Friday, August 21, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Surut Parah, Sungai Barito di Barito Selatan Tampak seperti Gurun

Mistar.idJumat, 21 Agustus 2026 pukul 20.58 WIB
surut_parah_sungai_barito_di_barito_selatan_tampak_seperti_gurun_

Air sungai mengering di kawasan bawah Jembatan Kalahien, tepatnya di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan dok. (FotoCNN via detik.com)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (21/8/2026) – Sungai Barito yang membentang sepanjang 1.090 km, dikenal sebagai sungai terpanjang kedua di Indonesia setelah Sungai Kapuas di Kalimantan Barat dengan panjang 1.143 km.

Perjalanan air Sungai Barito dimulai dari Pegunungan Muller. Kemudian menyusuri wilayah Muara Teweh di Barito Utara dan Buntok di Barito Selatan.

Di bagian hilir, alirannya sampai ke Kalimantan Selatan sebelum akhirnya bermuara ke Laut Jawa.Salah satu penanda penting di alur Sungai Barito adalah Jembatan Muara Teweh-Jingah yang berada di Kota Muara Teweh.

Kondisi sungainya sekarang, sedang tidak baik-baik saja. Kemarau panjang di Kalimantan Tengah (Kalteng) berdampak serius pada kondisi Sungai Barito.

Debit air yang terus menurun menyebabkan pendangkalan di sejumlah titik, hingga memunculkan hamparan pasir di tengah aliran sungai.

Fenomena itu tampak jelas di bawah Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, pada Jumat (21/8/2026).

Gosong pasir yang terbentuk memecah aliran air. Akibatnya sebagian area sungai kini terlihat seperti hamparan gurun atau pantai.

Transportasi Air TergangguWarga setempat, Rudi Hermansyah, mengatakan surutnya Sungai Barito sudah terlihat sejak awal Agustus.

Munculnya daratan di tengah sungai menjadi bukti penurunan debit air yang signifikan.

"Kondisi ini tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air. Beberapa kapal pengangkut barang dan tongkang mengalami kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal," kata Rudi.

Kapal yang biasanya menggunakan Sungai Barito sebagai jalur utama terpaksa memperlambat laju, mencari alur yang masih cukup dalam, bahkan tertahan karena air terlalu surut.

"Padahal Sungai Barito merupakan jalur penting untuk distribusi barang dan kebutuhan masyarakat di sekitar aliran sungai," ujarnya.

Jika kemarau terus berlanjut, gangguan terhadap transportasi air dikhawatirkan semakin meluas. Pendangkalan juga akan semakin membatasi ruang gerak kapal, khususnya kapal berukuran besar.

"Fenomena munculnya gosong pasir di sekitar Jembatan Kalahien menjadi gambaran nyata dampak kemarau panjang terhadap kondisi sungai di Kalimantan Tengah," pungkas Rudi.(CNN/detikcom/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN