Friday, November 6, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Asia Ambruk Parah, IHSG Malah Ngegas! Apa yang Bikin Bursa Indonesia Kuat Sendirian Jelang Akhir Pekan?

Mistar.idJumat, 6 November 2026 pukul 19.52 WIB
asia_ambruk_parah_ihsg_malah_ngegas_apa_yang_bikin_bursa_indonesia_kuat_sendirian_jelang_akhir_pekan_

ilustrasi, IHSG yang rebound saat bursa Asia melemah. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID (6/11/2026) — Pemandangan yang tidak biasa terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore.

Saat hampir semua bursa saham di Asia berguguran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berbalik menguat alias rebound.

IHSG ditutup menguat 20,17 poin atau 0,40 persen ke posisi 5.050,43. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,64 poin atau 0,90 persen ke posisi 518,28.

Sungguh berbanding terbalik dengan nasib bursa tetangga yang kompak memerah. Perjalanan IHSG hari ini bak roller coaster.

“Pada awal perdagangan IHSG dibuka melemah akibat sentimen negatif dari koreksi signifikan indeks di bursa Wall Street dan indeks di bursa Asia akibat tekanan pada saham sektor teknologi,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Tidak hanya itu, Ratna mengatakan koreksi IHSG sebelum berbalik menguat, juga disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) investor, setelah sehari sebelumnya IHSG menguat signifikan.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Artinya, investor yang sempat panik di pagi hari, kembali masuk dan memborong saham di siang hari. Inilah yang membuat IHSG selamat dari kejatuhan.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 6,04 persen ke 57.389,00, indeks Kospi melemah 6,02 persen ke 5.059,69, indeks Shanghai melemah 1,10 persen ke 3.649,18, indeks Hang Seng melemah 1,27 persen ke 24.481,86, dan indeks Strait Times melemah 2,17 persen ke 5.181,42.

Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan menjadi korban terparah. Keduanya anjlok lebih dari 6 persen dalam sehari! Penyebabnya sama: tekanan hebat pada saham sektor teknologi yang ikut terseret koreksi Wall Street.

Di tengah badai itu, IHSG justru mampu bertahan dan ditutup hijau. Ini menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia masih punya tenaga untuk melawan sentimen negatif global.

Dari mancanegara, harga minyak kembali koreksi di bawah level 100 dolar AS per barel seiring harapan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang lebih cepat setelah Partai Demokrat memenangkan pemilu sela (midterm).

Sementara itu, Iran dilaporkan tengah meninjau proposal yang diajukan oleh pihak mediator terkait program nuklir, namun tetap menginginkan pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pelonggaran sanksi dan pelepasan asetnya yang dibekukan.

Jika konflik AS-Iran benar-benar mereda, tekanan pada harga minyak dan pasar global bisa berkurang. Ini menjadi kabar baik bagi pasar saham, termasuk Indonesia.

Kabar Baik dari Dalam Negeri: Cadangan Devisa Naik, Ada Stimulus Rp1,28 Triliun!

Dari dalam negeri, ada dua kabar baik yang menjadi penopang IHSG.

Pertama, data cadangan devisa sedikit naik ke level 146,8 miliar dolar AS pada Oktober 2026, dari sebelumnya 146,3 miliar dolar AS pada September 2026.

Kedua, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Satu Orang Satu Rekening sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi penutup tahun 2026.

Kemudian, indeks harga rumah tercatat naik 0,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026, atau melambat dari sebelumnya 0,69 persen (yoy) pada kuartal II-2026.

Meski pertumbuhan harga rumah melambat, cadangan devisa yang naik dan stimulus pemerintah menjadi sentimen positif yang menahan IHSG agar tidak ikut jatuh seperti bursa Asia.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat, yaitu dipimpin sektor keuangan yang naik sebesar 1,04 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer yang naik sebesar 0,50 persen.

Sedangkan, sembilan sektor melemah, yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 2,67 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor transportasi dan logistik yang turun masing-masing sebesar 2,20 persen dan 1,16 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu AIMS, POLU, SMDM, KSIX, dan DUTI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar, yakni TAXI, NAYZ, LFLO, KREN, dan PPRO.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,09 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 46,78 miliar lembar saham senilai Rp10,31 triliun. Sebanyak 231 saham naik, 440 saham menurun, dan 291 tidak bergerak nilainya.

Untuk pekan depan, Ratna memproyeksikan IHSG akan menguji level ke kisaran 5.100-5.200 pada perdagangan pekan depan.

Apakah IHSG akan melanjutkan rebound dan benar-benar menembus 5.200? Atau justru kembali tertekan oleh gejolak global?

Yang jelas, penutupan hijau di tengah ambruknya bursa Asia hari ini menjadi modal penting bagi IHSG untuk melaju pada pekan depan.(Antara/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN