Harga Tomat Melonjak 105,12 Persen, Pengamat Desak TPID Pematangsiantar Bergerak

Pedagang tomat di pasar tradisional Dwikora. (foto:abdi/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/11/2026) – Inflasi bulanan di Pematangsiantar pada Oktober 2026 turun tipis menjadi 0,09 persen dari sebelumnya 0,16 persen pada September. Meski begitu, harga beberapa bahan pangan tetap melonjak tajam. Tomat menjadi komoditas yang paling mencolok dengan kenaikan harga mencapai 105,12 persen sejak awal tahun.
Darwin Damanik, pengamat ekonomi dari Universitas Simalungun, menyebut lonjakan harga tomat di tengah menurunnya inflasi umum ini sebagai hal yang aneh dan menarik. Menurut dia, kondisi tersebut terjadi akibat dua faktor, yakni cuaca ekstrem dan rantai pasok yang rapuh.
“Curah hujan tinggi dan kondisi cuaca yang tidak menentu di daerah penghasil tomat seperti Simalungun dan Karo membuat banyak petani gagal panen. Kualitas hasil panenan juga turun,” kata Darwin kepada Mistar.id, Selasa (3/11/2026).
Masalah tidak berhenti di situ. Distribusi tomat semakin rumit karena hingga sekarang fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage di daerah ini masih minim. Akibatnya, pasokan semakin berkurang dan harga di pasar naik tajam.
Darwin menambahkan, komoditas seperti cabai dan tomat memang mudah memicu inflasi jangka panjang karena permintaannya tidak pernah turun. Kebiasaan masyarakat Pematangsiantar dan Sumatera Utara yang menggunakan cabai dan tomat segar dalam masakan sehari-hari membuat komoditas ini terus dibutuhkan.
Lebih jauh, hingga sekarang belum ada industri pengolahan pascapanen yang terintegrasi di pasar lokal, seperti pembuatan pasta tomat atau pengeringan cabai. Sistem pertanian pun masih terlalu bergantung pada alam. Selama belum ada solusi, siklus kenaikan harga setiap tahun dikhawatirkan akan terus berulang.
Secara angka, inflasi tahunan di kota ini mencapai 4,19 persen. Namun, Darwin mengingatkan bahwa angka rata-rata tersebut tidak selalu menggambarkan kondisi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Warga kelas menengah ke bawah, misalnya, menghabiskan lebih dari separuh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Harga bumbu dapur yang melambung langsung menggerus sisa uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membayar biaya sekolah atau berobat. Tekanan ekonomi harian pun semakin berat dan masyarakat merasa standar hidup ikut menurun.
Ada juga kabar baik. Meski kecil, harga daging ayam justru turun atau mengalami deflasi sebesar 0,29 persen pada bulan lalu. Namun, kata Darwin, penurunan tersebut belum cukup untuk mengompensasi mahalnya harga sayur-sayuran.
“Protein hewani, seperti ayam, itu tidak dimakan setiap hari dan masih bisa diganti dengan tahu-tempe. Tapi cabai, bawang, tomat, itu bahan dasar yang wajib ada di setiap masakan, setiap hari,” ujar Darwin.
Agar harga komoditas pangan lebih stabil, Darwin meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mulai beralih dari reaksi jangka pendek ke strategi struktural yang mampu mencegah masalah sejak awal.
Beberapa langkah yang dia sarankan:
- Operasi Pasar Presisi: Pasar murah jangan hanya digelar di pusat kota, tetapi harus menjangkau langsung kawasan perumahan padat penduduk agar dampaknya lebih terasa.
- Urban Farming Masif: Membagikan bibit cabai dan tomat hingga tingkat RT/RW agar warga bisa menanam sendiri di pekarangan rumah.
- Infrastruktur Penyimpanan: Membangun fasilitas Controlled Atmosphere Storage (CAS) di pasar induk yang dikelola BUMD agar tomat dan sayuran segar dapat disimpan lebih lama.
Pematangsiantar merupakan kota yang didominasi sektor konsumsi dan jasa. Jika terlalu bergantung pada mekanisme pasar bebas, kota ini sangat rentan terhadap gejolak harga. Kerja sama antardaerah dengan kabupaten-kabupaten produsen di sekitarnya juga dinilai sangat penting.
“Pemko Pematangsiantar dan BUMD pangan harus mulai memfasilitasi kontrak pasokan langsung dengan petani melalui contract farming. Gabungkan kerja sama antardaerah dan lumbung pangan lokal agar pasokan harian aman, harga terjaga, warga tidak keteteran, dan petani pun mendapat kepastian pasar,” pungkas Darwin. (hm27)






































