Tuesday, August 18, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Nenek Moyang Mamalia Diduga Sudah Melahirkan Anak Hidup 236 Juta Tahun Lalu

Mistar.idSelasa, 18 Agustus 2026 pukul 10.01 WIB
nenek_moyang_mamalia_diduga_sudah_melahirkan_anak_hidup_236_juta_tahun_lalu

Rekonstruksi sekelompok individu Chiniquodon theotonicus, seekor betina hamil (kiri) serta seekor betina (kanan) yang menyusui beberapa anak yang relatif besar. (foto: María de los Ángeles Miceli Baro via Live Science/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (18/8/2026) — Nenek moyang mamalia ternyata mungkin sudah melahirkan anak hidup jauh lebih awal dari perkiraan ilmuwan. Sebuah studi terbaru menemukan indikasi bahwa Chiniquodon theotonicus, hewan karnivora seukuran anjing yang hidup sekitar 236 juta tahun lalu, kemungkinan berkembang biak dengan cara viviparitas.

Temuan ini mengisyaratkan bahwa kemampuan mempertahankan embrio di dalam tubuh induk hingga lahir mungkin telah muncul dalam garis keturunan mamalia 90 juta hingga 95 juta tahun lebih awal daripada perkiraan sebelumnya.

Penelitian tersebut dipimpin Leandro Gaetano, paleontolog di Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Nasional Argentina. Hasilnya dipublikasikan pada 13 Agustus 2026 di jurnal Frontiers in Mammal Science.

Petunjuk dari Fosil Cynodont

Mamalia modern dan sejumlah kerabat punahnya termasuk dalam kelompok Cynodontia, yang pertama kali muncul sekitar 260 juta tahun lalu pada Permian Akhir.

Setelah kepunahan massal sekitar 252 juta tahun lalu yang menandai awal periode Trias, kelompok cynodont berkembang dan mengisi berbagai relung ekologi yang tersedia.

Dalam penelitian terbaru, Gaetano dan timnya mengamati fosil Chiniquodon theotonicus yang ditemukan di wilayah barat laut Argentina. Spesies karnivora ini diperkirakan hidup sekitar 236 juta tahun lalu.

Perhatian para peneliti tertuju pada pola pertumbuhan tidak biasa yang ditemukan pada tulang fosilnya. Pola tersebut diduga merupakan garis neonatal, yakni tanda pada jaringan tulang yang terbentuk ketika pertumbuhan tubuh meningkat pesat setelah hewan lahir atau menetas.

Menurut Gaetano, pola semacam itu juga ditemukan pada tulang berbagai hewan darat yang masih hidup.

"Ketika berada di dalam telur atau rahim induk, ruang untuk tumbuh sangat terbatas sehingga pertumbuhannya berlangsung lambat. Setelah menetas atau lahir, ruang yang tersedia jauh lebih besar dan pertumbuhan berlangsung sangat cepat," jelas Gaetano kepada Live Science.

Berat Bayi Jadi Petunjuk Penting

Untuk memperkirakan ukuran C. theotonicus ketika lahir, para peneliti mengukur garis neonatal serta ukuran keseluruhan tulang kaki dan lengannya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa individu yang diteliti memiliki berat sekitar 12 kilogram ketika mati, sedangkan beratnya ketika lahir diperkirakan sekitar 1,7 kilogram.

Dengan demikian, bobot anak tersebut mencapai sekitar 14 persen dari massa tubuh dewasanya.

Angka itu kemudian dibandingkan dengan data dari ribuan spesies hewan yang masih hidup, terdiri atas 1.869 spesies mamalia, 2.619 reptil non-unggas, dan 782 burung.

Perbandingan tersebut memberikan petunjuk menarik.

Pada reptil berbobot 8 hingga 14,5 kilogram, anak yang dihasilkan umumnya hanya memiliki berat sekitar 0,1 hingga 0,6 persen dari massa tubuh induknya. Sementara burung dengan berat dewasa 8 hingga 21,5 kilogram biasanya menghasilkan anak dengan bobot sekitar 1,3 hingga 4,5 persen dari massa tubuh dewasa.

Sebaliknya, pada sejumlah mamalia dengan berat dewasa 8 hingga 15 kilogram, bobot anak ketika lahir dapat mencapai sekitar 20 persen dari massa tubuh induknya.

Salah satu contoh yang digunakan peneliti adalah duiker teluk (Cephalophus dorsalis), sejenis antelop yang melahirkan anak dengan bobot yang relatif sebanding dengan perkiraan berat anak C. theotonicus.

Kesamaan pola antara massa tubuh anak dan dewasa tersebut menjadi salah satu alasan tim menyimpulkan bahwa C. theotonicus kemungkinan melahirkan anak hidup, bukan bertelur.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN