Tuesday, October 27, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Pasien Ebola di Nigeria Dipulangkan ke Swiss, 52 Kontak Erat Dipantau

Mistar.idSelasa, 27 Oktober 2026 pukul 15.20 WIB
pasien_ebola_di_nigeria_dipulangkan_ke_swiss_52_kontak_erat_dipantau

Pasien dipindahkan dari pesawat evakuasi medis ke helikopter Swiss Air-Rescue di Bandara Zurich, Swiss, Senin (26/10/2026). Pasien berada di dalam unit isolasi. (foto: Michael Buholzer/Keystone/AP)

Abuja, MISTAR.ID - Seorang perempuan warga negara Swiss yang terinfeksi virus Ebola di Nigeria dipulangkan ke negara asalnya bersama suaminya melalui evakuasi medis pada Senin (26/10/2026), setelah kondisinya membaik. Sementara itu, otoritas kesehatan Nigeria masih memantau 52 orang yang pernah melakukan kontak dengannya.

Menteri Kesehatan Nigeria Muhammad Pate mengatakan, pasien diberangkatkan dari Abuja pada Senin pagi setelah mendapat persetujuannya. Kondisi perempuan tersebut dilaporkan stabil, sadar, dan mampu berkomunikasi setelah melewati fase akut penyakit.

Meski demikian, Pate mengingatkan bahwa membaiknya kondisi pasien tidak berarti risiko penularan telah berakhir.

“Hal ini tidak berarti dia tidak lagi menular, sehingga protokol ketat tetap diberlakukan,” tulis Pate melalui platform X.

Kantor Kesehatan Masyarakat Federal Swiss mengonfirmasi bahwa pasangan tersebut telah tiba menggunakan penerbangan evakuasi medis. Pasien dirawat di Geneva University Hospital, sedangkan suaminya, seorang diplomat Swiss yang bertugas di Nigeria, menjalani isolasi di Zurich University Hospital.

Suaminya tidak menunjukkan gejala penyakit. Otoritas Swiss menyatakan kedua rumah sakit memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani mereka dan menilai tidak ada risiko bagi masyarakat setempat.

Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika, Mohamed Janabi, mengatakan evakuasi dilakukan karena keduanya merupakan warga negara Swiss. Ia juga mengapresiasi tim medis Nigeria yang berhasil menstabilkan kondisi pasien.

Setelah evakuasi tersebut, Nigeria tidak lagi memiliki pasien Ebola yang diketahui masih berada di negara itu. Namun, pemantauan terhadap 52 kontak erat tetap dilanjutkan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebaran virus.

Asal Penularan Masih Diselidiki

Perempuan tersebut dinyatakan positif Ebola setelah kembali ke Abuja dari Uganda. Hingga Jumat (23/10/2026), otoritas Nigeria belum memastikan bagaimana ia terinfeksi.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengatakan kepada The Associated Press (AP) bahwa perempuan itu tidak pernah mengunjungi Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). Ia diduga terinfeksi saat melakukan perjalanan ke Uganda bersama suaminya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) sebelumnya menyebut pasien pertama yang teridentifikasi di Nigeria dan Kenya sama-sama memiliki riwayat perjalanan melalui Bandara Internasional Entebbe di Uganda pada 3 Oktober.

Meski demikian, riwayat perjalanan tersebut belum cukup untuk memastikan hubungan penularan antara kedua kasus.

Kenya telah mencatat sembilan kasus Ebola, termasuk dua kematian, sejak mengonfirmasi kasus pertamanya pada awal Oktober.

Pada Senin (26/10/2026), pemerintah Kenya membebaskan 20 orang dari karantina setelah mereka memenuhi kriteria pemantauan. Sebanyak 98 orang lainnya dijadwalkan mulai dibebaskan pada Selasa pekan berikutnya.

Kementerian Kesehatan Kenya menjelaskan bahwa pembebasan dilakukan setelah evaluasi, termasuk memastikan setiap orang tidak mengalami gejala selama 21 hari sejak paparan terakhir.

Wabah Ebola Meluas di Afrika

Penyebaran Ebola ke luar DR Kongo meningkatkan kekhawatiran otoritas kesehatan terhadap meluasnya wabah virus Ebola jenis Bundibugyo.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), dalam pembaruan pada 26 Oktober 2026, mencatat DR Kongo telah melaporkan 9.964 kasus terkonfirmasi, termasuk 4.851 kematian, berdasarkan data hingga 24 Oktober.

WHO memperingatkan bahwa wabah tersebut berkembang dengan cepat dan berpotensi melampaui jumlah kematian dalam wabah Ebola Afrika Barat pada 2014–2016, yang menewaskan sekitar 11.000 orang.

Nigeria juga pernah terdampak wabah tersebut. Saat itu, negara itu mencatat 20 kasus sebelum wabah dinyatakan berakhir setelah sekitar tiga bulan.

Otoritas kesehatan di negara-negara terdampak terus memperkuat pengawasan dan pelacakan kontak untuk membatasi penyebaran virus lebih lanjut. (*/AP)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN