Saturday, September 12, 2026
home_banner_first
MEDAN

Gambar Bareng Medan, Komunitas Seni yang Jadi Ruang Ekspresi dan Kreativitas Anak Muda

Mistar.idSabtu, 12 September 2026 pukul 19.17 WIB
gambar_bareng_medan_komunitas_seni_yang_jadi_ruang_ekspresi_dan_kreativitas_anak_muda

Tim GBM saat berkumpul untuk menggambar dan mengikuti sharing session di Medan. (Foto: Dok GBM/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (12/9/2026) – Berawal dari kecintaan sederhana terhadap dunia seni rupa, perkenalan Nuha Suhailah dan Syifa Aulia Rizka melalui media sosial melahirkan ide untuk membentuk ruang berekspresi bernama Gambar Bareng Medan (GBM).

Pertemuan keduanya bermula dari hobi menggambar secara mandiri, salah satunya melalui konten ilustrasi barista kafe yang kerap dibagikan Syifa. Keduanya kemudian mulai menunjukkan karya masing-masing melalui media sosial.

Melihat banyaknya respons masyarakat yang tertarik dengan kegiatan mereka, keduanya mulai mengajak para pencinta seni untuk berkumpul dan menggambar bersama di tengah Kota Medan. Di luar perkiraan, sejumlah generasi muda turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Target audiens kita memang Gen Z, mahasiswa, tetapi ternyata pekerja juga banyak yang mau ikut. Untuk menyegarkan pikiran sejenak dari pekerjaan, melakukan hobi,” kata Nuha kepada Mistar, Sabtu (12/9/2026).

Komunitas yang menjadi wadah bagi para penghobi seni gambar ini kemudian berkembang dan rutin menggelar kegiatan pada akhir pekan bagi generasi muda maupun pekerja. Dibantu rekan-rekan pengurus lainnya, perkumpulan ini akhirnya resmi dinamai GBM.

Mengusung prinsip have fun, kebebasan berkreativitas, serta tanpa pungutan biaya pendaftaran, grup WhatsApp GBM kini telah beranggotakan sekitar 150 orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja swasta hingga tenaga medis yang berasal dari Medan, Binjai, dan Pematangsiantar.

Dalam kegiatan yang digelar beberapa waktu lalu, GBM juga berkolaborasi dengan Nutri Hub untuk mengadakan sesi berbagi (sharing session), ice breaking, hingga lomba menggambar secara berkelompok dengan tema elemen visual tertentu guna mengasah kreativitas peserta.

“Karena saya juga pernah merasakan kesepian dalam berkarya, jadi harapan saya semoga orang-orang yang ada di sini tidak merasa sendirian lagi dan terus percaya diri untuk berkarya, bagaimanapun hasilnya,” tutur Syifa.

Mereka juga berharap semakin banyak kolaborasi yang terjalin dengan seniman lain, komunitas, lembaga maupun instansi untuk memperluas jaringan.

Ke depannya, mereka berharap dapat memperluas kolaborasi dengan seniman maupun komunitas, menghadirkan fasilitas hingga memiliki basecamp mandiri, serta menyelenggarakan lokakarya bagi anak-anak di sanggar belajar maupun sekolah luar biasa (SLB) di Kota Medan.

“Kalau bisa juga komunitas gambar kita bisa masuk ke tempat-tempat di pedalaman, atau membantu anak-anak untuk menumbuhkan jiwa seninya,” ucap Nuha.

Syifa juga menjelaskan bahwa logo GBM tidak dipilih secara sembarangan. Ia mengatakan, logo tersebut didominasi warna hijau yang melambangkan alam bebas, serta warna kuning yang merepresentasikan kesan kreatif dan aktif.

Terdapat pula elemen gambar kodok yang menjadi simbol lompatan tinggi, mencerminkan semangat anggota untuk berkreativitas dan melampaui batas.

Bagi para anggotanya, GBM bukan sekadar komunitas seni yang bertemu untuk menggambar lalu pulang ke rumah masing-masing. Zeevanyasuci, pengurus sekaligus pembina GBM, mengungkapkan bahwa komunitas tersebut menjadi tempat baginya untuk beristirahat sejenak dan menyegarkan pikiran.

“Senin sampai Jumat sudah disibukkan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan instansi dan birokrasi. Ketika ketemu dengan komunitas-komunitas kreatif seperti ini, di sinilah tempat healing yang murah meriah dan menemukan tempat yang cocok,” kata mahasiswi semester akhir itu sembari tersenyum.

Meski harus menempuh jarak jauh dari Pematangsiantar ke Medan, perempuan yang akrab disapa Zee itu mengaku tidak pernah merasa lelah setiap kali bertemu dengan rekan-rekan komunitas GBM.

Ia berharap GBM tidak hanya menjadi perkumpulan pemuda yang memiliki hobi menggambar, tetapi juga dapat berkembang dan memberikan dampak bagi masyarakat luas.

“Ya kalau bisa semakin luas, bisa open volunteer gitu. Bekerja sama dengan banyak pihak, dan berkembang luas tidak hanya di Medan tapi di berbagai kota di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Saat ini, GBM tengah mempersiapkan kegiatan menggambar bersama anak-anak di salah satu panti asuhan yang ada di Kota Medan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN