Influenza A H3N2 Terdeteksi di 13 Provinsi, IDAI Ingatkan Risiko pada Anak

Ilustrasi anak Influenza (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID — Aktivitas influenza kembali menjadi perhatian di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi, sementara pemantauan terbaru juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas influenza di sejumlah wilayah.
Data surveilans Kemenkes hingga minggu epidemiologi ke-36 2026 mencatat 86 hasil positif influenza dari 185 spesimen yang diperiksa. Dari jumlah tersebut, 8 merupakan influenza A(H3N2), 76 A(H1N1)pdm09, dan 2 influenza B Victoria. Kemenkes juga masih mencatat persebaran H3N2 subclade K di 13 provinsi, dengan temuan terbanyak berasal dari Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Sementara itu, laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk minggu epidemiologi ke-35 menyebut aktivitas influenza terus meningkat di zona transmisi Asia Tenggara. Subtipe A(H3) menjadi jenis influenza yang paling banyak terdeteksi dalam pemantauan regional tersebut.
Anak Lebih Rentan Terinfeksi
Situasi tersebut menjadi perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terutama karena anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap infeksi influenza.
Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr Hikari Ambara Sjakti, mengatakan data global menunjukkan anak berusia 0-17 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa.
Salah satu faktor yang berpengaruh adalah sistem kekebalan anak yang masih berkembang. Anak juga dapat melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam periode yang lebih panjang sehingga berpotensi menularkan infeksi kepada anggota keluarga maupun teman di sekolah.
Karena itu, orangtua perlu memperhatikan kondisi anak ketika muncul gejala infeksi saluran pernapasan dan tidak mengabaikan perubahan kondisi kesehatan.
Sebagian Anak Bisa Membutuhkan Perawatan di Rumah Sakit
IDAI menyebut sekitar 5 persen anak yang mengalami infeksi influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak berusia di bawah 2 tahun dan sekitar separuhnya berusia kurang dari 6 bulan.
Anak di bawah usia 5 tahun juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko morbiditas yang lebih tinggi, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Risiko juga dapat meningkat pada anak yang berada dalam kondisi atau lingkungan tertentu, seperti:
Mengikuti penitipan anak.
*Memiliki gangguan neurologis atau gangguan tumbuh kembang.
* Tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang.
* Berada di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Namun, tingkat risiko komplikasi tetap berbeda pada setiap anak dan perlu dilihat berdasarkan usia, kondisi kesehatan, serta tingkat keparahan gejala.
Vaksin Influenza Direkomendasikan Setiap Tahun
Salah satu langkah pencegahan yang direkomendasikan IDAI adalah vaksinasi influenza secara rutin.
Vaksin influenza direkomendasikan untuk anak mulai usia 6 bulan dan diberikan setiap tahun. Pembaruan tahunan diperlukan karena virus influenza terus mengalami perubahan sehingga komposisi vaksin disesuaikan dengan strain yang diperkirakan beredar.
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI menjelaskan bahwa perubahan virus tersebut berkaitan dengan proses antigenic drift dan antigenic shift.
Karena itu, perlindungan melalui vaksinasi perlu diperbarui sesuai rekomendasi yang berlaku.
Kebiasaan Sederhana Tetap Penting
Selain vaksinasi, keluarga dapat mengurangi risiko penularan melalui kebiasaan sehari-hari.
Anak perlu dibiasakan mencuci tangan, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, serta menggunakan masker dalam situasi yang diperlukan. Sirkulasi udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan.
Kontak dekat dengan orang yang sedang sakit sebaiknya dikurangi. Langkah tersebut penting diterapkan bukan hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan tempat bermain.
Jangan Paksa Anak Sekolah Saat Sakit
IDAI juga mengingatkan orangtua agar tidak memaksakan anak masuk sekolah atau bermain bersama anak lain ketika sedang sakit.
Keputusan untuk kembali beraktivitas sebaiknya tidak hanya didasarkan pada ada atau tidaknya demam. Kondisi anak secara keseluruhan perlu menjadi pertimbangan.
Jika gejala belum membaik atau kondisi justru memburuk, orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pastikan Anak Tidak Kekurangan Cairan
Anak yang mengalami influenza juga perlu mendapatkan cairan yang cukup untuk membantu mencegah dehidrasi.
Orangtua dapat memberikan air putih atau cairan lain yang sesuai dengan usia dan kondisi anak. Pada bayi dan anak kecil, kebutuhan cairan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan arahan tenaga medis.
Jika anak sulit minum, mengalami muntah berulang, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, pemeriksaan medis diperlukan.
Kenali Tanda Bahaya
Orangtua juga perlu mengetahui tanda-tanda yang mengindikasikan anak membutuhkan pertolongan medis segera.
Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain:
- Sesak atau kesulitan bernapas.
- Demam tinggi yang tidak kunjung membaik.
- Penurunan kesadaran.
- Tanda-tanda dehidrasi.
Influenza umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh, tetapi risiko komplikasi perlu diperhatikan terutama pada kelompok anak yang lebih rentan.
Di sisi lain, istilah "super flu" yang digunakan untuk menyebut H3N2 subclade K sebaiknya tidak diartikan sebagai nama penyakit baru. Kemenkes sebelumnya menegaskan bahwa H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman dan subclade K bukan virus influenza jenis baru.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER

BNI Pematangsiantar Membangkang Putusan MA, Rp4,2 Miliar Dana Nasabah Korban Penggelapan Tak Dibayar






































