Wednesday, September 23, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kopi Malam Tak Selalu Bikin Sulit Tidur, tapi Bisa Ganggu Kualitas Tidur

Mistar.idRabu, 23 September 2026 pukul 07.00 WIB
kopi_malam_tak_selalu_bikin_sulit_tidur_tapi_bisa_ganggu_kualitas_tidur

Ilustrasi. (foto: dok Mistar)

news_banner

Wroclaw, MISTAR.ID - Kopi pada malam hari selama ini kerap dikaitkan dengan sulit tidur. Namun, penelitian terbaru menunjukkan persoalannya tidak hanya soal apakah seseorang bisa tertidur setelah minum kopi, tetapi juga bagaimana kondisi otak selama tidur.

Kajian sistematis dan mekanistik terhadap 32 penelitian menemukan bahwa kafein dapat memengaruhi aktivitas listrik otak selama tidur yang diukur menggunakan elektroensefalografi (EEG).

Dilansir Science Daily, Selasa (22/9/2026), EEG memungkinkan peneliti melihat bukan hanya berapa lama seseorang tidur, tetapi juga bagaimana otak bekerja selama tidur.

"EEG memungkinkan kita melihat bukan hanya apakah seseorang sedang tidur, tetapi juga bagaimana otaknya tidur," kata Prof. Donata Kurpas dari Wroclaw Medical University.

Menurut Kurpas, analisis EEG dapat mendeteksi perubahan yang lebih halus, termasuk penurunan aktivitas gelombang lambat atau slow-wave activity, salah satu penanda kedalaman dan sifat restoratif tidur.

Kafein tidak selalu menyebabkan seseorang terbangun berkali-kali atau sulit tertidur. Dampaknya dapat terlihat pada aktivitas otak ketika seseorang sudah tertidur.

"Kafein dapat memperpendek waktu tidur atau membuat seseorang lebih sulit tertidur. Namun, bahkan ketika durasi tidur tampak normal, kafein dapat mengurangi aktivitas gelombang lambat dan menggeser pola EEG menuju kondisi otak yang lebih 'terjaga'," ujar Kurpas.

Gelombang lambat merupakan karakteristik penting dari tidur dalam yang berkaitan dengan pemulihan tubuh, pengisian kembali energi, dan fungsi otak.

Karena itu, seseorang bisa tidur selama delapan jam tetapi tidak memperoleh tingkat pemulihan neurologis yang sama seperti biasanya.

"Perasaan subjektif telah tidur nyenyak tidak selalu sesuai dengan apa yang terlihat dalam rekaman neurofisiologis," kata Kurpas.

Seseorang dapat tertidur tanpa kesulitan dan tidak mengingat adanya gangguan tidur, sementara rekaman EEG menunjukkan lebih sedikit karakteristik tidur dalam.

Respons terhadap kafein juga sangat bervariasi. Faktor seperti genetik, metabolisme, usia, stres, kebiasaan mengonsumsi kafein, dan tingkat kelelahan dapat memengaruhi dampaknya terhadap tidur.

Persoalannya pun bukan hanya kopi yang diminum menjelang tidur. Jumlah kafein yang dikonsumsi sepanjang hari dan waktu yang tersedia bagi tubuh untuk memetabolismenya juga berperan.

Kafein dapat meningkatkan kewaspadaan dan membuat rasa lelah terasa lebih ringan untuk sementara. Namun, jika konsumsi kafein mengurangi kualitas pemulihan saat tidur, seseorang dapat merasa lebih lelah pada hari berikutnya dan kembali mengandalkan kafein.

"Jika kafein membantu seseorang berfungsi pada siang hari tetapi pada saat yang sama memperburuk kualitas pemulihan pada malam hari, lingkaran setan dapat berkembang: kelelahan semakin besar, kebutuhan akan stimulasi meningkat, dan tidur semakin buruk," ujar Kurpas.

Penelitian menemukan kafein dapat menekan aktivitas EEG frekuensi rendah selama tidur non-REM, terutama aktivitas gelombang lambat, sekaligus meningkatkan aktivitas pada frekuensi lebih tinggi. Pola tersebut menunjukkan aktivitas otak yang lebih ringan dan lebih menyerupai kondisi terjaga.

Meski demikian, penelitian tidak menyimpulkan bahwa kafein selalu buruk.

"Kafein bukan 'baik' maupun 'buruk'. Kafein merupakan zat yang aktif secara biologis dan efeknya bergantung pada dosis, waktu konsumsi, usia, gaya hidup, kualitas tidur, beban stres, dan sensitivitas individu," kata Kurpas.

Dengan demikian, dampak kopi terhadap tidur bukan hanya dapat dilihat dari apakah seseorang berhasil tertidur, tetapi juga dari apakah otak memperoleh tidur yang cukup dalam dan restoratif.

Penelitian James Chmiel dan Donata Kurpas tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nutrients pada 13 April 2026 dengan judul The Caffeinated Brain Part 2: The Effect of Caffeine on Sleep-Related Electroencephalography (EEG)—A Systematic and Mechanistic Review. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN