Penemuan Aliran Bintang di Luar Bima Sakti Buka Jalan Baru Ungkap Materi Gelap

Gugusan bola bintang yang baru ditemukan di galaksi UGC9050-Dw1 dapat dilihat di area yang disorot pada gambar ini yang diambil oleh Teleskop Hubble. (foto: Teleskop Luar Angkasa Hubble via DTU/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (18/8/2026) — Untuk pertama kalinya, para peneliti menemukan aliran bintang yang berasal dari gugus bola di sebuah galaksi di luar Bima Sakti. Penemuan ini membuka peluang baru untuk menyelidiki materi gelap, salah satu misteri terbesar yang belum terpecahkan dalam astrofisika.
Penemuan tersebut dilakukan para peneliti dari Technical University of Denmark (DTU) dan Universitas Kopenhagen. Hasil penelitian mereka baru saja dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature.
Materi gelap diperkirakan membentuk sebagian besar materi di alam semesta. Keberadaannya diketahui melalui pengaruh gravitasinya terhadap benda-benda langit, tetapi para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti apa sebenarnya materi gelap itu. Karena sifatnya yang tidak memancarkan maupun memantulkan cahaya seperti materi biasa, materi ini disebut materi gelap.
Kini, penemuan pertama aliran bintang yang berasal dari gugus bola di galaksi selain Bima Sakti dapat memberikan petunjuk baru untuk mengungkap misteri tersebut.
Aliran Bintang Jadi Detektor Materi Gelap
Aliran bintang semacam ini sebenarnya telah dikenal di Bima Sakti. Sejumlah aliran bintang telah ditemukan di galaksi kita, tetapi baru kali ini aliran yang berasal dari gugus bola berhasil ditemukan di luar Bima Sakti.
“Penemuan ini membuka peluang baru untuk menyelidiki materi gelap, yang merupakan salah satu misteri terbesar yang belum terpecahkan dalam astrofisika modern,” kata Sarah Pearson, salah satu anggota tim peneliti sekaligus penulis makalah di Nature.
Makalah tersebut ditulis bersama mahasiswa doktoral Julie Kiel Holm sebagai penulis pertama. Penelitian dilakukan di Institut Niels Bohr, Universitas Kopenhagen, tempat Pearson bekerja sebelum baru-baru ini bergabung dengan DTU Space sebagai peneliti dan profesor madya. Pearson juga merupakan pembimbing doktoral Holm.
Aliran bintang dari gugus bola dapat digunakan sebagai semacam “detektor materi gelap”. Bidang penelitian ini tengah berkembang pesat, dengan para peneliti Denmark menjadi salah satu kelompok yang aktif mengembangkannya.
Kemajuan tersebut didukung satelit Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA), bersama teleskop berbasis darat yang memungkinkan para astronom menemukan semakin banyak aliran bintang di Bima Sakti.
Dalam beberapa tahun terakhir, kumpulan data berukuran besar dan metode analisis yang semakin canggih membuat aliran gugus bola menjadi salah satu alat yang menjanjikan untuk mempelajari galaksi.
Aliran bintang terbentuk ketika gaya gravitasi sebuah galaksi secara perlahan memisahkan kumpulan bintang padat yang dikenal sebagai gugus bola. Bintang-bintang tersebut kemudian meregang membentuk struktur panjang dan sempit yang disebut aliran bintang.
Fenomena ini sangat berguna untuk mempelajari materi gelap karena aliran bintang biasanya berada di wilayah terluar galaksi. Di kawasan tersebut, gangguan kosmik seperti gas dan konsentrasi bintang yang padat relatif lebih sedikit sehingga pola yang diamati dapat dianalisis dengan lebih jelas.
Jika para peneliti menemukan celah atau gangguan yang tidak dapat dijelaskan pada aliran bintang yang seharusnya relatif mulus, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah konsentrasi materi gelap tak terlihat yang melintas atau berada di dekat aliran tersebut.
Dengan menganalisis jejak kosmik itu, para astrofisikawan dapat mempelajari lebih jauh massa dan lokasi struktur tak terlihat yang terbentuk oleh materi gelap.
Ditemukan di Galaksi Ultra-Difus
Meski demikian, aliran gugus bola sangat sulit dideteksi di luar Bima Sakti. Sinyalnya sangat lemah dan dapat tertutupi oleh gangguan dari berbagai fenomena lain.
Dalam penelitian terbaru ini, aliran bintang ditemukan di galaksi ultra-difus bernama UGC9050-Dw1.
“Kami telah mengamati aliran gugus bola di galaksi ultra-difus. Fakta bahwa kita melihat ini di luar galaksi kita sendiri, Bima Sakti, menjadikannya penemuan besar dan unik karena hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Julie Kiel Holm.
Penemuan tersebut berarti para peneliti kini memiliki alat yang sebelumnya digunakan untuk mempelajari Bima Sakti dan dapat menerapkannya pada galaksi lain.
Hal ini memungkinkan pengukuran baru di luar galaksi kita, baik untuk menguji pengetahuan yang telah ada maupun memperoleh wawasan baru tentang materi gelap.
95 Persen Kandungan Alam Semesta Masih Misterius
Sebagian besar materi di alam semesta diperkirakan merupakan materi gelap. Namun, hingga kini para ilmuwan masih belum mengetahui komposisi sebenarnya dari materi tersebut.
Jika dilihat berdasarkan total kandungan massa dan energi alam semesta, materi biasa yang terdiri dari bintang, planet, gas, debu, dan benda-benda lain hanya menyumbang sekitar 5 persen.
Sekitar 27 persen merupakan materi gelap, sedangkan sekitar 68 persen sisanya adalah energi gelap, fenomena lain yang hingga kini masih terus dipelajari para ilmuwan.
“Penemuan ini membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Kita dapat mencari aliran gugus bola ini di galaksi selain Bima Sakti. Dalam jangka panjang, kita mungkin juga dapat mengukur seberapa banyak materi gelap yang ada di galaksi ultra-difus lainnya,” kata Sarah Pearson.
Lebih dari sekadar menemukan fenomena baru, para peneliti untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa aliran gugus bola dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur materi gelap di galaksi di luar Bima Sakti.
Temuan ini penting karena materi gelap memainkan peran besar dalam pembentukan dan evolusi alam semesta, tetapi sifat dan komposisinya masih sangat sulit dipahami.
“Kami menunjukkan bahwa alat yang sudah mapan dari galaksi kita sendiri dapat digunakan untuk memahami galaksi lain, di mana pengukuran distribusi materi gelap selama ini sangat sulit dilakukan,” ujar Julie Kiel Holm.
Bisa Menguji Pemahaman Materi Gelap
Dalam penelitian tersebut, para peneliti juga memperkirakan jumlah massa yang terkandung di galaksi UGC9050-Dw1, termasuk bagaimana massa dan materi gelap di dalamnya terdistribusi.
Menurut Holm, penemuan ini dapat membantu para ilmuwan menguji apakah pemahaman saat ini tentang materi gelap, yang sebagian besar didasarkan pada pengamatan terhadap Bima Sakti, juga berlaku pada galaksi lain.
“Pemahaman kita saat ini tentang materi gelap sebagian besar didasarkan pada satu galaksi, yaitu galaksi kita sendiri. Dengan kumpulan data yang lebih besar, para peneliti dapat mulai menyelidiki apakah model yang sama berlaku secara universal atau apakah materi gelap berperilaku berbeda tergantung pada lingkungannya,” katanya.
Para peneliti memperkirakan jumlah aliran gugus bola yang dapat diamati akan meningkat signifikan seiring hadirnya teleskop dan misi luar angkasa baru, termasuk Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA dan misi Euclid milik ESA.
“Ini adalah bidang penelitian yang sangat menarik dan berkembang pesat,” kata Sarah Pearson.
“Hal ini memberi kita peluang baru untuk mendapatkan wawasan tentang apa itu materi gelap dan, oleh karena itu, terbuat dari apa sebagian besar materi di alam semesta.”
(dtu/*/hm27)






















