Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Kehilangan Mayoritas di Parlemen Israel, Netanyahu 'Teriak' Pemilu Dicurangi

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 12.10 WIB
kehilangan_mayoritas_di_parlemen_israel_netanyahu_teriak_pemilu_dicurangi

Perdana Menteri Israel sekaligus pemimpin Partai Likud, Benjamin Netanyahu, berbicara kepada para pendukungnya dalam acara malam pemilu Partai Likud di Teddy Hall, International Convention Center, Yerusalem, pada 28 Oktober. (foto: Chris McGrath/Getty Images via CNN)

Tel Aviv, MISTAR.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding pemilu parlemen 27 Oktober dicurangi setelah koalisi pendukungnya kehilangan mayoritas di parlemen. Bersama sekutu sayap kanannya, Netanyahu menuduh partai-partai Arab melakukan manipulasi melalui praktik suap, pendanaan asing, hingga pemalsuan suara.

Namun, hingga kini, belum ada bukti yang menunjukkan terjadinya kecurangan sistematis dalam pemilu tersebut.

Seperti dilaporkan CNN, Selasa (3/11/2026) tuduhan itu terutama menyasar Joint List dan Raam, dua partai Arab yang mencatat peningkatan partisipasi pemilih dan berpotensi menjadi penentu dalam upaya oposisi mengakhiri kekuasaan Netanyahu.

Situasi ini mengingatkan pada 2015, ketika Netanyahu mengunggah video kontroversial yang memperingatkan pemilih sayap kanan bahwa warga Arab Israel sedang berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara. Setelah memenangkan pemilu, ia sempat meminta maaf atas pernyataannya tersebut.

Hasil pemilu terbaru belum menghasilkan pemenang mutlak. Blok pendukung Netanyahu hanya memperoleh 53 kursi, sedangkan kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot menguasai 48 kursi di parlemen yang memiliki 120 anggota.

Dengan dukungan 19 kursi dari partai-partai Arab, oposisi berpotensi mengumpulkan 67 kursi. Jumlah tersebut melampaui ambang mayoritas, yakni 61 kursi.

"Mereka melakukan ini karena mereka kalah," kata Eisenkot dalam pernyataan video pada Kamis.

Tuduhan Kecurangan Menguat

Kontroversi sebenarnya telah dimulai sebelum pemungutan suara. Pada pertengahan Oktober, Netanyahu dan Ketua Partai Religious Zionist Bezalel Smotrich mengumumkan pengerahan sekitar 2.000 pengawas ke tempat pemungutan suara di komunitas Arab dengan alasan mengantisipasi potensi kecurangan.

Pada hari pemilu, polisi menangkap tiga aktivis Raam terkait dugaan praktik pemberian uang kepada pemilih.

Channel 12 News kemudian melaporkan bahwa informasi awal mengenai penangkapan tersebut berasal dari kepala staf Netanyahu, yang disebut menghubungi langsung komisaris kepolisian.

Pengadilan menolak sebagian besar permintaan polisi untuk memberlakukan pembatasan ketat terhadap para tersangka. Beberapa di antaranya juga telah dibebaskan.

Meski demikian, Likud terus mengangkat kasus tersebut. Partai itu mengaku telah menyerahkan ratusan kesaksian yang menuduh Raam dan Joint List melakukan penyuapan, ancaman, kekerasan, serta pemalsuan dokumen.

Kontroversi semakin berkembang setelah Ketua Komite Pemilihan Umum Pusat Israel, Noam Solberg, mengirim surat kepada Direktur Shin Bet David Zini untuk meminta penyelidikan atas dugaan pendanaan asing.

Sekutu Netanyahu, Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, bahkan mendesak penangkapan para pemimpin partai Arab. Ben Gvir juga menuding Qatar mendanai upaya meningkatkan partisipasi pemilih Arab. Pemerintah Qatar membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak masuk akal serta berbahaya.

Otoritas Pemilu Bantah Kecurangan Sistematis

Komite Pemilihan Umum Pusat Israel menolak tuduhan adanya kecurangan berskala luas. Otoritas tersebut menyatakan tidak menemukan bukti yang mendukung klaim manipulasi sistematis dalam pemungutan suara.

Dalam pernyataan bersama pada Minggu, Ketua Komite Pemilihan Umum Pusat, Kepala Shin Bet, dan jaksa agung menegaskan bahwa pemilu telah berlangsung sesuai prosedur.

Mereka juga menyatakan bahwa sekalipun dugaan pendanaan asing terbukti, hal tersebut tidak akan membatalkan hasil pemilu ataupun merusak integritas proses pemungutan suara.

"Keputusan Anda di kotak suara akan dihormati," kata Solberg.

Namun, Likud tetap mempertanyakan hasil pemilu dan menyatakan bahwa masih ada "awan hitam" yang menyelimutinya.

Eisenkot menyebut tuduhan Netanyahu sebagai operasi pengaruh yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu dan menghambat pengumuman resmi.

Sementara itu, Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, menilai sikap tersebut mencerminkan perilaku seorang pemimpin yang menolak menerima kekalahan melalui kotak suara.

Joint List juga membantah upaya untuk meragukan legitimasi suara masyarakat Arab Israel.

"Anda menginginkan kami kecil dan lemah, tetapi yang Anda dapatkan justru kami menjadi besar dan kuat," bunyi pernyataan partai. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN