Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Internet dari Langit, Satelit Bersiap Masuk Era 6G

Mistar.idKamis, 20 Agustus 2026 pukul 10.13 WIB
internet_dari_langit_satelit_bersiap_masuk_era_6g

Ilustrasi, Internet dari Langit, Satelit Bersiap Masuk Era 6G. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (20/8/2026) — Internet perlahan tidak lagi hanya bergantung pada kabel fiber optik dan menara seluler. Satelit mulai diposisikan sebagai bagian dari ekosistem konektivitas generasi berikutnya, terutama untuk menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan terestrial.

Perubahan ini terlihat dari semakin seriusnya pengembangan Direct-to-Device (D2D) dan Non-Terrestrial Network (NTN). Teknologi tersebut memungkinkan perangkat seperti ponsel berkomunikasi dengan jaringan melalui satelit, sekaligus membuka jalan menuju integrasi jaringan darat dan luar angkasa dalam era 6G.

International Telecommunication Union (ITU) pada 2026 telah menyepakati persyaratan kinerja untuk IMT-2030, nama teknis yang digunakan untuk 6G. Proses standardisasi ini menjadi salah satu fondasi menuju jaringan generasi keenam yang diproyeksikan hadir sekitar 2030.

Bukan Sekadar Internet Satelit

Internet satelit sebenarnya bukan teknologi baru. Perbedaannya, generasi terbaru tidak lagi semata-mata mengandalkan terminal khusus di darat.

Arah pengembangannya kini menuju Direct-to-Device, ketika perangkat konsumen dapat terhubung langsung ke satelit. Konsep ini memungkinkan satelit berperan sebagai lapisan jaringan tambahan ketika pengguna berada di luar jangkauan BTS.

ITU menilai D2D berpotensi menjadi lapisan baru infrastruktur telekomunikasi global dan membantu menutup kesenjangan cakupan di wilayah terpencil. Dalam jangka panjang, teknologi ini diarahkan menuju sistem konektivitas yang lebih menyatu antara jaringan darat dan jaringan berbasis satelit.

Artinya, masa depan jaringan bukan lagi sekadar memilih antara BTS atau satelit.

Keduanya justru dapat bekerja bersama.

Satelit Menjadi "Menara di Langit"

Perubahan tersebut sudah mulai terlihat dalam pengembangan konstelasi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO).

Starlink, misalnya, mengembangkan layanan Direct-to-Cell yang memungkinkan ponsel seluler terhubung melalui satelit. Dalam konsep ini, satelit pada dasarnya menjalankan fungsi yang menyerupai menara seluler di angkasa.

ITU mencatat bahwa Starlink menggunakan konstelasi LEO untuk mengembangkan layanan hibrida yang menggabungkan komunikasi satelit dan jaringan seluler terestrial melalui kemitraan dengan operator seluler.

Amazon juga masuk lebih jauh ke arena tersebut. Pada April 2026, Amazon mengumumkan rencana akuisisi Globalstar untuk memperluas kemampuan Direct-to-Device pada jaringan satelit Amazon Leo. Sistem tersebut ditujukan untuk membantu operator seluler menyediakan layanan suara, pesan, dan data di luar jangkauan jaringan terestrial.

Persaingan ini menunjukkan bahwa satelit mulai diperlakukan bukan hanya sebagai penyedia internet alternatif, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur telekomunikasi.

Fondasi NTN Sudah Dibangun di 5G

Integrasi satelit dengan jaringan seluler juga bukan sesuatu yang baru dimulai ketika 6G muncul.

3GPP telah memasukkan Non-Terrestrial Network (NTN) ke dalam spesifikasi 5G sejak Release 17. Standar tersebut mencakup dukungan akses satelit dan memungkinkan kesinambungan layanan antara jaringan terestrial dan satelit.

Pada Release 18, pengembangan NTN dilanjutkan dengan berbagai peningkatan, termasuk optimasi akses satelit dan peningkatan cakupan uplink untuk smartphone komersial.

Dengan kata lain, 6G tidak memulai konektivitas satelit dari nol.

Teknologi yang dikembangkan pada era 5G-Advanced menjadi salah satu pijakan untuk membangun jaringan yang semakin terintegrasi.

Fakta Menarik: Ponsel Biasa Bisa Menjadi Bagian dari Jaringan Satelit

Salah satu aspek paling menarik dari D2D adalah perubahan pada pengalaman pengguna.

Internet satelit sebelumnya identik dengan antena atau terminal khusus. D2D berusaha menghilangkan kebutuhan tersebut sehingga perangkat konsumen dapat menggunakan jaringan satelit secara langsung atau hampir tanpa perubahan perangkat keras khusus, bergantung pada teknologi dan layanan yang digunakan.

Konsep ini penting karena membuat satelit tidak lagi terasa seperti jaringan yang terpisah.

Bagi pengguna, yang terlihat hanya satu hal: ponsel tetap mendapatkan koneksi.

Di balik layar, jaringan dapat memilih atau berpindah antara akses terestrial dan satelit.

Tantangan Terbesar Ada di Spektrum dan Kapasitas

Meski terlihat menjanjikan, internet dari langit bukan solusi ajaib.

Satelit harus berhadapan dengan keterbatasan spektrum, kapasitas, daya pancar perangkat, pergerakan satelit, latensi, interferensi, serta regulasi di masing-masing negara.

3GPP mencatat bahwa jaringan NTN menghadapi persoalan khusus seperti mobilitas pada cakupan satelit yang bergerak, delay, kualitas layanan, hingga kesinambungan koneksi antara jaringan satelit dan jaringan terestrial.

Ada pula persoalan kapasitas.

BTS dapat ditambah atau ditingkatkan untuk melayani kawasan dengan kepadatan pengguna tinggi. Satelit memiliki sumber daya radio yang lebih terbatas dan harus melayani area cakupan yang jauh lebih luas.

Karena itu, satelit kemungkinan lebih efektif sebagai lapisan pelengkap daripada pengganti seluruh jaringan seluler.

Insight: Kekuatan 6G Justru pada Jaringan yang Tidak Terlihat

Di sinilah perubahan besar yang mungkin dibawa 6G.

Pengguna tidak harus mengetahui apakah koneksi mereka berasal dari fiber, BTS, Wi-Fi, atau satelit. Sistem jaringan dapat mengatur jalur koneksi berdasarkan lokasi, kebutuhan kapasitas, kondisi jaringan, dan jenis layanan.

Riset yang diterbitkan ITU Journal pada Juni 2026 bahkan mengeksplorasi penggunaan AI untuk mengatur jaringan 6G terintegrasi yang menggabungkan jaringan satelit dan terestrial.

Jika pendekatan ini berkembang, kecerdasan jaringan akan menjadi sama pentingnya dengan kecepatan koneksi.

Jaringan bukan hanya harus cepat, tetapi juga mampu menentukan jalur terbaik secara otomatis.

Perlombaan Satelit Menuju 6G

Karena itu, perlombaan menuju era 6G tidak semata-mata soal siapa yang memiliki satelit paling banyak.

Persaingan akan mencakup kemampuan membangun konstelasi LEO, memperoleh dan mengelola spektrum, mengembangkan perangkat yang kompatibel, bekerja sama dengan operator seluler, serta mengintegrasikan jaringan satelit dengan infrastruktur terestrial.

Starlink dan Amazon Leo menjadi dua nama besar yang tengah mengembangkan model tersebut, sementara industri dan regulator secara lebih luas terus mendorong integrasi satelit ke dalam ekosistem 5G dan 6G. ITU sendiri menyebut satelit dan jaringan seluler semakin bergerak dari dua sistem terpisah menuju sistem yang terkonvergensi.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan karakter kepulauan, perkembangan D2D memiliki relevansi besar.

Satelit dapat membantu menyediakan konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau pembangunan BTS, termasuk kawasan terpencil, laut, pegunungan, serta lokasi yang infrastrukturnya rentan terganggu akibat bencana.

Namun, keberhasilan teknologi tersebut tetap bergantung pada regulasi spektrum, kerja sama operator, kompatibilitas perangkat, kapasitas jaringan, serta model bisnis yang terjangkau.

Karena itu, masa depan internet Indonesia kemungkinan bukan satelit menggantikan BTS, melainkan satelit menjadi salah satu lapisan dari jaringan yang lebih luas.

Internet yang Semakin Sulit "Hilang"

Perlombaan menuju internet dari langit pada akhirnya bukan sekadar perlombaan membuat koneksi semakin cepat.

Tujuan yang lebih besar adalah membuat konektivitas tersedia di lebih banyak tempat dan dalam lebih banyak kondisi.

Ketika kabel putus, BTS terganggu, kapal berada jauh dari daratan, atau pengguna memasuki wilayah tanpa jaringan terestrial, satelit dapat menjadi jalur alternatif.

Di sinilah relevansi satelit terhadap 6G semakin jelas.

Masa depan internet mungkin bukan tentang memilih antara bumi dan langit, tetapi membuat keduanya bekerja sebagai satu jaringan.

(itu/amazon/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN