Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
SUMUT

Jejak Pengabdian Bidan Harmelina yang Terus Hidup Melalui Manfaat TASPEN

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 20.47 WIB
jejak_pengabdian_bidan_harmelina_yang_terus_hidup_melalui_manfaat_taspen_

Proses antre penerima manfaat TASPEN di Kantor Pelayanan TASPEN Medan. (foto: naomi/mistar)

Karo, MISTAR.ID - Rumah di Desa Sarinembah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi saksi pengabdian Harmelina Purba selama lebih dari dua dekade. Sebagai bidan desa, ia melayani warga yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang kesulitan membayar biaya pengobatan.

Setelah Harmelina meninggal dunia pada 2021, Desy menerima manfaat TASPEN sebagai ahli waris. Dana itu kemudian digunakan untuk menjalankan wasiat sang ibu, membantu orang terdekat ataupun tetangga yang mengalami kesulitan ekonomi

22 Tahun Mengabdi untuk Warga Sarinembah

Di bagian depan rumahnya, Harmelina membuka ruang praktik, sedangkan bagian belakang menjadi tempat tinggal keluarga. Dari rumah itu, ia melayani warga sekaligus membesarkan anak semata wayangnya, Desy Ginting.

Sejak 2007, Harmelina menjalani peran sebagai orang tua tunggal, Ia membesarkan Desy seorang diri di tengah kesibukannya melayani warga. Namun, kebersamaan mereka berakhir ketika kesehatan Harmelina memburuk.

Perempuan kelahiran 1968 itu menderita diabetes sejak 2013, penyakitnya mengalami komplikasi pada 2020 dan semakin parah setahun kemudian. Harmelina meninggal dunia pada usia 53 atau setelah 22 tahun mengabdikan diri sebagai bidan.

Saat itu, Desy berusia 25 tahun dan berada di Jakarta bekerja di perusahaan asuransi, kepergian ibunya tentu menjadi pukulan berat baginya.

“Ketika mendengar kabar kondisi semakin memburuk dan akhirnya pergi meninggalkan saya selamanya, rasanya dunia seakan runtuh, sebab hubungan keluarga saya antara mama dan bapak kan sudah berpisah, jadi berasa ditinggal sendirian,” kenang Desy saat diwawancarai, Senin (2/11/2026).

Kemudahan Mengakses Manfaat TASPEN

Setelah kepergian ibunya, Desy melanjutkan kehidupannya di Jakarta, ia bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Sebagai ahli waris, ia juga harus mengurus hak ibunya melalui TASPEN.

Dokumen kepegawaian Harmelina tersimpan rapi dalam sebuah tas, hal itu memudahkan Desy menemukan berkas yang diperlukan. Namun, ia masih harus melengkapi sejumlah persyaratan, termasuk surat keterangan ahli waris.

Desy Ginting dan Clara Sitepu membersamai kepergian Harmelina, Bidan Desa Sarinembah. (foto: dokumentasi pribadi/mistar)

Proses pengumpulan dokumen berlangsung sekitar satu minggu. Desy mengaku awam dengan prosedur administrasi pengurusan manfaat TASPEN. Meski begitu, petugas membantunya memahami persyaratan yang harus dipenuhi.

“Saya kan mengurusnya sendiri dan benar-benar awam juga mengurus hal administrasi seperti ini. Tapi ketika saya mencari tahu informasi ke TASPEN pihak mereka pelayanannya sangat membantu dengan memberikan informasi detail mengenai dokumen apa saja yang harus saya berikan,” ujar Desy.

Desy mengurus persyaratan melalui Mandiri TASPEN di Kabanjahe. Berkas kemudian diteruskan untuk diproses di Medan. Selama proses berlangsung, petugas menghubungi Desy melalui telepon dan WhatsApp. Mereka memverifikasi data ahli waris sekaligus menjelaskan manfaat yang akan diterima.

“Bahkan pihak TASPEN melalui customer service memberikan langsung nomor teleponnya untuk membantu saya, jadi tidak ada perantara komunikasi gitu tapi bisa langsung benar-benar personal. Ibaratnya kayak personal assistant, ada secercah harapan lewat pelayanannya buat saya yang masih kondisi berduka dan mengurus semuanya sendiri,” ujarnya.

Petugas juga memberikan informasi mengenai kelengkapan berkas dan perkembangan pencairan manfaat.

“Ketika masa proses pencairan tiba, pihak TASPEN juga langsung menghubungi saya. Jadi walaupun jarak jauh saya di Jakarta dan TASPEN Medan mereka tetap komunikasinya baik,” ungkapnya.

Kepergian sang ibu meninggalkan duka mendalam bagi Desy dan keluarga. Namun, di tengah masa sulit tersebut, manfaat TASPEN sekitar Rp180 juta yang disalurkan melalui Bank Sumut menjadi bantuan berarti bagi keluarga. Almarhumah yang semasa hidupnya merupakan ASN golongan III/d meninggalkan hak manfaat melalui Program Tabungan Hari Tua (THT) dan Jaminan Kematian (JKM).

Dana tersebut dimanfaatkan Desy untuk melunasi utang sang ibu, membiayai pengobatan, hingga memenuhi kebutuhan adat dalam prosesi pemakaman. Manfaat ini tidak hanya membantu meringankan beban keluarga, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan atas pengabdian Harmelina selama menjalankan tugasnya.

Wasiat Kebaikan yang Terus Berlanjut

Sebagian manfaat itu juga disisihkan Desy untuk dua orang yang dekat dengan ibunya, yakni Carimina Bangun, neneknya, dan Clara Sitepu, tetangga yang dianggap seperti keluarga sendiri.

Pemberian tersebut merupakan pelaksanaan wasiat Harmelina sebelum meninggal dunia. Ia ingin Desy membantu orang-orang yang selama ini dekat dengannya.

Carimina Bangun, ibu Harmelina, menjadi salah satu penerima bantuan, saat diwawancarai Minggu (1/11/2026), Carimina berusia 70 tahun dan bekerja sebagai petani.

Semasa hidup, Harmelina membantu kebutuhan ibunya, mulai dari biaya pengobatan hingga keperluan pertanian. Pada 2020, ia juga menanggung biaya pengobatan Carimina yang menderita diabetes.

Carimina Bangun memenuhi kebetuhannya hariannya dengan bertani di Tanah Karo. (foto: naomi/mistar)

Setelah Harmelina meninggal, Desy menjalankan wasiat tersebut. Sebagian manfaat TASPEN digunakan untuk membantu biaya pengobatan neneknya dan membeli pupuk.

“Semasa anak saya masih hidup pun, tetap membantu saya secara ekonomi dengan uang pengobatan karena saya kan sempat dirawat tahun 2020 karena diabetes, lalu untuk uang kebutuhan sehari-hari dan uang pupuk juga," ungkapnya.

"Bahkan, ketika anak saya pergi selamanya masih membantu penopangan ekonomi saya yang di mana itu zaman Covid ekonomi sulit sekali, beli pupuk pun sulit keuangan karena hasil pertanian pun hancur,” tambah Carimina.

Kebaikan Harmelina juga dikenang Clara Sitepu, tetangga yang menganggapnya seperti ibu sendiri. Ketika ibu Clara sakit, Harmelina datang memeriksa dan memberikan obat, beberapa kali, ia memberikan bantuan tanpa meminta bayaran.

Harmelina juga dikenal membantu warga yang kesulitan membayar biaya berobat jika pasien tidak memiliki uang, ia tak segan menggratiskan pengobatan atau menggunakan uangnya sendiri untuk menutupi biaya.

Kedekatan itu membuat Clara ikut hadir dan membantu keluarga ketika Harmelina sakit dan meninggal dunia.

Sesuai wasiat ibunya, Desy juga memberikan sebagian manfaat TASPEN kepada ibunya Clara. Uang tersebut digunakan untuk membiayai pendidikan Clara hingga menamatkan sekolah menengah atas (SMA).

Clara mengaku tak menyangka perhatian Harmelina masih dirasakannya setelah sang bidan meninggal dunia.

“Saya juga tak menyangka, meski bibi udah pergi masih memikirkan saya lewat pemberian uang dari TASPEN untuk bantu pendidikan, karena mama saya sebagai petani di masa itu hancur semua hasilnya, sempat tidak ada uang untuk sekolah karena mama kena Covid lalu tidak bisa bertani,” ujarnya saat diwawancarai Selasa (3/11/2026).

Kini, Harmelina memang tak lagi hadir di rumah prakteknya. Namun, kebaikannya masih dikenang orang-orang yang pernah ditolongnya. Melalui manfaat TASPEN yang diterima keluarga, Desy dimudahkan dan mendapat kesempatan meneruskan sebagian kepedulian ibunya.

Pengabdian Harmelina memang telah berakhir bersama kepergiannya. Namun, jejak kebaikannya masih menemukan jalan untuk terus hidup.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN