Penjaga Mimpi Hadir di Simalungun, Ruang Berbagi Cerita dan Karya

Penggagas Penjaga Mimpi, Richard Ambarita (baju merah), dalam kegiatan di Timothy Integrated Farm (TIF), Silau Malaha, Kecamatan Siantar, Simalungun. (Foto: Dok. TIF/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID (22/8/2026) – Tidak perlu terkenal untuk memiliki cerita. Tidak harus sempurna untuk menunjukkan karya. Berangkat dari gagasan tersebut, Timothy Integrated Farm (TIF) di Silau Malaha, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, membuka ruang bagi siapa saja melalui kegiatan Penjaga Mimpi yang digelar pada 22-23 Agustus 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar panggung pertunjukan. Penjaga Mimpi dirancang sebagai ruang untuk bertemu, berbagi pengalaman, karya, cerita, hingga mimpi yang masih ingin dikejar.
Founder Timothy Integrated Farm sekaligus penggagas Penjaga Mimpi, Richard Ambarita, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginannya membangun ruang yang terbuka bagi siapa saja.
“Karena setiap orang punya mimpi. Dan mimpi itu harus dijaga,” kata Richard yang akrab disapa Pak Timo, Sabtu (22/8/2026).
Selama ini, Richard membangun Timothy Integrated Farm sebagai ruang untuk belajar tentang pertanian, alam, budaya, dan kehidupan. Melalui Penjaga Mimpi, ruang tersebut diperluas menjadi tempat bertemunya orang-orang dengan latar belakang serta pengalaman yang beragam.
Peserta tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka diajak hadir sebagai diri sendiri dengan membawa cerita, pengalaman, karya, atau sekadar mimpi yang ingin dibagikan.
“Mimpi tidak ditertawakan, karya tidak diremehkan, dan cerita tidak dihakimi. Inilah semangat yang dibawa dalam kegiatan,” kata Pak Timo.
Sejumlah tokoh dari berbagai bidang dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Salah satunya Togu Simorangkir yang akan berbagi bukan hanya tentang apa yang telah dilakukannya, tetapi juga perjalanan hidup dan mimpi yang masih ingin dikejar.
Kemudian ada Baja Panggabean, seorang arsitek yang membuka ruang diskusi bagi peserta yang ingin berbicara mengenai arsitektur, desain interior, hingga rencana membangun rumah atau tempat usaha.
Dari dunia seni, Jack Bandit Tattoo akan menceritakan perjalanan hidupnya melalui seni tato. Pengalamannya menunjukkan bagaimana sebuah keterampilan seni dapat membuka jalan untuk menjelajahi berbagai tempat di dunia.
Sementara itu, Martahan Sitohang, pendiri Sarune Art, akan berbagi cerita mengenai perjalanan hidupnya bersama musik tradisional.
Cerita yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga manusia dan kebudayaan yang berada di baliknya.
Sejumlah pegiat musik lainnya turut ambil bagian, di antaranya The Gerouts, De Merel, dan Takasima.
Selain sharing session dan storytelling, Penjaga Mimpi juga diisi dengan monolog, puisi, musik, journaling, serta berbagai kegiatan lainnya.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat terlibat dan berinteraksi dengan peserta lainnya.
Richard mengatakan kegiatan ini terbuka untuk semua usia dan tidak dipungut biaya. Masyarakat yang ingin datang dipersilakan membawa cerita, karya, maupun pengalaman yang ingin dibagikan.
Penjaga Mimpi berlangsung pada 22-23 Agustus 2026 di Timothy Integrated Farm, Silau Malaha, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.
Bagi Richard, kegiatan ini bukan tentang mencari siapa yang paling hebat. Penjaga Mimpi hadir untuk menyediakan tempat agar orang-orang yang masih memiliki mimpi dapat saling bertemu, berbagi, dan saling menguatkan.
“Datang sebagai diri sendiri, berbagi apa yang dimiliki, dan pulang membawa mimpi baru melalui Penjaga Mimpi,” katanya.
PREVIOUS ARTICLE
PPPK Guru di Simalungun Sambut Wacana Jadi Pegawai Pusat, Harap Kesejahteraan Meningkat


















