Friday, September 4, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Masalah Keuangan Menahun Bisa Bikin Otak Cepat Tua

Mistar.idJumat, 4 September 2026 pukul 07.30 WIB
masalah_keuangan_menahun_bisa_bikin_otak_cepat_tua

Ilustrasi. (foto: AI/Mistar)

news_banner

London, MISTAR.ID - Masalah keuangan yang berlangsung bertahun-tahun ternyata dapat berkaitan dengan kesehatan otak. Penelitian terbaru menemukan tekanan finansial berkepanjangan berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif dan kondisi otak yang lebih buruk di kemudian hari.

Dilansir ScienceDaily, penelitian yang dipimpin University College London (UCL) itu melibatkan 2.759 orang di Inggris yang dipantau selama puluhan tahun melalui MRC National Survey of Health and Development atau British Birth Cohort Study 1946. Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal Innovation in Aging.

Peneliti menemukan orang yang terus-menerus mengalami kesulitan keuangan atau berpendapatan rendah sejak awal hingga pertengahan masa dewasa cenderung memperoleh hasil lebih buruk dalam tes kognitif pada usia 53 tahun.

Pada sebagian peserta yang kemudian menjalani pemeriksaan MRI pada usia 69 hingga 71 tahun, pendapatan rendah berkepanjangan juga dikaitkan dengan kesehatan otak yang lebih buruk, termasuk penyusutan atau atrofi otak yang lebih besar.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, seperti kemampuan kognitif pada masa kanak-kanak, tingkat pendidikan dan kondisi kurang menguntungkan semasa kecil.

Penulis studi, Dr Jacques Wels dari Unit for Lifelong Health & Ageing UCL, mengatakan penelitian sebelumnya umumnya hanya melihat kesulitan finansial pada satu titik waktu.

“Studi kami yang menggunakan data selama beberapa dekade memungkinkan kami melihat bahwa akumulasi kesulitan selama bertahun-tahun berkaitan dengan hasil kesehatan kognitif yang paling buruk, bukan kesulitan yang hanya terjadi sesekali,” kata Wels, dikutip dari ScienceDaily.

Sementara itu, penulis senior Profesor Praveetha Patalay mengatakan temuan tersebut menunjukkan dukungan terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan finansial dan pengurangan kemiskinan kronis juga berpotensi membantu mencegah penurunan kognitif dan kasus demensia di masa depan.

Stres Finansial Bisa Membebani Otak

Hubungan antara tekanan finansial dan kesehatan otak yang lebih buruk terlihat lebih kuat pada laki-laki, orang yang mengalami kondisi kurang menguntungkan sejak kecil, serta mereka yang membawa varian gen APOE-ε4, yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer.

Laki-laki yang mengalami tekanan finansial berkepanjangan juga memperoleh hasil tes kognitif lebih buruk pada usia 53 tahun dibandingkan perempuan dengan kondisi serupa.

Peneliti menduga salah satu penyebabnya adalah laki-laki dari kelompok kurang beruntung pada generasi tersebut lebih mungkin menjalani perilaku tidak sehat, seperti merokok dan penyalahgunaan alkohol. Selain itu, laki-laki dalam kelompok kelahiran 1946 lebih banyak berperan sebagai pencari nafkah utama sehingga tekanan keuangan mungkin dialami secara berbeda.

Sejumlah mekanisme biologis dan psikologis juga dinilai dapat menjelaskan hubungan antara kesulitan finansial dan penuaan kognitif. Salah satunya adalah stres kronis yang dapat memicu peradangan, yang diketahui berkontribusi terhadap penuaan otak lebih cepat.

Kekhawatiran terus-menerus mengenai pendapatan, tagihan dan kebutuhan hidup juga dapat meningkatkan cognitive load atau beban kognitif. Kondisi itu dapat menyita sumber daya mental sehingga kapasitas untuk menjalankan tugas kognitif lainnya menjadi lebih terbatas.

Dalam penelitian tersebut, pendapatan rumah tangga peserta dicatat pada usia 26, 43 dan 53 tahun. Mereka dikategorikan memiliki pendapatan rendah secara persisten jika berada dalam kelompok 20 persen berpendapatan terendah setidaknya dua kali. Sekitar 16 persen atau satu dari enam peserta masuk kategori tersebut.

Kesulitan finansial sehari-hari juga diukur melalui pertanyaan mengenai kemampuan memenuhi kebutuhan dari pendapatan dan membayar tagihan. Sekitar 12 persen atau satu dari delapan peserta tercatat mengalami tekanan finansial berkepanjangan antara usia 36 hingga 53 tahun.

Tes kognitif yang dilakukan mengukur memori verbal dan kecepatan pemrosesan informasi. Sementara pemeriksaan MRI digunakan untuk melihat kondisi otak, termasuk penyusutan serta pembesaran ventrikel atau rongga berisi cairan di dalam otak.

British Birth Cohort Study 1946 yang menjadi sumber data penelitian ini merupakan studi kohort kelahiran yang terus berjalan terlama di dunia. Para pesertanya genap berusia 80 tahun pada 2026. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN