Friday, November 6, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Roket SLS NASA Picu Tiga Gangguan Ionosfer hingga 5.000 Kilometer, Akurasi GPS Berpotensi Terdampak

Mistar.idJumat, 6 November 2026 pukul 14.56 WIB
roket_sls_nasa_picu_tiga_gangguan_ionosfer_hingga_5000_kilometer_akurasi_gps_berpotensi_terdampak

Roket Space Launch System (SLS) NASA saat misi Artemis II yang dikaitkan dengan tiga gangguan ionosfer. Perubahan kepadatan elektron di atmosfer atas Bumi berpotensi memengaruhi akurasi sinyal navigasi GPS. (foto ilustrasi:chatgpt/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/11/2026) — Perjalanan manusia menuju Bulan ternyata dapat meninggalkan dampak yang cukup jauh dari lokasi peluncuran. Roket Space Launch System (SLS) milik NASA yang membawa misi Artemis II dilaporkan memicu serangkaian gangguan di ionosfer, lapisan atmosfer atas Bumi yang berperan penting dalam perambatan sinyal radio dan navigasi satelit.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari National Cheng Kung University, Taiwan, mengidentifikasi tiga peristiwa gangguan ionosfer selama perjalanan Artemis II. Salah satu gangguan terbesar dilaporkan membentang lebih dari 5.000 kilometer di atas kawasan Amerika Utara.

Temuan ini menarik perhatian karena ionosfer merupakan bagian atmosfer yang memengaruhi perjalanan sinyal radio, termasuk sinyal dari satelit navigasi Global Positioning System (GPS).

Perubahan kepadatan elektron di lapisan tersebut dapat mengubah waktu tempuh sinyal satelit menuju penerima di permukaan Bumi. Akibatnya, terdapat potensi perubahan akurasi penentuan posisi.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa jaringan GPS global mengalami gangguan operasional atau bahwa seluruh pengguna GPS terdampak.

Istilah ionospheric hole atau lubang ionosfer juga perlu dipahami secara tepat. Istilah ini bukan berarti roket merobek atmosfer atau menghilangkan lapisan udara Bumi. Fenomena yang dimaksud berkaitan dengan perubahan konsentrasi elektron di ionosfer.

Mengenal Roket SLS NASA, Kendaraan Raksasa Pengantar Astronaut ke Bulan

Space Launch System (SLS) merupakan roket peluncur superberat yang dikembangkan NASA untuk membawa astronaut, wahana Orion, dan berbagai muatan besar menuju Bulan serta mendukung eksplorasi antariksa lebih jauh.

Roket ini menjadi salah satu komponen utama program Artemis, ambisi NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan dan membangun fondasi eksplorasi jangka panjang.

Pada konfigurasi Block 1, SLS memiliki tinggi sekitar 98 meter dan menghasilkan daya dorong hingga 8,8 juta pon-gaya atau sekitar 39.000 kilonewton saat peluncuran.

Tenaga tersebut berasal dari empat mesin utama RS-25 berbahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair, serta dua pendorong roket padat (solid rocket boosters).

Kombinasi tersebut memungkinkan SLS mengangkat wahana Orion beserta astronaut keluar dari gravitasi Bumi dan memulai perjalanan menuju Bulan.

Misi Artemis II diluncurkan pada 1 April 2026. Misi berawak ini membawa empat astronaut dalam perjalanan mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi.

Mengapa Roket SLS NASA Bisa Memicu Gangguan Ionosfer?

Untuk memahami fenomena ini, perlu diketahui bahwa ionosfer merupakan wilayah atmosfer atas Bumi yang mengandung partikel bermuatan listrik, terutama elektron bebas dan ion positif.

Wilayah ini dimulai pada ketinggian sekitar 50–80 kilometer dan membentang hingga ratusan kilometer di atas permukaan Bumi.

Partikel bermuatan tersebut terbentuk terutama akibat interaksi radiasi Matahari dengan gas-gas di atmosfer.

Ketika roket meluncur dan mesin pendorongnya bekerja, aktivitas tersebut menghasilkan gelombang tekanan, gelombang akustik, serta gelombang gravitasi atmosfer yang dapat merambat hingga ionosfer.

Selain itu, gas buang dan energi dari mesin roket dapat berinteraksi dengan lingkungan atmosfer atas dan memicu perubahan kondisi plasma.

Interaksi tersebut dapat mengubah distribusi elektron bebas di suatu wilayah. Dalam kondisi tertentu, perubahan ini dapat berupa peningkatan maupun penurunan kepadatan elektron.

Penurunan konsentrasi elektron yang cukup besar dikenal sebagai ionospheric depletion atau deplesi ionosfer. Dalam sejumlah konteks, wilayah dengan penurunan elektron tersebut disebut ionospheric hole.

Dengan demikian, istilah lubang ionosfer bukan berarti lapisan udara menghilang, melainkan menggambarkan perubahan kepadatan elektron di wilayah atmosfer atas.

Penting pula untuk membedakan gelombang atau gangguan ionosfer yang terdeteksi dalam penelitian Artemis II dengan fenomena deplesi elektron. Keduanya berkaitan dengan dinamika ionosfer, tetapi bukan istilah yang selalu merujuk pada peristiwa yang sama.

Tiga Gangguan Ionosfer Teridentifikasi Selama Perjalanan Artemis II

Salah satu temuan penting penelitian Artemis II adalah teridentifikasinya tiga peristiwa gangguan ionosfer selama sekitar 25 jam perjalanan misi menuju Bulan.

Gangguan pertama muncul setelah peluncuran SLS pada 1 April 2026.

Ketika roket bergerak dengan kecepatan tinggi menembus atmosfer, terbentuk gelombang akustik dan gelombang gravitasi atmosfer. Gelombang tersebut merambat menjauhi jalur penerbangan roket dan memengaruhi kondisi ionosfer.

Gangguan kedua terjadi sekitar dua jam setelah peluncuran, ketika mesin tahap atas Interim Cryogenic Propulsion Stage (ICPS) melakukan pembakaran untuk manuver Apogee Raise.

Pembakaran ini menjadi salah satu peristiwa paling menonjol dalam penelitian. Gangguan yang dihasilkan dilaporkan membentang lebih dari 5.000 kilometer di kawasan Amerika Utara.

Gangguan ketiga teramati sekitar 25 jam setelah peluncuran, ketika sistem propulsi wahana Orion melakukan pembakaran untuk menjalankan manuver Trans-Lunar Injection (TLI), yaitu manuver yang menempatkan wahana pada lintasan menuju Bulan.

Hal menarik dari temuan ini adalah gangguan yang muncul setelah pembakaran mesin tahap atas dan manuver Orion memiliki amplitudo lebih besar dibandingkan gangguan yang berkaitan dengan peluncuran utama SLS.

Artinya, daya dorong terbesar sebuah roket tidak selalu menghasilkan gangguan ionosfer terbesar.

Lokasi dan ketinggian pembakaran mesin memiliki pengaruh penting. Pembakaran yang terjadi langsung di wilayah ionosfer dapat menghasilkan dampak berbeda dibandingkan pembakaran yang berlangsung lebih rendah di atmosfer.

Peneliti juga mencatat bahwa gangguan yang muncul dari manuver tahap atas memiliki karakteristik perambatan yang berbeda dari gelombang yang dihasilkan saat peluncuran.

Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas mesin roket pada berbagai tahapan perjalanan antariksa perlu diperhitungkan ketika mempelajari dampaknya terhadap lingkungan atmosfer Bumi.

Bagaimana Gangguan Ionosfer Bisa Memengaruhi Sinyal GPS?

Inilah salah satu aspek yang mendapat perhatian dari penelitian Artemis II.

GPS (Global Positioning System) bekerja dengan menerima sinyal radio dari satelit navigasi yang mengorbit Bumi.

Perangkat penerima kemudian menghitung jarak berdasarkan waktu tempuh sinyal dari beberapa satelit untuk menentukan posisi.

Masalahnya, sinyal tersebut harus melewati ionosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.

Ketika konsentrasi elektron di ionosfer berubah, karakteristik perambatan sinyal radio ikut berubah. Hal ini dapat memengaruhi waktu kedatangan sinyal sehingga menimbulkan kesalahan dalam perhitungan jarak dan posisi.

Dampak tersebut berpotensi menjadi perhatian bagi berbagai teknologi yang mengandalkan navigasi satelit, mulai dari kendaraan, drone, pesawat, kapal, hingga perangkat survei dan pemetaan berpresisi tinggi.

Dalam kondisi gangguan ionosfer tertentu, perubahan waktu rambat sinyal dapat menghasilkan kesalahan pengukuran posisi.

Namun, perlu dibedakan antara potensi kesalahan posisi berdasarkan perubahan sinyal dan gangguan GPS yang benar-benar dialami pengguna.

Penelitian Artemis II menganalisis perubahan ionosfer menggunakan data dari jaringan penerima GPS dan GNSS berbasis darat. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan adanya perubahan kandungan elektron di sepanjang lintasan sinyal.

Pemberitaan mengenai penelitian ini juga menyoroti kemungkinan kesalahan penentuan posisi hingga beberapa meter dalam kondisi tertentu.

Meski demikian, angka tersebut tidak boleh diartikan sebagai bukti bahwa seluruh perangkat GPS mengalami kesalahan posisi beberapa meter akibat peluncuran Artemis II.

Penelitian tersebut juga tidak membuktikan terjadinya kecelakaan kendaraan, gangguan penerbangan, atau kegagalan navigasi drone akibat peristiwa tersebut.

Dengan demikian, dampak terhadap GPS lebih tepat dipahami sebagai potensi risiko yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan sebagai gangguan operasional global yang sudah terbukti.

Roket Bisa Menjadi Sumber Baru Cuaca Antariksa Buatan Manusia

Selama ini, gangguan ionosfer lebih sering dikaitkan dengan aktivitas Matahari, badai geomagnetik, dan berbagai fenomena alam lainnya.

Namun, penelitian Artemis II memperlihatkan bahwa aktivitas manusia juga dapat memicu perubahan kondisi atmosfer atas Bumi.

Fenomena ini dikenal sebagai human-induced space weather atau cuaca antariksa yang dipicu aktivitas manusia.

Aktivitas peluncuran roket, pembakaran mesin pada ketinggian tertentu, serta interaksi gelombang dan gas buang dengan atmosfer dapat menghasilkan gangguan yang menjalar hingga ionosfer.

Fenomena ini menjadi semakin penting untuk dipahami seiring meningkatnya intensitas eksplorasi antariksa.

Semakin banyak misi menuju Bulan dan Mars, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami dampak aktivitas roket terhadap lingkungan atmosfer Bumi.

Di sisi lain, teknologi navigasi satelit membutuhkan sistem pemantauan atmosfer yang semakin canggih.

Pengukuran Total Electron Content (TEC), pemodelan ionosfer, serta teknologi koreksi sinyal menjadi bagian penting dalam mempertahankan akurasi GPS dan GNSS.

Penelitian Artemis II memberikan tambahan bukti bahwa aktivitas penerbangan antariksa dapat memengaruhi kondisi ionosfer dalam skala geografis yang luas.

Meski demikian, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengukur secara lebih rinci seberapa besar pengaruh gangguan tersebut terhadap sistem navigasi satelit dan berapa lama dampaknya berlangsung.

Penelitian Masih Memerlukan Kajian Lanjutan

Temuan mengenai gangguan ionosfer Artemis II menarik perhatian dunia sains karena memperlihatkan hubungan antara aktivitas penerbangan antariksa dan perubahan lingkungan atmosfer Bumi.

Namun, status publikasi penelitian juga perlu diperhatikan.

Laporan penelitian tersebut tersedia sebagai preprint, yaitu naskah ilmiah yang telah dipublikasikan secara daring sebelum menyelesaikan proses penelaahan sejawat (peer review).

Karena itu, hasil penelitian perlu dipahami sebagai temuan ilmiah awal yang masih dapat dikaji, diuji, dan dikembangkan melalui penelitian berikutnya.

Para peneliti juga perlu melakukan pengamatan lebih lanjut untuk memahami karakteristik gangguan, mekanisme pembentukannya, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap sistem navigasi satelit.

Dengan demikian, tantangan eksplorasi antariksa masa depan bukan hanya bagaimana manusia mampu mencapai Bulan atau Mars, tetapi juga bagaimana memastikan aktivitas tersebut tidak menimbulkan gangguan yang tidak diperhitungkan terhadap sistem teknologi di Bumi.

Fenomena Artemis II menjadi pengingat bahwa perjalanan manusia ke luar angkasa ternyata tidak sepenuhnya berhenti pada batas atmosfer. Aktivitas roket dapat meninggalkan jejak hingga ionosfer, wilayah yang memiliki peran penting dalam komunikasi radio dan navigasi satelit yang digunakan manusia setiap hari.

(nasa/newsweek/TechRadar/noaa/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN