Pengusaha Truk Angkut Alat Berat Diduga Ogah Tanggung Jawab Setelah Pekerjanya Tabrak Mobil Avanza

Pengusaha truk angkut alat berat, A (kaos putih), saat bersama pemilik mobil Avanza, Bambang (kaos merah). (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Seorang pengusaha truk pengangkut alat berat di Ujung Serdang, Tanjung Morawa, Deli Serdang, berinisial A, diduga tak mau bertanggung jawab usai pekerjanya yang mengemudikan truk bermuatan alat berat BK 8862 GH menabrak mobil Avanza hitam BK 1508 LAA di Jalan Sisingamangaraja, Medan, persisnya di depan Markas Polda Sumut, Selasa (28/7/2026).
Akibat kecelakaan itu, mobil Avanza hitam mengalami kerusakan pada bagian depan karena dihantam truk tersebut. Selain itu, bagian belakang mobil juga mengalami kerusakan karena ditabrak kendaraan yang berada di belakangnya. Sedangkan pengemudi syok atau trauma.
Dijelaskan pemilik mobil Avanza, Bambang, peristiwa itu terjadi ketika istrinya melintas di lokasi kejadian sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, truk yang mengangkut alat berat tersebut berada tepat di depan kendaraannya.
Tak lama kemudian, truk yang dikendarai sopir bernama Andri Hutabarat ini mendadak berjalan mundur karena kondisi jalan yang menanjak. Meski sopir sudah mengaktifkan rem tangan dan menginjak pedal rem, truk bermuatan alat berat itu tetap mundur dengan sendirinya.
Akibatnya, truk angkut alat berat itu menghantam mobil Avanza hingga mobil tersebut menabrak kendaraan lain di belakangnya. Beruntung, kernet dan sopir truk bergerak cepat menghentikannya dengan mengganjal ban truk menggunakan kayu.
"Setelah ditabrak, saya datang minta tanggung jawab sopir truk untuk memperbaiki mobil yang rusak. Akan tetapi, sopir tak memberikan kepastian," ujar Bambang saat ditemui, Selasa (4/8/2026).
Lantaran tak ada kejelasan, Bambang memutuskan mendatangi kantor truk angkut alat berat tersebut di Jalan Sisingamangaraja, Ujung Serdang, bersama sopir tersebut. Sesampainya di sana, Bambang pun bertemu dengan A.
"Dia (A) menawarkan perbaikan mobil saya di bengkel kenalannya di daerah Medan Polonia atau di Cemara. Lantaran jauh dari tempat tinggal saya di Medan Johor, sehingga saya tidak setuju," sebutnya.
Bambang kemudian menyarankan kepada A agar perbaikan mobil tersebut dilakukan di bengkel Auto 2000 Medan Amplas. Bengkel tersebut merupakan tempat Bambang bekerja, sehingga bisa diskon dan mudah dikontrol.
"Dibilang dia estimasikan aja dan nanti infokan. Karena ada itikad baik, jadi saya percaya dan masukkan mobil ke bengkel Auto 2000," jelasnya.
Singkat cerita, keesokan harinya Bambang menginfokan kepada A lewat pesan Whatsapp bahwa biaya perbaikan harus dibayar karena mobil sedang dikerjakan. Namun A mendadak mengelak dan mengambil keputusan sepihak.
"Sudah saya hubungi berkali-kali tetapi nggak diangkat. Sore harinya baru lah dikabarinya lewat WhatsApp, dibilangnya bisa bantu biaya perbaikan Rp800 ribu," ucapnya.
Merasa tak terima, sore itu juga Bambang kembali mendatangi kantor A. Ia pun meminta pertanggungjawaban terkait biaya perbaikan mobilnya. "Dia (A) mengelak mengganti biaya perbaikan," pungkas Bambang.
Terpisah, A yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApps terkait masalah tersebut tak merespon. (hm25)
























