Pengamat Sebut Harga Minyak Turun Jadi Angin Segar bagi Rupiah

Ilustrasi. (Foto: Liputan6)
Medan, MISTAR.ID - Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait terhubungnya komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Hal ini langsung menekan harga minyak mentah dunia dan memberi efek domino pada pergerakan pasar keuangan domestik, termasuk penguatan tipis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, harga minyak mentah jenis Brent yang turun hingga di bawah 100 Dolar AS per barel. Perdagangan hari ini, turun dikisaran 98,7 dolar AS per barel murni dipicu meredanya eskalasi konflik di kawasan produsen minyak.
"Melihat harga minyak yang turun ini, maka mata uang rupiah menguat tipis ke Rp17.830 per dolar AS. Kinerja positif ini diuntungkan oleh imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun yang masih di level 4,95 persen," katanya.
Meski menguat, Gunawan mengisyaratkan rupiah belum aman dan masih rentan. Pasalnya, rupiah masih berada di bawah tekanan Indeks Dolar AS (USD Index) yang justru mengalami kenaikan menjadi 100,66.
Kemudian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat dan menyentuh 6.297 pada pembukaan perdagangan, namun perlahan kembali ke zona merah.
"Melemahnya bursa saham domestik diakibatkan akumulasi sentimen negatif pelaku pasar yang masih dihantui kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), sejalan dengan tren kenaikan suku bunga global," ucapnya.
Selain itu, harga minyak mentah yang melemah juga belum cukup meyakinkan investor bahwa perdamaian permanen di Timur Tengah akan terwujud dalam waktu dekat. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Bergerak di Zona Hijau Awal Perdagangan Hari Ini







































