Wednesday, November 4, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Teleskop NASA Swift Akan Jatuh ke Bumi 4 November 2026, Ini Misi dan Penemuan Besarnya Selama 22 Tahun

Mistar.idRabu, 4 November 2026 pukul 18.14 WIB
teleskop_nasa_swift_akan_jatuh_ke_bumi_4_november_2026_ini_misi_dan_penemuan_besarnya_selama_22_tahun

Teleskop NASA Swift Akan Jatuh ke Bumi 4 November 2026, Ini Misi dan Penemuan Besarnya Selama 22 Tahun. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

"Setelah hampir 22 tahun mengungkap ledakan dahsyat di alam semesta, Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA diperkirakan memasuki atmosfer Bumi pada 4 November 2026. Sebagian besar wahana akan terbakar, tetapi warisan penelitiannya tetap hidup."


Pematangsiantar, MISTAR.ID (4/11/2026) — Salah satu teleskop antariksa andalan NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, diperkirakan mengakhiri perjalanannya di orbit Bumi pada Rabu, 4 November 2026. Setelah hampir 22 tahun mengamati fenomena kosmik paling ekstrem, wahana tersebut diprediksi memasuki atmosfer dan sebagian besar komponennya akan terbakar akibat panas ekstrem.

Peristiwa ini menandai berakhirnya misi observatorium yang berperan penting dalam mengungkap gamma-ray burst (GRB), yakni semburan sinar gamma yang termasuk fenomena ledakan paling dahsyat di alam semesta.

Namun, Swift bukan sekadar teleskop biasa. Selama hampir dua dekade, wahana ini membantu ilmuwan mendeteksi, menentukan lokasi, dan mengamati ledakan kosmik yang berlangsung sangat singkat, tetapi menghasilkan energi luar biasa besar.

Apa Itu Teleskop NASA Swift dan Kapan Diluncurkan?

Neil Gehrels Swift Observatory merupakan observatorium antariksa milik NASA yang dirancang khusus untuk mendeteksi dan meneliti semburan sinar gamma.

Wahana ini diluncurkan pada 20 November 2004 dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, dengan nama awal Swift Gamma-Ray Burst Explorer.

Misi tersebut melibatkan kerja sama internasional antara NASA, Inggris, dan Italia. Pada 2018, namanya diubah menjadi Neil Gehrels Swift Observatory untuk menghormati Neil Gehrels, ilmuwan yang berperan besar dalam pengembangan misi sekaligus menjadi peneliti utama pertamanya.

Menariknya, Swift awalnya hanya dirancang untuk menjalankan misi utama selama dua tahun. Namun, kemampuan dan keandalannya membuat observatorium ini mampu beroperasi hampir 22 tahun.

Tiga Teleskop yang Membuat Swift Istimewa

Keunggulan Swift terletak pada tiga instrumen pengamatan yang bekerja secara terpadu, yakni:

Burst Alert Telescope (BAT), bertugas mendeteksi semburan sinar gamma dan menentukan lokasi awal ledakan.

X-Ray Telescope (XRT), mengamati pancaran sinar-X untuk mempelajari perkembangan dan karakteristik ledakan.

Ultraviolet/Optical Telescope (UVOT), mengamati cahaya ultraviolet dan cahaya tampak dari objek kosmik.

Ketiganya memungkinkan Swift mengamati satu peristiwa melalui beberapa panjang gelombang sekaligus.

Ketika BAT mendeteksi semburan sinar gamma, Swift dapat secara otomatis mengubah arah wahana untuk mengarahkan teleskop sinar-X dan ultraviolet ke lokasi kejadian. Informasinya juga segera dikirimkan ke Bumi agar observatorium lain dapat melakukan pengamatan lanjutan.

Kemampuan merespons dengan cepat inilah yang menjadikan Swift salah satu instrumen penting dalam penelitian astronomi modern.

Mengungkap Ledakan Dahsyat dan Kelahiran Lubang Hitam

Gamma-ray burst merupakan semburan radiasi berenergi sangat tinggi yang dapat terjadi ketika bintang masif mengalami keruntuhan dahsyat atau dua bintang neutron bergabung.

Fenomena ini berlangsung sangat singkat sehingga membutuhkan instrumen yang mampu mendeteksi dan mengarahkan pengamatan dalam waktu cepat.

Swift berhasil menjawab tantangan tersebut. Salah satu pencapaian pentingnya terjadi pada 2005 ketika wahana ini mendeteksi pancaran sisa sinar-X dari GRB 050509B, semburan sinar gamma pendek yang berlangsung sekitar 0,03 detik.

Pengamatan tersebut menjadi tonggak penting dalam memahami hubungan antara semburan sinar gamma pendek dan penggabungan bintang neutron.

Selain itu, Swift berkontribusi terhadap penelitian lubang hitam, supernova, galaksi aktif, komet, dan asteroid. Data yang dikumpulkannya telah mendukung sekitar 7.000 publikasi ilmiah.

Mengapa Teleskop Swift Jatuh ke Bumi?

Swift mengorbit pada ketinggian rendah atau dikenal sebagai Low Earth Orbit (LEO). Di wilayah ini, masih terdapat sisa atmosfer yang menghasilkan hambatan atau atmospheric drag.

Hambatan tersebut secara bertahap mengurangi energi orbit wahana sehingga ketinggiannya terus menurun.

Kondisi ini diperburuk oleh aktivitas Matahari. Ketika aktivitas Matahari meningkat, atmosfer bagian atas Bumi memuai dan menghasilkan hambatan lebih besar terhadap satelit di orbit rendah.

NASA mencatat ketinggian Swift telah mencapai sekitar 275 kilometer pada 20 Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat wahana semakin sulit mempertahankan orbitnya.

Swift kemudian menyelesaikan pengamatan ilmiah terakhir pada tanggal tersebut sebelum masuk ke mode aman dan menghentikan operasinya.

NASA sebenarnya sempat mengupayakan penyelamatan melalui misi robotik LINK yang dikembangkan Katalyst Space Technologies. Misi ini dirancang untuk mendekati Swift dan mendorongnya ke orbit lebih tinggi agar masa operasionalnya dapat diperpanjang.

Namun, upaya tersebut tidak berhasil.

Kapan dan Di Mana Swift Diperkirakan Jatuh?

Menurut NASA, Swift diperkirakan memasuki atmosfer Bumi pada 4 November 2026. Prediksi awal U.S. Space Force menyebutkan waktu sekitar pukul 03.30 EST, dengan ketidakpastian hingga 11 jam.

Sementara itu, GISTDA Thailand memperkirakan lokasi masuk atmosfer berada di sekitar Niger, Afrika, pada pukul 17.47 waktu Thailand atau WIB, dengan rentang ketidakpastian sekitar 2,5 jam.

Prediksi waktu dan lokasi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan orbit wahana.

Sebagian besar struktur Swift diperkirakan terbakar saat memasuki atmosfer. Namun, beberapa komponen berpotensi bertahan dan mencapai permukaan Bumi.

NASA memperkirakan risiko puing jatuh yang membahayakan seseorang sekitar 1 banding 2.100. Artinya, risikonya relatif rendah, meskipun tidak sepenuhnya nol.

Berakhirnya Misi Swift, tetapi Warisan Ilmiahnya Tetap Hidup

Berakhirnya operasional Swift bukan berarti berakhir pula manfaat ilmiahnya. Data pengamatan selama hampir 22 tahun masih dapat digunakan untuk penelitian dan menghasilkan temuan baru.

Kehilangan Swift memang menjadi tantangan bagi astronomi, terutama karena kemampuannya mendeteksi semburan sinar gamma dan meresponsnya secara cepat belum tentu dapat digantikan sepenuhnya oleh teleskop lain.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah antariksa. Satelit yang telah menyelesaikan misinya tetap membutuhkan perencanaan akhir masa operasional agar tidak menjadi ancaman bagi wahana lain maupun permukaan Bumi.

Setelah hampir 22 tahun mengungkap rahasia ledakan kosmik, Neil Gehrels Swift Observatory mungkin segera terbakar di atmosfer Bumi. Namun, ribuan penelitian dan pengetahuan yang dihasilkannya akan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan manusia memahami alam semesta.

(nasa/reuters/thenationthailand/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN