Thursday, November 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

IPB Temukan Gen Bakteri Resisten Antimikrob di Banten

Mistar.idKamis, 5 November 2026 pukul 09.14 WIB
ipb_temukan_gen_bakteri_resisten_antimikrob_di_banten

Bakteri Escherichia Coli. (Foto: Dinas Kesehatan)

Banten, MISTAR.ID – IPB University menemukan gen resistansi antimikrob pada bakteri Escherichia coli (E. coli) dari ekosistem pemotongan hewan di Provinsi Banten. Temuan ini menjadi perhatian karena gen tersebut dapat berpindah antarbakteri dan berpotensi membuat infeksi semakin sulit diobati.

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Hadri Latif, menjelaskan bahwa pangan menjadi salah satu jalur penyebaran mikroorganisme yang telah resistan terhadap antimikrob.

"Salah satu jalur mikroorganisme yang sudah resistan terhadap antimikrob untuk berpindah itu adalah melalui pangan," ujarnya, dikutip dari laman IPB University, Kamis (5/11/2026).

Menurut Hadri, gen resistansi dapat berpindah dari satu bakteri ke bakteri lainnya melalui mekanisme transfer gen. Kondisi ini berpotensi mengurangi efektivitas obat antimikrob sehingga infeksi akibat bakteri resisten semakin sulit ditangani.

Temuan tersebut berasal dari penelitian bertajuk Membaca Jejak Resistansi Antimikrob: Pendekatan Genomik untuk Kebijakan Berbasis One Health di Indonesia yang dilakukan di Banten sejak 2023.

Penelitian ini menggabungkan analisis genomik bakteri dari sektor manusia, hewan, dan lingkungan. Pendekatan tersebut menggunakan konsep One Health untuk memahami persoalan resistansi antimikrob secara menyeluruh.

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan teknologi whole-genome sequencing (WGS) untuk mengidentifikasi gen resistansi antimikrob atau antimicrobial resistance genes (ARG). Teknologi ini juga digunakan untuk mengetahui lokasi gen pada plasmid atau kromosom serta memperkirakan potensi resistansi terhadap beberapa kelompok antimikrob.

Pada sampel ekosistem pemotongan babi, peneliti menemukan gen resistansi yang berkaitan dengan 12 kelas antimikrob.

Analisis genomik juga menunjukkan potensi resistansi terhadap tiga kelas antimikrob atau lebih (multidrug resistance/MDR) pada 90 persen isolat hewan, 40 persen isolat lingkungan, dan 12,7 persen isolat manusia yang diteliti.

Angka tersebut merupakan proporsi isolat dalam sampel penelitian dan tidak menggambarkan prevalensi bakteri resisten di seluruh wilayah Banten.

"Pada isolat E. coli dari hewan dan lingkungan, sekitar 85 persen gen resistansinya ditemukan pada plasmid," tutur Hadri.

Plasmid merupakan molekul DNA di luar kromosom bakteri yang dapat membawa gen resistansi antimikrob. Pada jenis plasmid tertentu, gen tersebut dapat berpindah ke bakteri lain melalui mekanisme konjugasi.

Penelitian ini juga menemukan perubahan terkait gen resistansi terhadap kolistin. Gen mcr-1.1 yang terdeteksi pada sampel 2023 tidak lagi ditemukan dalam sampel 2026.

Hadri menyebut perubahan tersebut sejalan dengan penghentian penggunaan kolistin pada hewan.

Meski demikian, keberadaan gen resistansi dalam analisis genomik tidak serta-merta membuktikan bakteri telah resistan terhadap obat tertentu. Untuk memastikan respons bakteri terhadap antimikrob, diperlukan pengujian kepekaan secara langsung.

Menanggapi temuan tersebut, Hadri mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik sembarangan, termasuk saat mengalami batuk dan pilek.

"Batuk pilek belum tentu penyebabnya bakteri bahkan penyebab utamanya adalah virus. Padahal virus tidak bisa diobati dengan antibiotik," ucapnya.

Sebagian besar kasus batuk dan pilek disebabkan oleh infeksi virus. Karena antibiotik tidak efektif melawan virus, penggunaannya tidak tepat untuk mengatasi penyakit tersebut.

Penggunaan antibiotik secara berlebihan atau tidak sesuai aturan dapat mendorong munculnya bakteri resisten. Akibatnya, infeksi bakteri berisiko semakin sulit diobati.

Hadri menegaskan antibiotik merupakan obat untuk membantu mengatasi infeksi bakteri sehingga penggunaannya harus bijak, sesuai resep dan petunjuk dokter. (ipb)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN