Saturday, September 5, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Dua Korban Ditemukan Selamat, Nepal Intensifkan Pencarian Lebih dari 150 Orang Terjebak di Terowongan

Mistar.idJumat, 4 September 2026 pukul 22.59 WIB
dua_korban_ditemukan_selamat_nepal_intensifkan_pencarian_lebih_dari_150_orang_terjebak_di_terowongan

Tim penyelamat menemukan genangan air dalam jumlah besar di dalam terowongan saat menggali akses untuk mencapai korban. (foto: Kantor PM Nepal via BBC)

news_banner

Kathmandu, MISTAR.ID - Tim penyelamat di Nepal mengintensifkan pencarian terhadap lebih dari 150 orang yang dikhawatirkan masih terjebak di tujuh terowongan pembangkit listrik tenaga air, sembilan hari setelah banjir bandang dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China.

Harapan menemukan lebih banyak korban selamat menguat setelah dua orang berhasil dievakuasi hidup-hidup dari terowongan PLTA Trishuli 3A pada Jumat. Satu jenazah juga ditemukan di lokasi yang sama.

Dilansir BBC Jumat (4/9/2026), dua korban selamat tersebut adalah Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan. Keduanya warga negara Nepal.

Pada Jumat dini hari, tim penyelamat mendengar suara yang diduga berasal dari dalam terowongan Trishuli 3A. Menurut laporan lokal yang dikutip BBC, petugas kemudian memanggil orang di dalam dengan mengatakan mereka datang untuk menyelamatkan, lalu terdengar jawaban samar dari dalam terowongan.

Tim penyelamat kemudian masuk dan menemukan Shah serta Maharjan. Keduanya mengalami luka pada tangan dan kaki yang kemungkinan akibat merangkak di dalam terowongan.

Mereka selanjutnya diterbangkan ke Rumah Sakit Angkatan Darat di Kathmandu. Kantor Perdana Menteri Nepal menyatakan Maharjan berada dalam kondisi kritis, sementara Shah menjalani pemeriksaan medis.

Setelah penyelamatan tersebut, satu jenazah ditemukan di terowongan yang sama. Seorang pejabat setempat mengatakan kondisi tubuh korban telah membengkak sehingga belum dapat segera diidentifikasi.

Pemerintah memperkirakan masih ada 39 orang di dalam terowongan Trishuli 3A. Namun, belum diketahui apakah seluruhnya masih hidup.

Secara keseluruhan, operasi penyelamatan berlangsung di tujuh terowongan pembangkit listrik tenaga air yang diperkirakan menjadi tempat lebih dari 150 orang terjebak. Pencarian juga dilakukan di 19 lokasi lainnya.

Kolonel Jhabindra Reshmi mengatakan timnya telah menyelamatkan lebih dari 400 warga Nepal dan 270 warga negara asing sejak banjir bandang terjadi pada 26 Agustus.

Upaya mencapai para korban di dalam terowongan menghadapi kendala berat. Lumpur dan bebatuan menyulitkan petugas masuk sehingga tim harus menggali lubang akses untuk mencapai bagian bawah tanah.

Para insinyur juga memompa udara ke dalam terowongan.

Operasi penyelamatan semakin sulit karena banjir menghanyutkan banyak alat berat yang dibutuhkan untuk membuka akses terowongan yang tertutup.

Wakil Presiden Independent Power Producers of Nepal, Uttam Bhlon Lama, mengatakan penyelamatan dua orang pada Jumat menjadi dorongan bagi tim untuk terus melakukan pencarian.

Namun, ia menyebut ketinggian air banjir masih sangat tinggi.

Pemerintah Nepal juga memperingatkan hujan dapat menyebabkan banjir tambahan di kawasan tersebut.

Banjir bandang menerjang sebuah lembah di Himalaya pada Rabu pekan lalu dan menyapu desa-desa, bangunan, jalan serta kendaraan.

BBC melaporkan sedikitnya 1.287 orang tewas di Nepal dan 5.083 lainnya masih hilang.

Sementara itu, media China pada Jumat melaporkan 31 orang tewas di wilayah Tibet dan 531 lainnya belum ditemukan.

Ratusan warga negara asing dari sedikitnya 34 negara diyakini termasuk di antara mereka yang masih hilang.

Dampak bencana di Tibet hingga kini belum sepenuhnya diketahui. China telah merilis informasi melalui media pemerintah yang memperlihatkan kerusakan di kawasan perbatasan, tetapi hanya memberikan sedikit rincian mengenai korban maupun dampaknya terhadap warga setempat.

Para ilmuwan masih meneliti penyebab pasti banjir tersebut. Namun, bencana diyakini dipicu oleh runtuhnya gletser, sementara perubahan iklim disebut mungkin menjadi salah satu faktor.

Sesaat setelah peristiwa seismik yang awalnya diduga sebagai gempa bumi, gelombang besar air dan material menerjang kawasan di hilir serta menyapu bangunan, jalan dan kendaraan.

Para ahli dari Asian Mountain Academic Alliance, Stimson Centre serta Institute of Mountain Hazards and Environment China menemukan indikasi meningkatnya ketidakstabilan di sekitar gletser beberapa hari sebelum keruntuhan.

Mereka menilai sistem peringatan dini yang lebih baik berpotensi menyelamatkan lebih banyak nyawa. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN