Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Unimed Tegaskan AI Hanya Alat Bantu Akademik, Bukan Pengganti Dosen

Mistar.idSenin, 15 Desember 2025 pukul 20.52 WIB
unimed_tegaskan_ai_hanya_alat_bantu_akademik_bukan_pengganti_dosen

Ketua Senat Unimed Prof. Syawal Gultom (foto:Humas Unimed/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Universitas Negeri Medan (Unimed) menegaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus ditempatkan sebagai alat bantu akademik yang beretika, bukan sebagai pengganti peran ilmiah dosen.

Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan peningkatan literasi digital berbasis AI yang diikuti ratusan dosen di Aula Digital Library Unimed. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kualitas tridarma perguruan tinggi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unimed, Winsyahputra Ritonga, mengatakan transformasi digital merupakan hal yang wajib dalam pengembangan riset dan pengabdian masyarakat. Namun, pemanfaatan AI harus dibarengi dengan penguatan literasi digital agar tetap bertanggung jawab dan sesuai kaidah akademik.

“AI berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas kerja akademik, bukan menggantikan keahlian ilmiah dosen. Maka dari itu, kompetensi digital berbasis AI perlu terus ditingkatkan secara sistematis,” ujarnya, Senin (15/12/2025).

Sementara itu, Ketua Senat Unimed Prof. Syawal Gultom menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam penulisan buku referensi diperbolehkan sepanjang berfungsi sebagai alat bantu dan tidak melanggar etika akademik maupun hak cipta. AI tidak dapat menggantikan sumber rujukan ilmiah utama.

Menurut Prof. Syawal, buku referensi harus tetap disusun berdasarkan jurnal bereputasi, buku akademik, regulasi, dan data statistik resmi yang dapat diverifikasi.

“AI tidak boleh digunakan untuk menyusun substansi ilmiah tanpa dasar referensi yang sah. Integritas akademik harus menjadi prinsip utama,” ujarnya.

Prof. Syawal juga menegaskan karakteristik buku referensi, yakni fokus pada satu bidang ilmu, bersumber dari hasil penelitian, mengandung kebaruan, bersifat komprehensif, disusun secara logis dan ilmiah, orisinal, bebas plagiarisme, dilengkapi indeks dan glosarium, serta diterbitkan secara resmi ber-ISBN.

Dalam penjelasannya, Prof. Syawal membedakan buku ajar dan buku referensi. Buku ajar berorientasi pada pembelajaran, sedangkan buku referensi berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan. Transformasi dari buku ajar ke buku referensi menuntut pendalaman analisis teoritis, perluasan cakupan, dan penguatan riset mutakhir.

Dengan penguatan literasi digital berbasis AI ini, Unimed berharap dosen dan peneliti mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dalam menghasilkan karya ilmiah, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas, beretika, serta memiliki daya saing di tingkat nasional dan internasional. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN