Over Supply Tekan Harga Ayam, Peternak Terancam Merugi

Ilustrasi peternak ayam. (foto: Muhammad Iqbal/Antara)
Medan, MISTAR.ID - Harga daging ayam di pasaran turun ke kisaran Rp30.000 per kilogram (kg) akibat melimpahnya pasokan atau over supply. Kondisi ini mengancam peternak lokal karena harga jual ayam di tingkat kandang anjlok menjadi Rp18.000 per kg, sementara biaya produksi terus meningkat.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan penurunan harga ayam sempat dikaitkan dengan penghentian sementara operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara saat sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Namun, meski dapur MBG kembali beroperasi dan pembelajaran tatap muka (PTM) kembali berjalan, harga ayam justru terus mengalami penurunan.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam termurah di Kota Medan berada di kisaran Rp32.000 per kg. Sementara itu, harga terendah mencapai Rp27.000 per kg di Pasar Dwi Kora, Pematangsiantar.
“Meski dapur MBG kembali beroperasi, harga daging ayam justru terus turun. Kondisi ini jadi ancaman bagi peternak lokal, karena harga jual ayam di tingkat kandang anjlok jadi Rp18.000 per kg,” kata Gunawan, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, berdasarkan observasi di lapangan, permintaan daging ayam dari dapur MBG maupun masyarakat justru mengalami peningkatan setelah kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung secara tatap muka. Permintaan dari sektor rumah tangga bahkan naik lebih dari 20 persen dibandingkan saat harga ayam masih berada di atas Rp40.000 per kg.
Di sisi lain, peternak menghadapi kenaikan biaya produksi. Sepanjang 2026, harga pakan ternak naik lebih dari Rp1.000 per kg sehingga turut meningkatkan harga pokok produksi (HPP) ayam.
Gunawan menjelaskan, penurunan harga tersebut bukan disebabkan melemahnya permintaan, melainkan melimpahnya pasokan ayam di pasaran.
Ia menelusuri kondisi itu hingga ke siklus produksi di sektor hulu, yakni masuknya Day Old Chicken (DOC) untuk Grand Parent Stock (GPS) pada Juni 2025. Proses produksi dari DOC GPS hingga menghasilkan ayam siap potong atau Final Stock (FS) membutuhkan waktu setidaknya 1,5 tahun.
Dengan demikian, saat ini industri peternakan mulai memasuki masa panen raya awal untuk ayam Final Stock yang bibit hulunya telah disiapkan sejak pertengahan 2025.
Jika kelebihan pasokan terus berlangsung dan menekan harga jual hingga merugikan peternak, kondisi tersebut berpotensi memicu penyesuaian produksi di tingkat hulu.
Langkah awal yang biasanya dilakukan peternak adalah memangkas jumlah DOC untuk Final Stock. Apabila tekanan operasional semakin berat, pengetatan kuota hingga pengurangan jumlah Grand Parent Stock (GPS) dapat dilakukan.
“Pada akhirnya, situasi ini menuntut duduk bersama antara peternak dan pemerintah untuk menghitung harga keekonomian ayam potong yang wajar,” tuturnya.
Gunawan menegaskan, intervensi pemerintah perlu dibarengi dengan perbaikan tata kelola rantai pasok secara menyeluruh agar stabilitas harga di tingkat peternak maupun konsumen dapat terjaga secara adil. (*)












































