JD Vance Akui Perang AS-Iran Jadi Penyebab Kekalahan Republik, Trump Tetap Ngotot

Wakil Presiden JD Vance mendengarkan Presiden Donald Trump berbicara di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, 30 Oktober 2026. (foto: Alex Brandon/AP)
Washington D.C., MISTAR.ID - Wakil Presiden JD Vance mengakui serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran menjadi salah satu penyebab utama kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu (midterm election). Dalam pemilu yang berlangsung Selasa (3/11/2026) waktu setempat, Partai Demokrat berhasil merebut kembali kendali atas kedua kamar Kongres AS.
Pernyataan itu disampaikan Vance melalui unggahan panjang di media sosial pada Rabu. Ia menilai konflik militer pemerintahan Presiden Donald Trump telah memicu kekecewaan pemilih, termasuk mereka yang sebelumnya mendukung Partai Republik pada pemilu 2024.
"Alasan sebenarnya kami kalah sudah jelas bagi hampir semua orang," tulis Vance, dikutip ABCNews, Kamis (5/11/2026).
Ia mengaku telah berbicara dengan sejumlah lembaga survei yang menemukan adanya pergeseran dukungan dari pemilih Trump pada 2024 kepada Partai Demokrat dalam pemilu kali ini.
"Alasan kami kalah adalah perang," tegasnya.
Vance juga menyinggung konsekuensi politik dari konflik tersebut. Ia meminta pihak-pihak yang menganggap perang Iran sepadan dengan harga politik yang harus dibayar Partai Republik untuk menyampaikan argumen mereka secara terbuka.
"Jika Anda ingin berargumen bahwa semua itu sepadan, bahwa kehilangan Senat selama enam tahun ke depan merupakan harga yang pantas dibayar, silakan. Namun, setidaknya bersikaplah jujur," tulis Vance.
Trump Tetap Ngotot Serang Iran
Menanggapi pernyataan wakilnya itu di Gedung Putih pada Rabu, Trump mengaku pada dasarnya sependapat dengan penilaian Vance mengenai dampak perang terhadap hasil pemilu.
Meski begitu, Trump tetap mempertahankan keputusan pemerintahannya melancarkan serangan terhadap Iran. Ia beralasan operasi militer tersebut diperlukan untuk mencegah Teheran memiliki senjata nuklir.
"Jika harus mengulanginya, saya akan melakukannya lagi karena dalam jangka panjang, itu satu-satunya jawaban. Anda tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," kata Trump kepada wartawan.
Trump mengaku sejak awal telah mengetahui pandangan Vance mengenai perang tersebut. Ia juga menilai unggahan sang wakil presiden merupakan pernyataan yang baik.
Ketika ditanya apakah perang tersebut sepadan dengan konsekuensi yang ditimbulkan, Trump menjawab bahwa keputusan itu memang diperlukan.
"Saya rasa keputusan itu memang tepat. Bagaimanapun, tidak ada pilihan lain," ujarnya.
Trump juga menegaskan tidak akan mengubah keputusan maupun langkah yang telah diambil pemerintahannya terkait perang Iran.
Beban Ekonomi Jadi Pertimbangan
Meski Vance menyebut perang Iran sebagai penyebab utama kekalahan Partai Republik, survei pemilih ABC News menunjukkan persoalan domestik justru lebih banyak menjadi perhatian masyarakat AS.
Survei terhadap pemilih DPR AS menemukan 55 persen responden menganggap korupsi pemerintahan sebagai faktor krusial dalam menentukan pilihan. Sementara itu, 49 persen menyebut biaya hidup dan 34 persen menilai perang Iran sebagai faktor penting dalam menentukan suara mereka.
Konflik Iran turut mendorong kenaikan harga bahan bakar. Namun, kekhawatiran masyarakat terhadap biaya hidup tidak hanya berkaitan dengan pengeluaran energi.
Sebanyak 59 persen pemilih mengaku sangat khawatir terhadap biaya layanan kesehatan. Sekitar enam dari 10 responden juga menilai pemerintah federal seharusnya mengambil peran lebih besar dalam membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan.
Selain itu, 55 persen pemilih menilai kebijakan pemerintahan Trump telah membuat biaya kesehatan mereka semakin mahal. Hanya 10 persen yang mengatakan kebijakan tersebut justru memperbaiki kondisi biaya kesehatan mereka.
Kebijakan tarif impor Trump juga menambah beban ekonomi masyarakat. Berdasarkan laporan yang dikutip ABC News, tarif tersebut membuat rumah tangga rata-rata di AS menanggung tambahan pengeluaran hampir 1.000 dolar AS per tahun.
Dalam unggahannya, Vance turut menyoroti lemahnya strategi komunikasi ekonomi Partai Republik menjelang pemilu. Ia mengutip keterangan seorang lembaga survei yang menyebut pesan ekonomi partai tersebut tidak cukup kuat disampaikan pada tahap akhir kampanye.
Vance menolak anggapan bahwa kekalahan Partai Republik disebabkan rendahnya partisipasi pemilih pendukung Trump pada 2024. Menurutnya, para pemilih tersebut tetap datang ke tempat pemungutan suara, tetapi sebagian justru memberikan suara kepada Partai Demokrat karena kecewa terhadap kondisi negara.
Ia juga menyebut tingkat partisipasi pemilih Partai Republik tidak mengalami kemerosotan besar di negara bagian mana pun.
"Masalah utamanya adalah banyak orang yang memilih Trump/Vance pada 2024 justru memilih Demokrat pada 2026," tulis Vance. (*)










































