Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen, Pengamat Soroti Melemahnya Efek Belanja Lebaran

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID — Perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tumbuh 5,06 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Meski mencatatkan pertumbuhan positif, pengamat menilai terdapat anomali pada pola konsumsi masyarakat yang menunjukkan melemahnya efek belanja selama Ramadan dan Idulfitri.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang biasanya terdorong oleh konsumsi saat Ramadan dan Idulfitri mulai melemah.
"Dari data BPS, ada satu hal yang menarik. Kontribusi pertumbuhan ekonomi dari hasil geliat belanja selama Ramadan dan Idulfitri terlihat semakin melemah," kata Gunawan, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut terlihat dari sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang biasanya menikmati lonjakan aktivitas saat hari raya.
Pada 2026, ketika Ramadan dan Idulfitri sepenuhnya berlangsung pada triwulan I, sektor tersebut hanya mencatat pertumbuhan tipis. Sebaliknya, pertumbuhan lebih tinggi justru terjadi pada triwulan II yang tidak memiliki momentum hari besar keagamaan.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Sumut pada triwulan I 2026 tumbuh 0,25 persen, sedangkan pada triwulan II meningkat menjadi 2,57 persen.
Sebagai perbandingan, pada 2025 ekonomi Sumut terkontraksi 1,93 persen pada triwulan I dan tumbuh 2,54 persen pada triwulan II. Saat itu, sebagian momentum Ramadan dan Idulfitri masih berlangsung pada triwulan II.
Sementara pada 2022, ketika Ramadan dan Idulfitri sepenuhnya berada di triwulan II, pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut mencapai 3,61 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang hanya tumbuh 0,74 persen.
Gunawan juga menyoroti data Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT). Pada 2026, konsumsi rumah tangga justru tumbuh lebih tinggi pada triwulan II, yakni sebesar 2,88 persen.
Menurutnya, melemahnya dorongan konsumsi saat hari besar keagamaan dipengaruhi sedikitnya tiga faktor utama.
"Pertama, masyarakat secara sadar menahan diri dan mengerem pengeluaran konsumtif yang biasanya identik dengan perayaan Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, fokus pengeluaran bergeser ke kebutuhan yang lebih penting. Belanja sosial maupun belanja pegawai pemerintah, seperti pencairan gaji ke-13, juga banyak terjadi pada triwulan II," ujarnya.
Gunawan menambahkan, bagi pelaku usaha ritel, momentum Ramadan dan Idulfitri selama ini menjadi tolok ukur (benchmark) untuk memproyeksikan daya beli masyarakat sepanjang tahun.
Apabila konsumsi masyarakat pada periode tersebut melemah, hal itu menjadi sinyal bahwa sektor ritel akan menghadapi tantangan dalam beberapa bulan ke depan.
"Rilis data pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan bahwa dompet masyarakat sedang dalam tekanan. Masyarakat lebih memprioritaskan belanja untuk kebutuhan mendasar daripada mengikuti budaya pengeluaran saat hari raya," katanya.
Ia menilai perubahan pola konsumsi tersebut bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan menjadi indikator adanya tekanan terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
"Ini merupakan indikasi penurunan kualitas hidup masyarakat belakangan ini, di mana ruang untuk belanja sekunder atau perayaan semakin menyempit," tuturnya.
PREVIOUS ARTICLE
Bulog Sumut Tambah Distribusi Beras SPHP Jelang Musim Panen, Antisipasi Kenaikan Harga





















