Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Orasi Ilmiah di USU, Menteri UMKM Soroti Angka Pekerja dan Pengangguran di Indonesia

Mistar.idKamis, 20 Agustus 2026 pukul 19.09 WIB
orasi_ilmiah_di_usu_menteri_umkm_soroti_angka_pekerja_dan_pengangguran_di_indonesia_

Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman saat hadir di USU. (foto: susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) RI, Maman Abdurrahman, mengatakan tantangan ketenagakerjaan di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data, di Indonesia saat ini tercatat sekitar 85,3 juta penduduk atau sekitar 57,8 persen angkatan kerja bekerja di sektor informal.

Hal itu disampaikannya saat memberikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Dies Natalis ke-74 Universitas Sumatera Utara (USU) di Auditorium USU, Kamis (20/8/2026).

Maman menegaskan isu pengangguran bukanlah masalah baru yang muncul dalam satu era kepemimpinan saja, melainkan persoalan struktural yang sudah berlangsung turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

“Artinya, kata pengangguran adalah sebuah realitas yang ada di tanah air kita. Pertanyaannya, apakah kita mau mempertahankan situasi pengangguran yang sekarang di tanah air kita masih terus ada, yaitu kurang lebih sekitar 7,24 juta pengangguran,” katanya.

Dari 7,24 juta pengangguran, sebanyak 3,59 juta jiwa atau sekitar 49,59 persen yang dapat diserap ke sektor swasta. Sementara itu, sekitar 600 ribu atau 8,29 persen berpotensi dapat diserap masuk ke institusi pemerintahan. Sedangkan kurang lebih 3,05 juta jiwa atau sekitar 41,49 persen masih belum terserap dan belum diketahui berpotensi didorong ke sektor mana.

Ia juga menyoroti populasi mahasiswa di Indonesia yang mencapai 10,43 juta orang, terdiri dari 9,24 juta berasal dari kampus negeri, dan 1,19 juta mahasiswa berasal dari perguruan tinggi agama. Puluhan juta mahasiswa ini berasal dari 3.841 perguruan tinggi di Indonesia, 186 di antaranya adalah kampus negeri dan 3.655 lainnya swasta.

Menurutnya, jika ingin memperdebatkan akar masalah, institusi pendidikan tinggi kerap dianggap turut berkontribusi menyumbang angka pengangguran terdidik.

“Tetapi saya katakan bahwa angka pengangguran yang sekarang kurang lebih tujuh juta tidak saja hanya bisa dibebankan kepada kampus, tapi saya sebagai Menteri UMKM dan kami pemerintah ikut bertanggung jawab untuk memikirkan kondisi ini,” tuturnya.

Maman memberikan beberapa solusi dalam penanganan pengangguran di tanah air. Yang pertama adalah remindset atau pola pikir kultural di masyarakat. Menurutnya, selama ini doktrin orang tua dan sistem pendidikan di Indonesia cenderung mengarahkan anak muda untuk menjadi pencari kerja (job seeker) alih-alih pencipta kerja (job creator).

“Jadi doktrin orang tua kita dari zaman kurang lebih 20, 30 tahun yang lalu, keberhasilan seorang anak, mahasiswa, keponakan diukur kalau dia bisa bekerja di swasta atau di pemerintahan sebagai PNS. Plus yang agak tinggi sedikit jadi dokter, polisi atau tentara,” ucapnya.

Hal inilah yang menurutnya menjadi salah satu penyebab angka pengangguran terus muncul. Pelajar hingga mahasiswa dibentuk dengan kurikulum dan doktrin untuk menjadi pegawai, bukan pengusaha (entrepreneur).

“Kurikulum kita atau selama ini mungkin tradisi kultural kita mencoba mendorong anak-anak kita menjadi pecinta pekerja. Bukan pencipta pekerja. Itu dua hal yang berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, angka rasio kewirausahaan di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan sejumlah negara di Asia maupun negara-negara maju di Eropa dan Amerika. “Ini menjadi PR dari Kementerian UMKM untuk mendorong rasio kewirausahaan kita agar bisa terus meningkat,” katanya.

Untuk menekan angka pengangguran, kata Maman, salah satu solusinya adalah dengan mendorong kampus sebagai laboratorium atau inkubator untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha hebat di tanah air.

Ia mencontohkan kisah sukses konglomerat Chairul Tanjung yang merintis bisnisnya CT Corp, bermula dari lingkungan kampus dengan berjualan fotokopi modul bahan kuliah.

Meski data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen anak muda di Indonesia sebenarnya memiliki minat yang tinggi untuk berwirausaha, angka tersebut masih berbanding terbalik dengan realisasi rasio kewirausahaan nasional yang masih rendah.

Oleh karena itu, kata Maman, kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah dan institusi kampus dinilai menjadi kunci utama untuk merubah orientasi generasi muda agar mandiri secara ekonomi dan siap menjadi motor penggerak perekonomian masa depan bangsa.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN