Korsel Kerahkan Pesawat Patroli Maritim ke Dekat Selat Hormuz

Sejumlah kapal terlihat melintas di Selat Hormuz, seperti yang terpantau dari wilayah Musandam, Oman, pada 3 November 2026. (foto: Reuters)
Seoul, MISTAR.ID - Korea Selatan berencana mengerahkan pesawat patroli maritim dan tim penjinak bahan peledak ke perairan dekat Selat Hormuz. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran strategis itu di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengonfirmasi pada Kamis (5/11/2026) bahwa pemerintah akan memperluas wilayah operasi unit angkatan laut Cheonghae. Unit yang selama ini bertugas melindungi kapal-kapal komersial dari ancaman pembajakan di Teluk Aden, lepas pantai Somalia, itu akan diperluas hingga mencakup perairan di sekitar Selat Hormuz.
Dikutip AFP dari Yonhap News Agency, pengerahan tersebut mencakup satu kapal perusak, pesawat patroli maritim P-8, tim penjinak bahan peledak (EOD), kapal permukaan nirawak, kendaraan bawah laut nirawak, serta kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh (ROV) untuk eksplorasi bawah laut.
Meski demikian, Seoul menegaskan bahwa misi tersebut tidak dimaksudkan untuk terlibat dalam operasi militer melawan Iran. Pemerintah Korea Selatan tetap berpegang pada kebijakan tidak ikut campur dalam perang, tetapi berupaya melindungi kapal dagang, warga negaranya, serta kepentingan ekonomi nasional.
"Penguatan misi unit Cheonghae bertujuan melindungi warga negara kami dan menjaga kepentingan ekonomi," ujar seorang pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan kepada wartawan dengan syarat identitasnya dirahasiakan.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa seluruh kegiatan unit Cheonghae akan dibatasi untuk kepentingan non-tempur. Pasukan Korea Selatan juga akan beroperasi secara independen dan tidak berada di bawah komando pasukan sekutu.
Wilayah operasi nantinya dibatasi di perairan internasional sebelah selatan Oman. Pesawat patroli maritim juga dilarang menargetkan atau memantau wilayah Iran, perairan teritorialnya, maupun bagian dalam Selat Hormuz.
Perluasan misi tersebut masih membutuhkan persetujuan parlemen Korea Selatan. Pasalnya, mandat operasi unit Cheonghae saat ini hanya berlaku hingga akhir 2026.
Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada September lalu menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengirimkan pasukan dengan cara yang berpotensi menyeret Seoul ke dalam intervensi militer.
"Kami selama ini mempertahankan prinsip tidak terlibat dan tidak melakukan intervensi dalam perang. Kami akan terus mempertahankan prinsip tersebut ke depannya," kata Lee.
Namun, rencana pengerahan aset militer Korea Selatan tetap mendapat perhatian Teheran. Iran sebelumnya telah memperingatkan Seoul agar tidak mengirimkan pasukan atau aset militernya ke kawasan tersebut. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Trump Tumbang! Harga Minyak Anjlok 8%, Indonesia Siap-siap Dapat Kabar Gembira Hari Ini?










































