Ember Bekas dan Maggot Jadi Penyelamat Pangan di Simalungun

Tim dosen Universitas Simalungun melalui program pengabdian masyarakat memperkenalkan konsep gabungan budikdamber, hidroponik, dan budidaya maggot. (Foto: Tim Dosen Universitas Simalungun/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID - Siapa sangka, hanya bermodal ember bekas, beberapa pipa, dan sisa sampah dapur. Satu keluarga di Simalungun bisa memanen lele segar dan sayuran hijau langsung dari halaman sendiri.
Sisa makanan yang dulunya menjadi sampah kini memiliki fungsi baru. Sampah tersebut menjadi makanan maggot, larva lalat Black Soldier Fly, yang nantinya dipanen untuk pakan ikan kaya protein. Sederhana, tetapi saling menghidupi satu sama lain.
Hal ini yang dilakukan tim dosen Universitas Simalungun (USI) di Nagori Mekar Sari Raya, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, sejak Senin 13 Juli 2026.
Lewat program pengabdian masyarakat, mereka memperkenalkan konsep gabungan budikdamber (budidaya ikan dalam ember), hidroponik, dan budidaya maggot dalam satu sistem.
Christin Imelda Girsang, dosen Agroteknologi USI yang menjadi ketua tim, mengatakan inti program tersebut adalah kemandirian dan efisiensi.
“Kami tidak hanya menyuruh warga menanam sayur atau memelihara ikan. Yang kami rancang adalah sistemnya. Sampah organik rumah tangga diolah menjadi maggot, maggot digunakan sebagai pakan ikan, air kolam ember dialirkan ke tanaman hidroponik, kemudian ikan dan sayurnya bisa dipanen untuk makanan keluarga. Semuanya berputar, tidak ada yang terbuang,” kata Christin kepada Mistar, Sabtu (8/8/2026).
Di lapangan, Christin bersama Handayani Saragih, pakar Agroteknologi, Yoan Hendrawan Junpridan Saragih, pakar Manajemen, serta dua mahasiswa, Difan Halim Majid dan Ahmad Rivaldi Sitopu, turun langsung membimbing warga.
Inovasi ini juga mendapat hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbudristek melalui BIMA Tahun 2026.
"Warga tidak hanya menerima teori. Mereka praktik langsung membuat media tanam, memilih bibit ikan yang tahan, mengatur kualitas air, hingga mengelola biokonversi maggot," ucapnya.
Pangulu Nagori Mekar Sari Raya, Juni Hartono, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, teknologi ini menjawab masalah utama yang dihadapi warga.
“Jujur saja, masalah sampah dapur dan harga kebutuhan pokok yang tinggi dirasakan semua warga. Dengan pelatihan dari USI, warga bukan hanya belajar hemat, tetapi lahan yang tadinya tidak dimanfaatkan sekarang bisa menjadi sumber pangan keluarga,” ujar Juni.
Juni juga berharap program tersebut tidak berhenti sekadar seremoni. Jika dijalankan secara berkelanjutan, hasil panen ikan, sayuran segar, bahkan pupuk organik kasgot (sisa maggot) bisa dijual ke pasar untuk meningkatkan penghasilan.
Tim USI tidak lupa berterima kasih kepada DRTPM atas dana BIMA 2026, Pemerintah Nagori Mekar Sari Raya, dan warga yang telah terbuka menerima perubahan. Kolaborasi ini membuat Nagori Mekar Sari Raya memiliki fondasi baru. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Pematangsiantar Kembali Jadi Gerbang APRC Sumut 2026, 45 Pereli Siap Taklukkan Lintasan Simalungun




















