Friday, August 21, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Gempa Susulan NTT Capai 4.256 Kali, 78 Meninggal, Hampir 39 Ribu Rumah Rusak

Mistar.idJumat, 21 Agustus 2026 pukul 08.40 WIB
gempa_susulan_ntt_capai_4256_kali_78_meninggal_hampir_39_ribu_rumah_rusak

Tim Basarnas memeriksa puing-puing masjid yang runtuh akibat gempa bumi di Lamba Leda Utara, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Selasa (18/8/2026). (foto: AP/Firdia Lisnawati)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Gempa bumi susulan masih terus mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Jumat (21/8/2026) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.256 gempa susulan terjadi setelah gempa utama magnitudo (M) 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).

Berdasarkan pembaruan BMKG hingga Jumat pukul 05.00 WIB, magnitudo gempa susulan terbesar tercatat M6,2 dan terkecil M1,1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 31 gempa bermagnitudo di atas M5, sedangkan 118 gempa dirasakan masyarakat.

"Total gempa bumi susulan 4.256," tulis BMKG melalui kanal resminya, Jumat (21/8/2026).

BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan masih membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu untuk meluruh. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya mengatakan proses peluruhan berlangsung cukup lama karena kekuatan gempa utama mencapai M7,7.

Gempa utama terjadi Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Berdasarkan parameter yang telah dimutakhirkan BMKG, gempa berkekuatan M7,7 itu berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

BMKG mengidentifikasi gempa dangkal tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB.

Korban Meninggal 78 Orang, Hampir 39 Ribu Rumah Rusak

Sementara itu, berdasarkan data Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB per Kamis (20/8/2026) pukul 17.00 WIB, sebanyak 78 orang meninggal dunia.

BNPB juga mencatat 953 orang mengalami luka-luka dan 95.871 orang mengungsi akibat gempa dan rangkaian gempa susulan. Data tersebut merupakan pembaruan dari catatan sebelumnya yang masih menyebut 75 orang meninggal, 907 luka-luka, dan 92.735 mengungsi.

Kerusakan rumah juga bertambah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan. Pusdatinkom BNPB mencatat sebanyak 38.898 rumah mengalami kerusakan.

Rinciannya, 14.735 rumah rusak berat, 9.178 rusak sedang, dan 14.985 rusak ringan.

BNPB juga mendata kerusakan pada berbagai fasilitas dan infrastruktur, antara lain 244 fasilitas kesehatan, 220 rumah ibadah, 294 fasilitas perkantoran, 10 titik fasilitas irigasi, 45 titik akses jalan, satu pasar, dan 16 jembatan.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak gempa, dengan 502 sekolah mengalami kerusakan berat.

Bencana tersebut berdampak terhadap 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

Tenaga Ahli dan Perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, Jamjam Muzaki, mengatakan dari 8.664 ruang kelas yang terdata, 5.521 mengalami kerusakan dan 2.229 di antaranya rusak berat.

Akibat kondisi bangunan dan masih berlangsungnya gempa susulan, proses pembelajaran terhadap 116.324 murid terganggu. Sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah, 171 secara daring, 35 menggunakan sekolah darurat, dan 30 masih menjalankan pembelajaran tatap muka.

BNPB Distribusikan 729 Ton Bantuan

Di sisi penanganan darurat, BNPB menyatakan telah mendistribusikan 729 ton bantuan selama periode 15-20 Agustus 2026. Bantuan tersebut berasal dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB maupun berbagai donasi.

"Jumlah total distribusi bantuan dari hari pertama hingga tanggal 20, jadi tanggal 15 sampai 20 Agustus 2026, sebesar 729 ton. Sekali lagi, 729 ton baik itu bersumber DSP dari BNPB maupun dari donasi," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026).

Khusus pada Rabu (19/8), bantuan yang dikirim mencapai 167 ton. Kemudian pada Kamis (20/8), BNPB kembali mengirimkan 102 ton, terdiri atas 42 ton bantuan donasi dan 60 ton yang bersumber dari DSP.

Bantuan tersebut didistribusikan dari Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma menuju wilayah terdampak melalui Bandara Komodo Labuan Bajo dan Bandara Maumere.

Bantuan mencakup kebutuhan pangan dan nonpangan seperti sembako, makanan siap saji, obat-obatan, tenda, matras, selimut, kasur, hygiene kit, hingga genset. BNPB bersama unsur terkait juga terus menyisir wilayah yang belum terjangkau bantuan, termasuk menggunakan helikopter untuk daerah yang akses daratnya terganggu.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN