Pengamat Dorong Subsidi Transportasi Dialihkan ke Bus Listrik

Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Medan. (Foto: Dokumentasi Djoko Setijowarno)
Sebaliknya, insentif untuk sepeda motor listrik berisiko salah sasaran karena cenderung menguntungkan kelompok yang sudah memiliki daya beli,” ucapnya.
Sementara yang kedua, katanya, pengurangan kemacetan lalu lintas dan pemanfaatan ruang jalan secara efisien. Pasalnya, bus listrik mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Satu unit bus listrik berkapasitas tinggi dapat menggantikan 40-60 sepeda motor di jalan raya, sehingga secara efektif mengurangi kemacetan.
Sementara itu, sepeda motor listrik hanya mengubah jenis emisi tanpa mengatasi masalah tingginya volume lalu lintas kendaraan roda dua.
Kemudian yang ketiga, ucapnya, dampak lingkungan dan efisiensi emisi. Bus listrik secara drastis mengurangi emisi karbon dan polusi udara per penumpang, serta menawarkan efisiensi energi yang jauh lebih unggul per penumpang-kilometer,” tuturnya.
Meskipun sepeda motor listrik mengurangi emisi di tingkat individu, ia menilai bahwa dampaknya terhadap penurunan total emisi perkotaan relatif lambat jika jumlah keseluruhan kendaraan di jalan tidak berkurang.
“Keempat, peningkatan keselamatan lalu lintas. Peralihan pengguna jalan dari kendaraan roda dua ke bus listrik secara langsung menurunkan tingkat kecelakaan, mengingat sepeda motor menyumbang 75% dari kecelakaan di Indonesia, dengan rata-rata tiga kematian pengendara setiap harinya,” katanya.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah sepeda motor listrik yang memiliki karakteristik akselerasi instan dan pengoperasian senyap menimbulkan risiko keselamatan baru, kecuali jika dibarengi dengan edukasi pengendara yang memadai.
“Kelima, modernisasi dan efisiensi industri transportasi. Bus listrik membantu operator angkutan umum menekan biaya operasional harian jangka panjang sekaligus mempercepat modernisasi armada perkotaan,” ucapnya.
Lebih jauh, ia menilai pengalaman global menunjukkan bahwa keberhasilan elektrifikasi transportasi senantiasa memprioritaskan angkutan umum.
“Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah mengevaluasi kembali arah insentif nasional dengan mengalihkan fokus dari subsidi bagi sepeda motor pribadi ke penguatan armada bus listrik perkotaan, demi mewujudkan keadilan sosial, ruang kota yang berorientasi pada manusia, serta masa depan fiskal yang berkelanjutan,” ujarnya. (hm25)




































