Martogi Veronica Manik, Tenaga Administrasi Katolik Teladan Moderasi di Madrasah

Martogi Veronica Manik (kiri) PPPK Kemenag di MIN 9 Langkat. (foto:istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Moderasi beragama di MIN 9 Langkat tercermin dari sosok Martogi Veronica Manik, tenaga administrasi beragama Katolik yang menjadi teladan harmoni di lingkungan madrasah.
Martogi merupakan lulusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap 2 Kementerian Agama yang ditempatkan di MIN 9 Langkat. Bekerja di madrasah sebagai minoritas sempat membuatnya ragu akan penerimaan lingkungan kerja.
“Sempat ragu, bisa tidak aku bekerja dengan nyaman? Apakah aku bisa diterima di madrasah? Tapi tekad untuk mengabdi di dunia pendidikan mengalahkan semua keraguan itu,” tuturnya, Senin (15/12/2025).
Pada masa awal bertugas, Martogi berupaya memahami budaya kerja madrasah, termasuk kegiatan keagamaan, adab pergaulan, serta pelayanan kepada siswa dan wali murid. Sambutan hangat dari guru dan pegawai memperkuat komitmennya untuk bekerja secara profesional.
Meski tidak berperan sebagai pendidik, Martogi dinilai berkontribusi dalam penguatan moderasi beragama melalui sikap dan tindakan sehari-hari. Ia melayani seluruh warga madrasah tanpa membedakan agama, latar belakang, maupun status sosial. Keramahan dan ketulusannya membuat wali murid merasa dihargai dan rekan kerja menaruh respek.
Dalam situasi perbedaan pendapat di lingkungan kerja, Martogi kerap menjadi penengah, membantu meredakan ketegangan serta menjaga suasana kerja tetap harmonis.
Martogi juga menunjukkan sikap hormat terhadap seluruh kegiatan keagamaan di madrasah. Ia terlibat dalam persiapan dan administrasi kegiatan bernuansa Islami, seperti tahfidz Al-Qur’an dan salat duha berjamaah, meski tidak mengikuti ibadah tersebut.
“Membantu kegiatan agama lain merupakan bentuk penghormatan, bukan kehilangan jati diri atau identitas kita,” katanya.
Kedekatannya dengan siswa menjadi contoh pembelajaran toleransi. Saat ditanya mengenai perbedaan keyakinan, Martogi akan menjawab, “Ibu berbeda, tapi kita semua saudara. Kita tetap harus saling menghargai.”
Ia menegaskan bahwa yang dilakukannya semata-mata bentuk pengabdian dan keyakinan bahwa keberagaman adalah anugerah.
Kepala MIN 9 Langkat, Sopian, menyebut Martogi sebagai bukti bahwa moderasi beragama tumbuh dari ketulusan.
“Bu Martogi merupakan bukti nyata bahwa moderasi beragama itu tumbuh dari hati, bukan dari seragam atau identitas,” ujarnya. (hm27)
















