Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Ebola di Kongo Tembus 3.000 Kematian, Seberapa Besar Risikonya bagi Dunia?

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 20.08 WIB
ebola_di_kongo_tembus_3000_kematian_seberapa_besar_risikonya_bagi_dunia

Ebola di Kongo Tembus 3.000 Kematian. (foto ilustrasi:cnn/halodoc)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/9/2026) — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terus membesar dan kini menjadi wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut. Hingga awal September 2026, jumlah kasus yang dilaporkan telah menembus 6.000 kasus, sementara angka kematian telah melampaui 3.000 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), per 26 Agustus, melaporkan epidemi ini telah menyebar ke 60 zona kesehatan di enam provinsi RD Kongo. Wabah tersebut disebabkan virus Ebola jenis Bundibugyo, salah satu spesies Ebola yang relatif jarang ditemukan.

Situasi ini menjadi perhatian dunia bukan semata karena tingginya angka kematian, tetapi juga karena cepatnya penyebaran wabah. WHO sebelumnya menilai risiko berada pada tingkat sangat tinggi di RD Kongo dan tinggi di negara-negara tetangga, sementara risiko di tingkat regional dan global masih tergolong rendah.

Lantas, seberapa besar ancaman Ebola bagi dunia, termasuk Indonesia?

Apa Itu Ebola dan Bagaimana Cara Penularannya?

Ebola adalah penyakit infeksi berat yang disebabkan virus dari genus Orthoebolavirus. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Dalam berbagai wabah sebelumnya, angka kematian Ebola berkisar 25 hingga 90 persen, dengan rata-rata sekitar 50 persen.

Virus Ebola dapat berpindah dari hewan ke manusia melalui kontak dengan hewan terinfeksi. Setelah masuk ke populasi manusia, penularan terutama terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun benda yang terkontaminasi cairan tersebut.

Ebola tidak menular melalui udara seperti COVID-19. Seseorang juga tidak dianggap menularkan penyakit sebelum mengalami gejala. Risiko penularan meningkat ketika penderita mulai menunjukkan gejala dan semakin tinggi seiring memburuknya kondisi penyakit.

Karakter penularan tersebut menjadi salah satu alasan Ebola dapat dikendalikan melalui isolasi pasien, pelacakan kontak, penggunaan alat pelindung diri, pengendalian infeksi dan pemakaman yang aman.

Apakah Ebola Bisa Masuk Indonesia?

Secara teori, kasus Ebola dapat masuk ke Indonesia melalui perjalanan internasional. Namun, masuknya satu kasus tidak otomatis berarti terjadi wabah luas.

Kementerian Kesehatan RI menyatakan Indonesia belum melaporkan kasus konfirmasi Ebola. Pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena mobilitas internasional memungkinkan terjadinya kasus impor dari negara yang sedang mengalami wabah.

WHO juga mencatat adanya kasus yang bepergian keluar dari RD Kongo, tetapi hingga penilaian terbarunya belum terdapat penularan berkelanjutan di luar RD Kongo. WHO menilai risiko global masih rendah karena sistem deteksi, kesiapsiagaan dan respons dapat membantu mencegah penyebaran lebih luas.

Karena itu, masyarakat Indonesia tidak perlu panik. Risiko terbesar berada pada orang yang melakukan perjalanan ke wilayah terdampak atau melakukan kontak erat dengan pasien Ebola.

Gejala Ebola yang Harus Diketahui

Gejala Ebola dapat muncul sekitar 2 hingga 21 hari setelah paparan virus. Pada tahap awal, gejalanya tidak spesifik sehingga dapat menyerupai penyakit infeksi lain.

Gejala awal yang dapat muncul antara lain:

- Demam

- Kelelahan atau tubuh sangat lemas

- Nyeri otot

- Sakit kepala

- Sakit tenggorokan

Setelah itu, penderita dapat mengalami muntah, diare, nyeri perut dan ruam. Perdarahan internal maupun eksternal juga dapat terjadi, tetapi perdarahan bukan gejala yang selalu muncul pada setiap pasien Ebola.

Karena gejala awal Ebola mirip dengan sejumlah penyakit lain, diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan infeksi.

Mengapa Wabah Ebola di Kongo Sulit Dikendalikan?

Salah satu masalah utama dalam wabah kali ini adalah banyaknya rantai penularan yang belum teridentifikasi.

WHO menyebut wabah telah berkembang di wilayah yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari krisis kemanusiaan, kondisi keamanan, keterbatasan fasilitas kesehatan hingga tingginya mobilitas penduduk dan aktivitas perdagangan.

Kondisi tersebut membuat petugas kesehatan lebih sulit menemukan setiap kontak pasien, mengisolasi kasus secara cepat dan memutus rantai penularan.

Tantangan lain adalah virus yang menyebabkan wabah kali ini merupakan Bundibugyo virus. Berbeda dengan Ebola virus (Zaire ebolavirus) yang memiliki vaksin berlisensi, belum terdapat vaksin berlisensi khusus untuk penyakit akibat Bundibugyo virus.

Apakah Vaksin Ebola Sudah Tersedia?

Jawabannya sudah, tetapi tidak untuk semua jenis virus Ebola.

WHO menyatakan vaksin Ervebo merupakan vaksin berlisensi dan telah dipra-kualifikasi WHO untuk mencegah penyakit yang disebabkan Ebola virus atau EBOV. Vaksin tersebut diberikan dalam satu dosis dan digunakan dalam situasi wabah yang relevan.

Namun, vaksin tersebut belum menjadi vaksin berlisensi untuk Bundibugyo virus yang menyebabkan wabah RD Kongo saat ini. Sejumlah kandidat vaksin dan terapi khusus Bundibugyo sedang dikembangkan dan diuji.

Artinya, keberadaan vaksin Ebola tidak berarti semua jenis Ebola sudah dapat dicegah dengan vaksin yang sama.

Ebola vs COVID-19, Mana yang Lebih Mematikan?

Jika yang dibandingkan adalah tingkat kematian di antara orang yang terinfeksi, Ebola jauh lebih mematikan.

WHO menyebut tingkat fatalitas Ebola dalam berbagai wabah berkisar 25 hingga 90 persen, dengan rata-rata sekitar 50 persen. Sebaliknya, COVID-19 memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih rendah, meski dampaknya secara global sangat besar karena virus SARS-CoV-2 jauh lebih mudah menyebar melalui pernapasan.

Perbandingan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Ebola bukan "COVID-19 yang lebih mematikan". Keduanya memiliki karakter penularan yang berbeda.

COVID-19 dapat menyebar melalui partikel pernapasan sehingga mampu menyebar sangat luas dalam waktu singkat. Ebola terutama membutuhkan kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau benda yang terkontaminasi.

Karena itu, tingginya angka kematian Ebola tidak berarti Ebola lebih berpotensi menjadi pandemi global dibanding COVID-19.

Risiko Global Tetap Perlu Diwaspadai

Wabah Ebola di RD Kongo menunjukkan bahwa penyakit dengan tingkat kematian tinggi tetap dapat berkembang cepat ketika sistem kesehatan menghadapi tekanan, mobilitas penduduk tinggi dan rantai penularan sulit dilacak.

Namun, risiko tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. WHO saat ini menilai risiko global dari wabah Bundibugyo di RD Kongo masih rendah, meski risiko di wilayah terdampak dan negara-negara tetangga jauh lebih tinggi.

Bagi Indonesia, kewaspadaan lebih penting daripada kepanikan. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak, kemampuan mendeteksi kasus secara dini, pelacakan kontak dan kesiapan fasilitas kesehatan menjadi kunci untuk mencegah kasus impor berkembang menjadi penularan lokal.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau orang yang baru kembali dari negara terjangkit dan mengalami gejala yang mengarah ke Ebola dalam masa hingga 21 hari untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan kata lain, Ebola memang menjadi ancaman kesehatan global yang serius. Tetapi bagi masyarakat Indonesia yang tidak memiliki riwayat perjalanan atau kontak dengan wilayah terdampak, tidak ada alasan untuk panik.

(who/ecdc/reuters/bpkpkemenkes/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN