Monday, July 20, 2026
home_banner_first
WISATA

Menjelajahi Gua Kampret: Pesona Eksotis di Hutan Taman Gunung Leuser

Mistar.idMinggu, 19 Juli 2026 pukul 17.54 WIB
menjelajahi_gua_kampret_pesona_eksotis_di_hutan_taman_gunung_leuser

Penampakan Bat Cave dengan pesona 'cahaya surga'. (foto: amita/mistar)

news_banner

Langkat, MISTAR.ID - Bat Cave atau Gua Kampret terletak di Hutan Taman, Gunung Leuser, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat. Nama Kampret diambil karena gua ini dihuni ribuan kelelawar kecil, sesuai bahasa lokal masyarakat.

Gua ini membentang sekitar 1 kilometer dan memiliki tiga ruang utama, dipenuhi formasi stalaktit dan stalagmit yang sangat indah dilihat. Stalaktit dan stalagmit merupakan formasi mineral (speleotem) yang terbentuk di dalam gua kapur melalui pengendapan kalsium karbonat dari tetesan air.

Beberapa bagian ada yang atap terbuka, sehingga memberikan nuansa alam yang cukup kental karena sinar matahari masuk (ray of light). Cahaya tersebut sering sekali dimanfaatkan para turis lokal dan internasional untuk mengambil foto estetik.

Bat Cave berjarak 2 hingga 3 jam dari Kota Medan. Namun, dari kawasan Bukit Lawang atau jembatan monyet (monkey bridge) dapat ditempuh hanya sekitar 15 hingga 30 menit dengan berjalan kaki.

Perjalanan dari Kota Medan tidak mulus seperti yang dibayangan. Memasuki kawasan Kota Binjai hingga Kabupaten Langkat, kondisi jalan tidak begitu bagus, banyak sekali jalan berlubang.

Untuk mencapai Bat Cave, bisa menggunakan beberapa pilihan akomodasi. Transportasi umum bisa menggunakan bus dari Terminal Pinang Baris rute Medan - Bukit Lawang dengan tarif Rp25.000 per orang, lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Selain kendaraan umum, bisa juga menggunakan sepeda motor atau mobil.

Wisata Bat Cave bisa dijelajahi sendiri dengan tiket masuk Rp10.000, serta uang parkir untuk sepeda motor dan mobil. Namun, bisa juga menggunakan jasa tour guide di titik kumpul Bukit Lawang dengan tarif Rp150.000 per orang.

Menuju ke dalam Bat Cave juga tidak mudah, dari awal hingga ke ujung jalanan cukup terjal dan licin karena batu-batu yang berlumut. Situasi di dalam gua juga cukup gelap, sehingga membutuhkan penerangan, baik dari senter maupun flashlight ponsel.

Penampakan Landak River yang disambangi turis lokal dan internasional. (foto: amita/mistar)

Salah seorang turis lokal yang berasal dari Medan, Andi, mengatakan perjalanan menuju lokasi sangat membutuhkan kesabaran lebih. Meski menggunakan sepeda motor, tetap mendapat jalanan yang rusak parah.

"Sabar-sabar di jalan, tapi pas sampai gua capeknya hilang. Ke sini sama teman-teman, jadi banyak foto-foto estetik ala 'cahaya surga'. Kami datang sama teman yang akamsi (anak kampung sini) ya bayar Rp50.000 lah per orang, masih aman aja untuk membantu dia juga," ujarnya, Minggu (19/7/2026).

Ia juga mengungkapkan, lebih bagus datang siang hari untuk mendapatkan 'cahaya surga'. Ia bersama teman-temannya tidak melakukan rafting di sungai, tapi melanjutkan perjalanan ke Landak River untuk membasahi badan.

"Jalannya licin, gelap juga. Disarankan pakai senter, karena gelap dan licin takut membahayakan diri sendiri. Pakai sepatu yang memadai, sebenarnya pakai sendal juga masih oke tapi untuk safety mending pakai sepatu," ucapnya.

Masyarakat sekitar yang sering membawa teman-teman dari luar kota untuk berkeliling di area sekitar Bukit Lawang, Indri, mengatakan Bat Cave dulunya tidak seramai ini. Tapi sejak beberapa video viral, lokasi wisata ini jadi ramai dikunjungi baik itu wisatawan lokal maupun internasional.

Indri mengatakan, dalam satu kawasan ini, terdapat beberapa tempat wisata alam, seperti Rimba House, Bat Cave, Batu Kapal, Goa Goeng, dan Landak River.

"Tempat yang lain juga awalnya sepi, tapi jadi ramai mungkin karena video viral ya atau ada informasi dari mulut ke mulut. Meski begitu, semoga selamanya tetap asri. Harus saling menjaga kebersihan dan keasrian tempat indah seperti ini," ujarnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN