Ancaman Difteri Hingga Campak Mengintai, Dinkes Siantar Gembleng 30 Nakes Tangkal KLB

Dinkes Siantar Gelar Pelatihan Surveilans PD3I (Foto: Dinkes Siantar/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (21/9/2026) - Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar bergerak cepat membentengi wilayahnya dari potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular. Sebanyak 30 tenaga kesehatan dari berbagai Puskesmas dan laboratorium digembleng intensif dalam Pelatihan Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Tahun 2026.
Agenda penting ini dikemas dalam dua tahapan. Fase pertama digelar secara daring pada 17–18 September 2026, lalu dilanjutkan dengan pembekalan luring pada 21–25 September 2026 di Manna Hotel, Pematangsiantar.
Panitia Pelaksana, Misran, menyebutkan bahwa jajaran peserta terdiri atas 27 petugas surveilans Puskesmas serta Puskesmas Pembantu (Pustu), ditambah tiga orang analis laboratorium.
"Fokus utama pelatihan ini adalah mengasah ketajaman petugas di lapangan. Mereka ditempa mulai dari deteksi dini kasus, pencatatan dan pelaporan berbasis data akurat, analisis tren epidemiologi, hingga respons cepat dalam melakukan penyelidikan KLB," terang Misran kepada Mistar.id, Senin (21/9/2026).
Langkah agresif Dinas Kesehatan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan rekapitulasi data sepanjang tahun 2026, Pematangsiantar mencatat 8 kasus klinis difteri dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) mencapai 12,5 persen.
Tak hanya itu, ditemukan pula 4 kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) atau kelumpuhan layu mendadak yang sampelnya kini tengah diuji di laboratorium pusat. Sementara untuk kasus campak, tercatat sebanyak 24 kasus dengan positivity rate sebesar 16,67 persen dan discarded rate 83,33 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, Urat H. Simanjuntak, mengungkapkan bahwa meski capaian pelaporan surveilans dari Puskesmas dan rumah sakit sejak 2025 hingga Agustus 2026 sangat positif dengan tingkat ketepatan waktu 100 persen dan kelengkapan 98 persen kualitas data di lapangan harus terus ditingkatkan.
Bahkan, kemampuan respons penyelidikan epidemiologi di bawah 24 jam terhadap potensi ancaman wabah tercatat telah menyentuh angka sempurna 100 persen.
"Data yang cepat dan lengkap wajib diimbangi dengan keabsahan serta validitas yang tinggi. Sebab, dari kualitas data itulah lahir keputusan dan kebijakan yang menyelamatkan nyawa," tegas Urat.
Ia mengingatkan bahwa fungsi surveilans jauh melampaui urusan administratif pengumpulan angka semata. Proses tersebut mencakup alur pengolahan, analisis mendalam, hingga penyebarluasan informasi strategis demi meredam gejolak penyakit sebelum meluas menjadi KLB.
"Data surveilans bukan sekadar deretan angka di atas kertas laporan. Data ini adalah benteng utama kita untuk melangkah, mencegah wabah, melindungi warga, dan menyelamatkan kehidupan," lanjutnya.
Melalui pelatihan bertahap ini, para petugas diharapkan mampu bertindak lebih proaktif dalam mendeteksi kasus secara aktif, menguasai teknik pengambilan spesimen yang benar, serta mahir membaca pola penyebaran penyakit berdasarkan variabel orang, tempat, dan waktu.
Di samping peningkatan kapasitas personal, agenda ini ditargetkan mampu memperkuat konektivitas jejaring surveilans lintas lini mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, jaringan rumah sakit, hingga laboratorium agar arus informasi kesehatan di Kota Pematangsiantar semakin presisi dan responsif. (hm02)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










































