Herzog Sahkan Hasil Pemilu Israel, Netanyahu Gagal Delegitimasi Suara Arab

Presiden Israel Isaac Herzog (kanan) menerima hasil resmi pemilihan umum dari Ketua Komite Pemilihan Umum Pusat, Noam Sohlberg. ( foto: Abir Sultan/EPA)
Yerusalem, MISTAR.ID - Presiden Israel Isaac Herzog mengakui hasil resmi pemilihan parlemen pekan lalu sebagai keputusan yang sah dan mengikat secara hukum. Herzog juga memulai konsultasi dengan perwakilan partai politik untuk menentukan kandidat yang akan diberi mandat membentuk pemerintahan baru.
Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para pendukungnya untuk mendelegitimasi hasil pemilu. Dalam pemungutan suara itu, Netanyahu dan koalisinya kehilangan mayoritas di parlemen Israel atau Knesset, sementara partai-partai yang dipimpin kelompok Arab mencatatkan pencapaian bersejarah.
"Pemilu telah selesai. Sekarang saatnya menghadapi kenyataan," kata Herzog, Rabu (4/11/2026) waktu setempat, seperti dikutip Associated Press (AP).
Netanyahu dan para pendukungnya berulang kali menuduh partai-partai Arab telah "mencuri" kemenangan dalam pemilu, bahkan dengan kemungkinan bantuan pihak asing. Namun, tuduhan tersebut tidak disertai bukti.
Pada Rabu malam, Herzog mulai bertemu dengan para pemimpin partai untuk menentukan kandidat yang akan diberi mandat membentuk pemerintahan. Proses ini berpotensi membuka jalan bagi kelompok oposisi Netanyahu untuk mengambil alih kekuasaan.
Komisi Pemilu Tak Temukan Kecurangan
Pada hari yang sama, Komisi Pemilihan Umum Israel menyatakan tidak menemukan bukti kecurangan yang dapat merusak integritas pemilu atau memengaruhi hasilnya.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah komisi menyelidiki berbagai tuduhan kecurangan yang diajukan sejumlah pihak.
"Tidak ditemukan bukti adanya penyimpangan yang membahayakan integritas pemilu atau memengaruhi hasilnya," demikian pernyataan komisi tersebut.
Sementara itu, badan intelijen Israel, Shin Bet, yang dipimpin David Zini, loyalis Netanyahu, masih menyelidiki dugaan campur tangan asing dalam pemilu.
Dalam pertemuan tertutup komite pemilu, Ketua Komite sekaligus Hakim Mahkamah Agung Noam Sohlberg membacakan penilaian intelijen Shin Bet. Badan tersebut menyebut adanya dugaan aliran dana dalam jumlah besar dari negara-negara asing ke Israel, termasuk negara-negara yang bermusuhan dengan Israel.
Namun, Shin Bet tidak menyertakan bukti untuk mendukung pernyataan tersebut. AP memperoleh transkrip penilaian intelijen itu dari seseorang yang menghadiri pertemuan dan meminta identitasnya dirahasiakan.
Sebelumnya, komite pemilu menyatakan dugaan campur tangan asing merupakan persoalan serius yang sedang diselidiki. Meski demikian, komite tidak meyakini bahwa intervensi semacam itu, jika benar terjadi, telah memengaruhi hasil pemilu.
Sohlberg kembali menegaskan posisi tersebut dalam upacara penyerahan hasil resmi pemilu kepada Herzog pada Rabu.
"Pada tahap ini, hal-hal tersebut masih sebatas kecurigaan. Bahkan jika terbukti, cakupan dampak potensialnya terbatas," kata Sohlberg.
Dia juga memperingatkan bahwa mempertanyakan hasil pemilu dapat membahayakan kepercayaan publik. Menurutnya, hasil pemilu telah sah dan mengikat secara hukum.
Kepercayaan publik terhadap proses pemilu, kata Sohlberg, "mudah dihancurkan, tetapi sangat sulit dipulihkan."
Konsultasi Politik Dimulai
Dalam pemilu 27 Oktober, baik blok Netanyahu maupun kubu pendukung rival utamanya, pemimpin oposisi Gadi Eisenkot, gagal memperoleh mayoritas kursi parlemen untuk membentuk pemerintahan.
Situasi ini membuka kemungkinan terbentuknya koalisi antara kedua kubu atau kerja sama antara Eisenkot dan sejumlah partai yang dipimpin kelompok Arab.
Herzog mulai menggelar pertemuan dengan perwakilan partai politik pada Rabu. Tiga faksi yang berasal dari basis religius-nasionalis Netanyahu merekomendasikan agar dia diberi kesempatan membentuk pemerintahan koalisi.
Sementara itu, satu faksi yang dipimpin mantan sekutu Netanyahu yang kini menjadi rival politiknya merekomendasikan Eisenkot.
Delapan partai lainnya, termasuk dua faksi Arab, dijadwalkan bertemu Herzog pada Kamis. Partai Yashar pimpinan Eisenkot dan Likud pimpinan Netanyahu dijadwalkan menyampaikan rekomendasi terakhir.
Setelah konsultasi selesai, Herzog akan menentukan kandidat yang dinilainya paling berpeluang membentuk pemerintahan koalisi. Kandidat tersebut kemungkinan adalah Netanyahu atau Eisenkot.
Herzog memiliki waktu beberapa hari untuk mengumumkan keputusannya. Selanjutnya, negosiasi pembentukan koalisi diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan.
Jika kedua kandidat gagal membentuk pemerintahan, Israel kemungkinan harus kembali menggelar pemilu pada awal tahun depan.
Shin Bet Ditolak Periksa Legislator Arab
Di tengah penyelidikan dugaan campur tangan asing, Shin Bet pada Selasa meminta persetujuan jaksa agung Israel untuk memeriksa sejumlah pejabat terpilih, termasuk pemimpin Partai Ra'am, Mansour Abbas, dan beberapa anggota parlemen senior dari kelompok Arab.
Permintaan tersebut dilaporkan sejumlah media Israel.
Namun, Jaksa Agung Gali Baharav-Miara menolak permintaan itu. Dia menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap warga negara maupun pejabat terpilih harus didasarkan pada bukti yang memadai.
"Tidak diperbolehkan menginterogasi warga negara atau pejabat terpilih tanpa bukti yang membenarkan tindakan semacam itu," kata Baharav-Miara.
Koalisi Daftar Bersama, yang terdiri atas partai-partai Arab, mengecam permintaan Shin Bet tersebut. Mereka menyebutnya sebagai bagian dari "kampanye hasutan" Netanyahu dan sekutunya untuk mendelegitimasi suara pemilih Arab.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, sekutu Netanyahu dari kelompok sayap kanan ekstrem, bahkan mendesak Shin Bet menangkap seluruh pemimpin partai politik Arab.
Dia meminta agar para pemimpin tersebut diinterogasi di ruang pemeriksaan bawah tanah hingga seluruh kecurigaan terungkap. Padahal, Ben-Gvir tidak memiliki kewenangan langsung atas Shin Bet.
Herzog menegaskan penyelidikan Shin Bet mengenai kemungkinan campur tangan asing tetap harus dilanjutkan. Namun, dia mengingatkan agar para pemilih Arab di Israel tidak menjadi sasaran tuduhan.
"Saya mengutuk pernyataan kasar dan ungkapan rasis yang kita dengar belakangan ini," ujar Herzog.










































