Megah tapi Sepi: Pasar Rakyat Balairung Rajawali Siantar Jadi Gedung Tua Tak Berpenghuni

Gedung Pasar Rakyat Balairung Rajawali yang tak digunakan. (foto: Abdi/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Gedung pasar rakyat balairung rajawali di Jalan Patuan Nagari, Kelurahan Suka Dame, Kecamatan Siantar Utara yang sejatinya diproyeksikan sebagai pusat ekonomi modern bagi warga Pematangsiantar kini kondisinya memprihatinkan.
Bukannya menjadi pusat transaksi yang ramai, bangunan megah ini justru tampak lengang, berdebu, dan mulai ditumbuhi semak belukar di beberapa sudutnya.
Fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar ini belum mampu menarik minat pedagang maupun pembeli untuk beraktivitas di dalamnya. Alhasil, fungsi pasar rakyat yang diharapkan mampu menata Pedagang Kaki Lima (PKL) justru beralih fungsi menjadi sekadar monumen beton.
Berdasarkan pantauan Wartawan pada Rabu (25/2/2026), bangunan Balairung yang seharusnya menjadi pusat denyut nadi ekonomi warga Pematangsiantar kini tampak memprihatinkan. Bukannya dipenuhi keriuhan tawar-menawar, gedung ini justru diselimuti debu tebal, lantai yang mulai retak, dan aroma lembap yang menyengat.
Beberapa kios di lantai dasar tampak terkunci rapat dengan gembok yang mulai berkarat. Di sudut lain, tumpukan sampah sisa material bangunan dan plastik dibiarkan berserakan, menandakan ketiadaan aktivitas perawatan rutin dari pihak pengelola.
Warga setempat, Erwin menyayangkan aset negara yang tidak termanfaatkan dengan baik.
"Sangat disayangkan, uang rakyat dipakai bangun gedung besar tapi tidak ada fungsinya. Harusnya pemerintah tegas, kalau mau dipindahkan, ya pindah semua. Jangan setengah-setengah," ujarnya kepada Mistar.id.
Ia mengatakan masalah balairung rajawali di Siantar bukan sekadar soal fisik bangunan, melainkan soal kepercayaan ekosistem ekonomi.
"Tanpa adanya jaminan bahwa berjualan di dalam akan sama laku dengan di luar, bangunan ini akan tetap menjadi saksi bisu kegagalan tata kelola pasar rakyat," tuturnya.
Sementara itu, banyak pedagang yang sebelumnya mencoba bertahan di dalam balairung akhirnya kembali ke pinggir jalan.
"Kami mau saja masuk ke dalam, tapi pembeli malas naik atau masuk ke gedung. Kalau kami di dalam sementara yang lain masih di trotoar, dagangan kami busuk karena tidak laku. Pajak itu seharusnya untuk jualan, bukan untuk simpan barang," ucap salah seorang pedagang marga Lubis.






















