River Coffee: Ngopi Sore di Dasar Sungai Silugonggo yang Lagi Surut

Sejumlah warga di Kabupaten Pati saat menikmati secangkir kopi di dasar Sungai Silugonggo, tepatnya di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, sambil melihat senja, Jumat (21/8/2026).(Foto: KOMPAS.com)
Pati, MISTAR.ID (22/8/2026) – Biasanya secangkir kopi dinikmati di angkringan, warung, kafe, atau di pinggir jalan. Tapi tidak bagi warga Pati, Jawa Tengah.
Saat musim kemarau membuat Sungai Juwana atau Sungai Silugonggo surut, mereka justru membawa tikar ke dasar sungai.
Pemandangan tak biasa itu terlihat di kawasan Ngantru, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati.
Di atas tanah retak dan bebatuan sungai, warga dari berbagai profesi menggelar terpal bekas penutup perahu. Di sanalah mereka duduk, menyeruput kopi, dan berbincang hingga senja.
Ari Subekti, warga Juwana, datang bersama teman-temannya sore itu. Baginya, ini cara melepas penat yang berbeda dari biasanya.
"Kalau biasanya ngopi di warung atau di sekretariat Jampi Sawan sambil diskusi serius. Kali ini kami coba dolan ke Ngantru," kata Ari, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, ngopi di dasar sungai memberi suasana baru. Selama ini sungai hanya dilihat dari atas jembatan. Kini mereka bisa duduk tepat di tengahnya.
"Siapa tahu dapat pencerahan baru. Ngopi sore bareng teman-teman di sini rasanya beda," ujarnya sambil tertawa.
Genangan air kecil di sekitarnya justru menambah daya tarik. Sesuatu yang biasanya tidak berani mereka lakukan, kini jadi mungkin.
"Mumpung ada kesempatan. Tuhan memberi kesempatan untuk ngopi di tengah sungai," katanya.
Ari menyebut fenomena ini sebagai alternatif baru: river coffee. "Kalau biasanya street coffee, sekarang river coffee. Ngopi di dasar sungai. Kayaknya asyik," tuturnya.
Warung kopi memang tidak ada di tengah sungai. Warga tetap memesan dari warung di tepian, lalu membawa kopinya turun ke dasar sungai.
Di sana, obrolan ringan mengalir, dari hal sepele hingga persoalan di Kabupaten Pati.
Lisin, warga Margoyoso, mengaku ini pengalaman pertamanya. Ia datang karena diajak teman.
"Saya datang karena lagi tidak ada kegiatan. Ternyata menyenangkan. Bisa kumpul bareng teman dengan suasana yang tidak biasa," ucap Lisin.
Bagi mereka, surutnya Sungai Silugonggo bukan sekadar fenomena alam. Kondisi langka itu justru disulap menjadi ruang sosial baru.
Di tengah kemarau, secangkir kopi dan tawa di dasar sungai menjadi cara warga Pati menikmati sore yang tak terlupakan.(Kompas.com/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Ganggu Beruang Kutub yang Sedang Tidur, Turis Didenda Rp94 Juta























