HEBOH! NASA Temukan Kawah Baru 222 Meter di Bulan, Munculkan Anomali Dingin 7 Km

Visual ilustrasi kawah baru di bulan yang diberi nama McGetchin memiliki lebar 222 meter dan kedalaman 43 meter, dengan lingkaran anomali dingin biru di sekelilingnya. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (24/9/2026) - Satelit pengorbit Bulan milik NASA menemukan kawah baru akibat tumbukan asteroid. Badan antariksa Amerika Serikat itu menyebutnya sebagai kawah baru terbesar yang pernah teridentifikasi di tata surya. Tumbukan sebesar ini diperkirakan hanya terjadi sekali dalam seabad di Bulan.
Kawah yang diberi nama McGetchin tersebut memiliki lebar 222 meter dan kedalaman 43 meter, atau hanya 6 meter lebih pendek dari Arc de Triomphe di Paris.
Para peneliti menemukan kawah itu pada 2025 ketika membandingkan citra permukaan Bulan dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO). Berdasarkan citra sebelum dan sesudah, kawah tersebut terbentuk antara 11 April hingga 22 Mei 2024.
Temuan itu dipublikasikan dalam dua studi di jurnal Science Advances pada 16 September 2026. Satu studi membahas identifikasi kawah, sementara studi lain meneliti dampaknya.
"Kawah McGetchin luar biasa karena merupakan kawah tumbukan baru terbesar yang telah diidentifikasi hingga saat ini," kata Tyler Powell, penulis utama salah satu studi, dikutip dari Space.com, Jumat (18/9/2026).
Titik Digingin 7 Km
Kamera LRO (LROC) menunjukkan material lontaran di sekitar kawah. Sementara Diviner Lunar Radiometer milik LRO mendeteksi anomali termal yang jauh lebih luas.
Data Diviner mengungkapkan titik dingin selebar sekitar 7 kilometer di sekeliling kawah dengan suhu 8—10 derajat Celsius lebih rendah dari permukaan sekitarnya pada malam hari.
Powell menjelaskan perbedaan suhu terjadi karena tumbukan mengurangi kepadatan regolit atau lapisan atas tanah Bulan sehingga kurang mampu menahan panas.
"Pembentukan kawah akibat tumbukan adalah salah satu proses yang paling umum dan penting di tata surya. Memahami bagaimana tumbukan memodifikasi permukaan penting untuk menafsirkan geologi dan sejarah Bulan," ujarnya.
Bulan memang dipenuhi kawah, tetapi sebagian besar sudah kuno dan berubah akibat tumbukan susulan serta pelapukan antariksa. Kondisi McGetchin yang masih alami memberi acuan berharga untuk memahami pembentukan dan evolusi kawah.
Lokasinya yang berada di perbatasan antara dataran rendah Bulan yang gelap dan tertutup basal serta dataran tinggi yang lebih terang juga memberi peluang untuk mempelajari dampak tumbukan pada dua lingkungan geologis berbeda.
Penemuan awal bermula dari pengamatan Robert Wagner dari Intuitive Machines melalui LROC. Ia menemukan kawah tersebut dengan teknik penumpukan citra sebelum dan sesudah.
"Ini benar-benar pola serpihan tumbukan paling jelas yang pernah saya lihat," kata Wagner dalam pengumuman resmi NASA.
Tim memperkirakan benda penabrak berukuran setinggi bangunan tiga hingga enam lantai, diduga batuan antariksa kecil atau komet berlapis es. Model produksi kawah menunjukkan tumbukan sebesar ini hanya terjadi sekali dalam 132 tahun.
Pemahaman tentang perubahan sifat fisik regolit akibat tumbukan dinilai penting untuk misi eksplorasi Bulan di masa depan, termasuk interaksi rover, wahana pendarat, dan peralatan lain dengan permukaan Bulan.
Salah satu penulis studi, David Paige, geofisikawan dari SPACE Institute UCLA, menyebut tumbukan bahkan bisa dipandang sebagai cara untuk mengolah regolit, yakni mengaduk sedimen dan mengangkat material bawah permukaan ke atas untuk kepentingan riset dan ekstraksi sumber daya. (CNN/Suara.com/hm02)










































