Desy Damanik, Seniman Asal Asahan, Sukses Tampilkan Tari Filosofis Simalungun di Dana Indonesiana

Pertunjukan karya tari transformatif berjudul "M.A.R.T.O.L.U Sa Odoran" yang digagas dan dipentaskan oleh Desy Damanik, seniman asal Kabupaten Asahan. (Foto: Istimewa/Mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Panggung seni tetap bergemuruh dalam peluncuran karya kreatif inovatif garapan Desy Wulan Pita Sari Damanik, seniman asal Kabupaten Asahan yang berhasil lolos pendanaan program bergengsi Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Pertunjukan yang digelar di Taman Budaya Medan pada Sabtu (23/5/2026) malam berlangsung di tengah padamnya aliran listrik yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi hambatan berarti bagi Desy dan timnya. Situasi itu justru menjadi bukti ketangguhan para pekerja seni dalam menghadapi berbagai tantangan.
Atmosfer pertunjukan tetap terasa intim dan magis. Penonton yang memadati area luar ruangan tetap tertib, sementara panitia bergerak cepat menyediakan pencahayaan alternatif sehingga pertunjukan dapat berlangsung tanpa kendala berarti.
“Saya bersyukur. Acara ini bukan hanya sekadar pementasan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi besar bagi para pelaku dan penikmat budaya. Saya juga bersyukur karena pertunjukan dapat berjalan sukses dan lancar,” kata Desy kepada wartawan di Kisaran, Rabu (3/6/2026).
Menurut Desy, kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Asahan, sejumlah sanggar seni, serta komunitas kepemudaan. Beberapa sanggar yang terlibat antara lain Sanggar Semenda dari Medan, Sanggar Sihoda dari Pematangsiantar, dan Sanggar Jojo Dancer dari Sidamanik. Selain itu, hadir pula para pemuda berprestasi yang tergabung dalam Duta Pelajar Nusantara Sumatera Utara.
Tak hanya itu, ratusan seniman dan budayawan dari berbagai daerah, seperti Asahan, Simalungun, dan Medan, turut memenuhi area pertunjukan untuk menyaksikan langsung karya Desy dalam kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif.
Mengangkat Filosofi Simalungun ke Panggung Modern
Dalam pertunjukan tersebut, Desy menampilkan karya tari transformatif berjudul "M.A.R.T.O.L.U Sa Odoran". Judul itu merepresentasikan filosofi masyarakat Simalungun, yakni Tolu Sahundulan (tiga kedudukan) dan Lima Saodoran (lima yang berjalan seiring).
Menurut Desy, MARTOLU merupakan akronim dari Manusia, Adat, Roda ni Goluh, Tolu Sahundulan, Lima Saodoran, dan Uhur Sada Saodoran. Karya tari tersebut terinspirasi dari Hiou, kain tradisional yang menjadi simbol penting dalam siklus kehidupan masyarakat Simalungun.
“Melalui karya ini, saya berusaha menerjemahkan nilai-nilai sosial dan struktur kekerabatan masyarakat Simalungun ke dalam gerak tubuh yang kontemporer tanpa meninggalkan esensi tradisi,” ujarnya.
Gerak tari yang berakar pada filosofi Tolu Sahundulan Lima Saodoran itu memvisualisasikan perjalanan hidup manusia sejak dalam kandungan hingga menuju keabadian. Pertunjukan juga menggambarkan dinamika hubungan antara Tondong, Sanina, dan Boru yang saling menguatkan dalam balutan kain-kain sakral.
Karya tersebut menegaskan bahwa setiap helai Hiou bukan sekadar pakaian adat, melainkan simbol doa dan ikatan kekerabatan yang menyertai setiap putaran kehidupan atau Roda ni Goluh. Sebuah penghormatan terhadap tradisi yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
“Karya ini merupakan upaya membawa narasi lokal dari tanah kelahiran saya ke ruang kreatif yang lebih luas. ‘M.A.R.T.O.L.U Sa Odoran’ berbicara tentang harmoni, bagaimana kita tetap berjalan seiring meski memiliki kedudukan yang berbeda,” ungkapnya.
Desy menjelaskan, proses kreatif karya tersebut berlangsung cukup panjang, dimulai sejak Desember 2025 melalui tahapan riset, pengumpulan data, produksi karya, penayangan, hingga seminar dan lokakarya yang berlangsung pada 2026.
Proyek seni ini juga melibatkan kolaborasi lintas budaya dengan sejumlah seniman dan akademisi nasional, di antaranya Russel Akbar Fauzi dari Sumatera Barat, Tifan Muhammad Amirulloh dari Jawa Barat, Adek Cerah Kurnia Azis dari Medan, mahasiswa Pendidikan Tari Universitas Negeri Medan (Unimed), serta jaringan seniman lokal Kota Medan.






















