Rupiah Melemah 8 Poin, Tapi Sinyal Bahayanya dari Surplus Dagang yang Menyusut

Ilustrasi, kurs rupiah tidak seimbang. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (4/11/2026) — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026).
Rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.168 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.160 per dolar AS.
Pelemahan tipis ini ternyata menyimpan sinyal penting. Surplus perdagangan Indonesia mulai menyusut, sementara impor melesat lebih kencang daripada ekspor.
Peneliti Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi surplus perdagangan Indonesia yang lebih rendah dari bulan sebelumnya.
“Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11/2026) menyampaikan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Meski masih mencatatkan surplus, angka tersebut lebih rendah dibandingkan 3,55 miliar dolar AS pada Agustus,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Impor Ngebut, Ekspor Ketinggalan
Di sisi lain, impor tumbuh 18,41 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 11,87 persen.
Menurut Amru, peningkatan impor terutama barang modal dan bahan baku untuk mendukung aktivitas industri menunjukkan adanya kebutuhan produksi yang meningkat.
Namun, kondisi ini juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Pasar Kerja AS Masih Kuat, The Fed Bisa Tahan Suku Bunga
Melihat sentimen global, data lowongan pekerjaan Amerika Serikat atau JOLTS yang dirilis Selasa (3/11/2026) mencapai 7,52 juta, lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat dan dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Kendati begitu, indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan hari ini dinyatakan bergerak melemah ke sekitar 101,46 atau turun sekitar 0,40 persen.
“Koreksi dolar AS tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik, meskipun tekanan dari faktor domestik masih perlu diperhatikan,” ungkap Amru.
Pasar disebut akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis malam ini, terutama laporan ketenagakerjaan ADP dan ISM Services PMI.
Kedua data tersebut dianggap akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan aktivitas sektor jasa AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III pada Kamis (5/11/2026) juga akan menjadi perhatian pasar.
“Data ini diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global,” kata dia.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp18.140 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.148 per dolar AS. (hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Beras Gratis 30 Kg untuk 33,2 Juta KK, Bisa Diambil Duluan ke Bulog Jika Sudah HabisBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



Harga Tepung Beras dan Tepung Ketan di Pasar Horas Pematangsiantar Melonjak, Tembus Rp40 Ribu per Kg







































