Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
EDUKASI

BRIN Ungkap Aktivitas Tektonik Ribuan Tahun di Gunung Ciremai

Mistar.idSenin, 11 Mei 2026 pukul 15.24 WIB
brin_ungkap_aktivitas_tektonik_ribuan_tahun_di_gunung_ciremai

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti aktivitas tektonik dan vulkanik zaman Kuarter di kawasan Gunung Ciremai. (Foto: BRIN/Mistar)

news_banner

Kuningan, MISTAR.ID

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti aktivitas tektonik dan vulkanik zaman Kuarter di kawasan Gunung Ciremai, tepatnya di wilayah Lingkar Timur Kuningan, Jawa Barat. Temuan tersebut dinilai penting untuk mendukung mitigasi bencana di daerah tersebut.

Ketua tim penelitian sekaligus Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Sonny Aribowo, mengatakan penelitian dilakukan karena masih minimnya data terkait usia endapan gunung api di Pulau Jawa.

“Endapan gunung api yang terganggu oleh patahan dapat bercerita tentang sejarah masa lalu dan perulangan gempa bumi,” ujar Sonny, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, penelitian bertujuan mengetahui umur endapan Gunung Ciremai yang terdampak aktivitas tektonik. Riset dilakukan menggunakan metode geokronologi dan pemetaan LiDAR presisi tinggi terhadap endapan distal Gunung Ciremai.

Dari metode carbon dating, tim menemukan endapan berumur 22.000 tahun berada di atas endapan berumur 20.000 tahun. Kondisi tersebut dinilai sebagai bukti aktivitas sesar naik (thrusting) setelah periode 20.000 tahun lalu.

Selain itu, tim juga menemukan indikasi sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun. Temuan itu diduga menjadi jejak fase penyeimbangan sedimen pascatekanan tektonik besar atau kemungkinan pernah terjadi gempa bumi besar pada masa tersebut.

Teknologi LiDAR yang digunakan dalam penelitian memungkinkan peneliti melihat fitur permukaan bumi tanpa terhalang vegetasi. Hasil pemetaan menunjukkan adanya kemiringan lapisan dan patahan yang jelas pada morfologi kawasan Lingkar Timur Kuningan.

Sonny mengatakan data radiokarbon dan LiDAR memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Ia menyebut deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut.

Menurutnya, integrasi data erupsi eksplosif dan data sesar aktif dapat dimanfaatkan untuk menyusun tata ruang permukiman yang lebih aman, memperkirakan periode ulang gempa darat, hingga meningkatkan sistem peringatan dini berbasis risiko multi-bahaya.

Dalam penelitian itu, tim juga membedakan karakteristik material endapan jauh (distal) dan endapan dekat (proksimal) Gunung Ciremai. Analisis geokimia menunjukkan endapan distal tergolong sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.

Sementara itu, endapan proksimal di sekitar puncak gunung didominasi batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K berdasarkan studi sebelumnya dalam Disertasi Wildan Hamzah.

Penelitian juga menemukan endapan distal berumur sekitar 15.000 tahun yang menunjukkan pernah terjadi letusan Gunung Ciremai pada periode tersebut. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN