdampak.

"Saya instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker/respirator, dan Alat Pelindung Diri (APD) di fasilitas kesehatan," ucap Dedi Mulyadi, Minggu (6/9).

Dinas Kesehatan juga diarahkan melakukan pemantauan kesehatan masyarakat setiap hari untuk mendeteksi berbagai gangguan yang kemungkinan muncul akibat paparan abu vulkanik.

Surveilans tersebut mencakup gangguan pernapasan, asma atau PPOK, iritasi mata, gangguan kulit, cedera, hingga berbagai keluhan kesehatan lainnya.

Pemantauan secara khusus dilakukan terhadap kelompok rentan, di antaranya bayi dan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta masyarakat dengan penyakit kronis.

Kualitas Udara dan Pembersihan Abu Dipantau

Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat diminta berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, dan instansi terkait untuk mengawasi kualitas udara di wilayah yang terdampak.

Pemantauan terutama dilakukan terhadap konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10. Hasil pemantauan kondisi udara akan diinformasikan kepada masyarakat secara berkala.

Pemprov Jabar juga menyiapkan langkah pembersihan abu vulkanik di fasilitas umum dan jalan. Pembersihan dilakukan dengan metode yang dinilai tepat agar partikel abu tidak kembali beterbangan dan memperburuk kualitas udara.

Selama abu vulkanik masih terdeteksi di wilayah Jawa Barat, pengamanan dan keselamatan lalu lintas juga akan ditingkatkan.

"Saya memerintahkan seluruh Kepala Perangkat Daerah dan pihak terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menyampaikan informasi berdasarkan sumber resmi, serta segera melaporkan peningkatan kasus kesehatan, gangguan pelayanan, keterbatasan logistik, dan kebutuhan dukungan kepada pimpinan/posko penanganan," kata KDM.

Warga Diminta Tetap Tenang

Dedi Mulyadi atau KDM mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan dengan memperhatikan perkembangan kondisi lingkungan di wilayah masing-masing.

"Ikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya," ungkap KDM.

Warga yang berada di wilayah dengan intensitas sebaran abu tinggi diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam rumah apabila tidak memiliki keperluan yang mendesak.

Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan memakai masker, khususnya KN95 atau jenis masker lain yang mampu menutup hidung dan mulut dengan baik. Kacamata juga dianjurkan untuk membantu melindungi mata dari paparan partikel abu.

Abu Vulkanik Sebaiknya Dibasahi Sebelum Dibersihkan

Masyarakat yang terkena paparan abu vulkanik diminta segera membersihkan diri. Sementara itu, ketika membersihkan rumah, fasilitas umum, atau lingkungan sekitar, abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu.

Cara tersebut dilakukan untuk mencegah abu kembali beterbangan sehingga berisiko terhirup oleh masyarakat.

"Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, nyeri dada, gangguan atau iritasi mata, gangguan kulit, maupun gejala berat lainnya," kata KDM.

Selain perlindungan diri, masyarakat juga diminta menutup serta melindungi sumber air dan makanan agar tidak tercemar abu vulkanik.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN