Transaksi Digital Festival Tao Toba Jou-Jou Tembus Rp6 Miliar, BI Belum Rinci Dasar Penghitungannya

Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga, Riza Putera, saat penutupan Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 di Segmen V Waterfront City Pangururan. (Foto: Kominfo Samosir/Mistar)
Samosir, MISTAR.ID - Bank Indonesia (BI) Sibolga menyebut transaksi digital selama Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 mencapai lebih dari Rp6 miliar. Namun, BI belum merinci komponen pembentuk angka tersebut maupun keterkaitannya dengan target perputaran uang yang sebelumnya berada pada kisaran Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga, Riza Putera, saat penutupan Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 di Segmen V Waterfront City Pangururan, Sabtu (8/8/2026).
"Total transaksi mencapai Rp6 miliar lebih. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari tahun lalu," kata Riza saat penutupan festival.
Namun, belum dijelaskan apakah angka Rp6 miliar lebih tersebut seluruhnya merupakan transaksi yang terjadi selama festival, transaksi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), atau mencakup transaksi digital lainnya yang berlangsung di kawasan Samosir selama periode kegiatan.
BI juga belum merinci nilai transaksi yang secara langsung berasal dari stan UMKM maupun metode yang digunakan untuk membedakan transaksi yang muncul akibat pelaksanaan festival dengan transaksi ekonomi yang memang berlangsung secara normal di Kabupaten Samosir.
Hal tersebut menjadi penting karena Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 berlangsung pada akhir pekan. Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah tujuan wisata sehingga kunjungan wisatawan pada akhir pekan tetap berpotensi menghasilkan transaksi ekonomi meskipun tidak ada festival.
Karena itu, angka transaksi digital Rp6 miliar lebih perlu dijelaskan berdasarkan periode penghitungan, sumber transaksi, jenis transaksi, serta metode yang digunakan untuk menentukan kontribusi festival terhadap angka tersebut.
Target Perputaran Uang Belum Terjawab
Sebelumnya, MISTAR.ID telah meminta konfirmasi kepada Humas Festival Tao Toba Jou-Jou 2026/BI Sibolga, Rani Sembiring, melalui pesan WhatsApp terkait target perputaran uang dan dampak ekonomi festival.
Konfirmasi tersebut disampaikan sebelum muncul pernyataan mengenai capaian transaksi digital lebih dari Rp6 miliar.
Salah satu pertanyaan yang diajukan menyangkut dasar penetapan target Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar. BI diminta menjelaskan apakah angka tersebut merupakan target transaksi riil selama festival atau estimasi dampak ekonomi yang memasukkan efek pengganda (multiplier effect).
BI juga diminta menjelaskan metode atau rumus yang digunakan apabila target tersebut merupakan estimasi dampak ekonomi.
Selain itu, MISTAR.ID mempertanyakan apakah penghitungan tersebut menggunakan konsep multiplier effect John Maynard Keynes, termasuk Marginal Propensity to Consume (MPC) atau kecenderungan masyarakat membelanjakan tambahan pendapatan.
Pertanyaan lain menyangkut economic leakage atau kebocoran ekonomi. Hal ini dapat terjadi ketika uang yang berputar selama kegiatan justru digunakan untuk membeli barang dari luar daerah, membayar pemasok dari luar daerah, transportasi, akomodasi, maupun kebutuhan lainnya.
Jumlah UMKM yang Terlibat Berbeda
Dasar penghitungan jumlah UMKM juga menjadi pertanyaan.
Sebelumnya terdapat informasi sekitar 51 stan atau tenant UMKM yang mengikuti festival. Namun, saat acara penutupan, Riza Putera menyebut sebanyak 85 UMKM terlibat dalam Festival Tao Toba Jou-Jou 2026.
Perbedaan jumlah tersebut belum dijelaskan secara rinci, termasuk apakah angka 85 UMKM menjadi salah satu dasar penetapan target perputaran uang.
Sebagai gambaran matematis, apabila target Rp2,9 miliar dibagi rata kepada 51 UMKM, nilainya sekitar Rp56,86 juta per UMKM selama festival. Namun, belum diketahui apakah angka tersebut memiliki hubungan dengan metode penghitungan target yang digunakan BI.
Komitmen Pembiayaan Rp1,17 Miliar
MISTAR.ID juga meminta penjelasan mengenai program business matching yang menghasilkan komitmen pembiayaan perbankan sebesar Rp1,17 miliar.
Komitmen tersebut terdiri dari Bank Sumut sebesar Rp500 juta, Bank Negara Indonesia (BNI) Rp300 juta, Bank Mandiri Rp200 juta, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rp170 juta.
BI diminta menjelaskan apakah nilai Rp1,17 miliar tersebut dihitung sebagai bagian dari target perputaran uang Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar.
Sebab, komitmen pembiayaan berbeda dengan transaksi riil. Komitmen merupakan kesanggupan pembiayaan, sedangkan dampak ekonomi baru dapat dihitung setelah pembiayaan direalisasikan dan digunakan untuk kegiatan usaha.
BI juga diminta menjelaskan berapa nilai dari Rp1,17 miliar yang telah benar-benar dicairkan kepada UMKM hingga Sabtu (8/8/2026), serta berapa jumlah UMKM yang menerima pembiayaan tersebut.
Transaksi UMKM Belum Dirinci
Selain itu, BI diminta membuka data transaksi aktual UMKM selama festival, termasuk total omzet, rata-rata omzet per stan per hari, biaya mengikuti festival, keuntungan, serta perubahan pendapatan pelaku usaha.
Hal tersebut relevan setelah sejumlah pelaku UMKM menyampaikan kepada MISTAR.ID bahwa pengunjung memang ramai, tetapi transaksi pembelian belum sesuai harapan.
Ramainya pengunjung tidak serta-merta menunjukkan tingginya transaksi UMKM. Pengunjung dapat datang untuk menikmati pertunjukan atau suasana festival tanpa melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Karena itu, jumlah pengunjung semestinya dilihat bersama nilai transaksi aktual dan pendapatan yang diterima pelaku UMKM.
BI Sebut Transaksi Naik Hampir Tiga Kali Lipat
Dalam penutupan festival, Riza mengatakan capaian transaksi digital lebih dari Rp6 miliar atau hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan festival mampu menciptakan ruang ekonomi bagi UMKM sekaligus mendorong masyarakat menggunakan transaksi digital.
Namun, Riza belum menjelaskan secara rinci komponen pembentuk angka tersebut.
Rincian itu diperlukan untuk mengetahui apakah angka Rp6 miliar lebih dapat dibandingkan secara langsung dengan target awal Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar.
Di sisi lain, BI memberikan penghargaan kepada UMKM berdasarkan capaian penjualan. Dame Ulos menjadi UMKM dengan penjualan terbanyak, yakni lebih dari Rp861 juta. Sementara kategori kuliner dengan penjualan terbanyak diraih Samosir Food dengan nilai lebih dari Rp58 juta.
Penghargaan UMKM terdigital diberikan kepada Keripik Sambal Cap Bulan, sedangkan kategori kuliner terdigital diberikan kepada Matahari Mangga Dua.
Capaian tersebut menunjukkan adanya pelaku UMKM yang memperoleh nilai transaksi cukup besar. Namun, belum dijelaskan bagaimana distribusi transaksi terhadap seluruh UMKM yang disebut mencapai 85 pelaku usaha.
Konfirmasi Belum Terjawab Utuh
Dengan munculnya angka transaksi digital lebih dari Rp6 miliar, dasar penghitungan target Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar menjadi semakin penting untuk dijelaskan.
Apakah angka Rp6 miliar lebih merupakan transaksi riil yang tercatat selama festival, bagaimana metode penghitungannya, serta sejauh mana angka tersebut merupakan dampak langsung Festival Tao Toba Jou-Jou 2026, belum dijelaskan secara rinci.
Demikian pula dengan komitmen pembiayaan Rp1,17 miliar yang perlu dibedakan antara nilai komitmen, realisasi pencairan, dan transaksi ekonomi yang benar-benar terjadi.
Hingga berita ini dikirim ke redaksi, MISTAR.ID belum memperoleh jawaban secara utuh atas seluruh pertanyaan konfirmasi yang telah disampaikan kepada Rani Sembiring selaku Humas Festival Tao Toba Jou-Jou 2026/Bank Indonesia Sibolga.
PREVIOUS ARTICLE
Wartawan Dibatasi Akses Panggung, PWI Samosir Soroti Panitia Festival Tao Toba Jou-Jou


















